Pasangan Muda

Pasangan Muda
({})


__ADS_3

Sebetulnya Rya dan Boy sudah tidak mempermasalahkan tentang apa yang Vano lakukan terhadap hubungan mereka sebelumnya, yang ada mereka bersyukur dengan apa yang sudah mereka lalui berdua sampai di titik ini. Begitu banyak hikmah yang mereka petik, begitu banyak pelajaran yang mendewasakan mereka atas perjalanan bahtera rumah tangga itu.


Boy yang selalu marah dan berapi-api, kini lebih santai tenang dan dewasa dalam menyikapi masalah. Boy yang masih bergulat dengan egonya yang sangat tinggi kini sudah melunak dan lebih menonjolkan kasih sayang dari hari ke hari. Boy mengerti arti dari perjuangan dan memimpin sebuah keluarga kecil sekarang.


Sedangkan Rya.. Rya yang sudah harus menikah dan melahirkan di usia muda, menjadi istri sekaligus ibu saat teman sebayanya masih asik berkeliling dunia. Menikah dengan arti dan pemahaman yang mengalir tanpa ilmu sebelumnya. Rya yang harus merawat suami dan anaknya, padahal Rya yang merasa jiwanya dirawat oleh kedua lelakinya itu. Rya akhirnya merasakan apa itu namanya cinta tanpa syarat, sebuah kasih sayang dan ketulusan yang memang sangat ia dambakan.


Mereka melalui ujian hidup di usia yang sangat belia, di saat usia mereka seharusnya belum melalui itu semua. Disaat pasangan muda yang saling egois, labil, dan ingin menang sendiri. Selalu saling menyalahkan dan menuntut bukannya menerima dan saling melengkapi.


Mungkin benar tentang istilah yang mengatakan "Tidak ada satupun biduk rumah tangga yang mulus, selalu saja ada cobaan dan rintangan didalamnya.." Dan betul, mungkin inilah rintangan yang harus Rya dan Boy lalui. Merangkak, hingga berdiri dan akhirnya bisa berjalan. Semua tidak akan terjadi jika keduanya tidak saling menerima dan menguatkan.


*


z


z


*


Vano sedang mencoba menebus segala kesalahannya terhadap Rya dan Boy. Vano berencana untuk memperbaiki apa yang sudah ia hancurkan. Vano melakukan relasi bisnis dengan Atmadja group dan melakukan investasi besar-besaran dengan persentase saham yang sangat menguntungkan pihak Atmadja. Dengan kekuasaan sang ayah yang juga seorang pengusaha terkemuka, Vano dengan sangat mudah melakukan itu semua.


Vano juga ingin melakukan hal itu terhadap kafe kecil milik Boy, namun lagi-lagi Boy menolak dengan dalih ia ingin segala yang dimilikinya adalah hasil jerih payah dirinya sendiri.


"Lo gak usah berlebihan Van, yang lo lakuin udah lebih dari cukup.. lagian gue sama Rya udah maafin dan lupain kejadian itu.." ujar Boy saat Vano masih dengan kekeuh ingin membantu Boy agar usahanya menjadi lebih besar.


"Gue masih ngerasa bersalah, Boy.. Apa yang gue lakuin itu keterlaluan banget.." ucap Vano.


"Rasa bersalah lo itu gak beralasan, orang gue sama Rya udah gak nyalahin lo.. yang penting lo berubah jadi lebih baik dan gak ngelakuin hal yang sama di kemudian hari.." ucap Boy sambil menepuk bahu Vano.


"Asli gue malu, Boy.. Sama lo.. sama Rya.. lo segampang itu maafin gue.." ujar Vano lirih.


"Udahlah, gak usah drama.. pokoknya everything's okay.." ucap Boy. "Yang ada gue mau bilang makasih juga, karena kelakuan lo itu gue jadi gini sekarang.." imbuhnya.


"Maksud lo?" tanya Vano.

__ADS_1


"Lo udah berhasil bikin gue jatoh dan bikin gue jadi kayak gini.. berjuang dan paham arti kehidupan.." ujar Boy.


"Gue gak ngerti.." ujar Vano sambil mengerutkan dahi bertanya-tanya.


"Udah, mending sana temuin cewek lo.. udah nunggu noh daritadi.." ujar Boy sambil melirik Dine yang sedang berbincang dengan Rya dan juga Barel di salah satu meja kafe.


Lalu kedua pria itu berjalan menghampiri wanitanya yang sedang mengobrol. Boy yang sangat membenci Vano kini sudah menganggapnya sebagai teman. Begitu juga Vano, Vano yang sangat membenci Boy kini harus mengacungkan kedua jempol karna salut. Vano malah menjadikan Boy panutan dan berniat akan mengikuti jejaknya untuk menikah muda dan jadi pengusaha meskipun kecil-kecilan.


"Hallo jagoan Ayah, sini ayah gendong.." ujar Boy sambil mengambil Barel dari pangkuan Rya.


"Hebat ya cetakan lo, asli memperbaiki keturunan banget.." celetuk Dine sambil tersenyum.


"Maksudnya apanih?" tanya Boy.


"Anak lo cakep.. beda banget sama bokapnya." ujar Dine lagi.


"Kan emaknye cakep, ya gak?" timpal Vano.


Sepersekian detik ketiga orang itu melirik ke arah Vano.


"Nggak dong, ayah Barel ganteng kok.." ucap Rya sambil tersenyum.


"Ih Bundanya Barel genit, ada maunya nih.." ucap Boy sambil tertawa kecil menggoda Rya.


"Ih apasih, Hon. Banyak orang jangan ngelantur!" sahut Rya sambil mencubit Boy pelan.


"Acieeee, ekhem.." ucap Vano dan Dine menimpali kekonyolan pasangan muda dihadapannya.


"Bahagia banget ya kayaknya mereka.." Bisik Dine kepada Vano sambil tersenyum ke arah Rya dan Boy yang masih bercanda dengan kekonyolan keduanya.


"Iya, akujuga salut banget.. Boy pekerja keras dan mau usaha, Rya nya sabar dan dukung terus.. Mereka saling melengkapi banget.. Gak kebayang yaa perjalanan mereka gimana sampe dititik ini.." bisik Vano membalas Dine.


"Gak nyangka sih, Rya yang notabene preman disekolah sekarang jadi istri dan jadi ibu, dan dia berhasil melakukan perannya.." ucap Dine kagum terhadap sahabatnya itu.

__ADS_1


"Padahal dia dikeluarganya tuh asing banget, bokap nyokapnya dingin parah kayak es.. tapi kok dia bisa ya.." imbuh Dine.


"U must try.." ucap Vano dan seketika Dine langsung melirik ke arahnya.


"Maksudnya?" tanya Dine.


"Aku mau nikah muda kayak mereka.." ujar Vano denhan lantang.


"Wh-what?! ka-kamu serius beb?" tanya Dine heran.


"Limarius! nanti malem aku mau ajak kamu kerumah, aku mau kenalin kamu ke ayah ibuku.." ujar Vano lagi.


"Aaaaa sayaaaang.." ucap Dine sambil merangkul dan klepek-klepek riweuh.. "Tapi kuliah aku?" imbuh Dine yang seketika berubah ekspresi.


"Kita kelarin dulu, tapi sambil nunggu itu aku mau kamu di stempel biar gak diceng in orang.." ujar Vano sambil mengeluarkan sebuah kotak warna merah berbentuk hati. Vano kemudian membukanya dan terlihatlah sebuah cincin yang simple dan sangat elegan yang langsung membuat Dine refleks loncat-loncat kegirangan.


"Sayang iiih.." ucap Dine sambil melirik cincin itu. Meskipun cara Vano menyampaikan tidak se-romantis film-film dan novel-novel tapi Dine tetap merasa terharu dengan sikaf Vano terhadapnya. Baginya Vano sangat so sweet hari ini.


"Mau gak?" tanya Vano.


"Ya maulah.." jawab Dine.


Detik selanjutnya Vano melingkarkan cincin itu dijari manis Dine lalu kemudian mengecup punggung tangan Dine. Dine semakin dibuat terbang melayang saat itu, ini kali pertama dirinya diperlakukan semanis itu oleh pria yang hampir satu tahun dipacarinya.


"Aciee ada acara apanih?" tanya Boy yang menyadari kegiatan Vano yang melingkarkan cincin.


"Beb aku mau jadi Mamah muda juga.." ujar Dine sambil memamerkan cincin ditangannya kepada Rya.


"Ini serius?" tanya Rya heran.


Dan pertanyaan itu dijawab oleh anggukan Vano dan Dine yang masih senyum-senyum dan merangkul lengan Vano dengan perasaan sungguh senang.


Sementara Boy dan Rya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Gak tau aja nih bocah kawin muda tuh gimana.. (Boy&Rya)


__ADS_2