Pasangan Muda

Pasangan Muda
Labil


__ADS_3

Rya mengikuti Boy ke kamar dan seperti biasa Boy sudah dalam posisinya meringkuk membelakangi tempat tidur Rya dengan memluk sebuah guling.


Rya yang sudah sangat merasa kesal langsung menghampiri dan mendudukkan dirinya dengan sedikit keras.


"Bangun aku mau ngomong! Aku tahu kamu belum tidur!!" ucap Rya sambil menatap ke arah punggung Boy.


namun lagi-lagi Boy tidak bergeming, ia masih mematung dan tidak bergerak sama sekali.


Rya menarik nafasnya perlahan. "Boy kalau kamu kayak gini terus mending aku pulang aja ke rumah Papa! Aku udah capek ya ngadepin sikap kamu yang makin lama makin kaya anak kecil! ucap Rya sambil emosi.


dan perkataan itu kali ini berhasil membuat Boy bangun dari tidurnya. Boy duduk dan menatap ke arah Rya. "maksudnya Apa kamu mau pulang ke rumah Papa?"


"kita tuh tinggal di sini di rumah yang lumayan gede di sini cuma ada aku sama kamu! sementara setiap kita berantem kita bakalan saling diem-dieman. Bahkan saking gedenya rasa ego dan gengsi kamu, kamu sampai nggak peduli sama sekali ataupun hawatir sama aku Meskipun aku dalam bahaya! bahkan kamu juga seolah lupa bahwa aku tuh lagi ngandung anak kamu! dibalik Ego kamu yang gede ada dua nyawa yang kamu abaikan Boy!" jelas Ria dengan sangat panjang lebar dan bicara tanpa jeda khas para emak-emak.


"kamu tahu sendiri kan dari dulu aku nggak suka sama si badjingan tengik itu. Harusnya kamu juga bisa menempatkan diri dong! tahu mana yang suami suka sama yang suami nggak suka!" jawab Boy se-santai itu.


"hahaha." Rya menarik ujung bibir kirinya dan berdecak semakin kesal 😏 "Gila ya lo! cuma karena nama Vano disebutkan? marah lho gak logis banget!" ucap Rya


"Aku nggak suka sama dia! kamu tahu sendiri kan dia itu ngejar-ngejar kamu dari dulu! dia tuh suka sama kamu!" ucap Boy merasa dirinya paling benar.


"Soal suka atau gak suka itu kan urusan dia, yang penting akunya nggak suka sama dia! Lagian Kenapa sih? Bukan aku kok yang bahas!"

__ADS_1


Boy tidak menjawab pertanyaan itu dan malah mengedarkan pandanganya ke arah lain sambil melipatkan bibirnya.


"Udahlah sekarang mending aku pulang aja ke rumah Papa. Seenggaknya kalau aku disana ada yang ngelindungin aku sama calon bayi aku." Tegas Rya yang memecah keheningan sesaat itu.


"Aku gak ngizinin!" Ucap Boy dengan nada sedikit tinggi dan kembali menatap ke arah Rya.


"buat apa aku disini? aku disini kamu juga gak nganggap aku Ada kan? Jadi mendingan aku pergi ke rumah Papa , biar aku juga gak ngerasa sakit hati karena merasa diabaikan sama kamu!" jawab Rya.


"Aku bukan mengabaikan kamu, Rya. Aku cuma nggak suka sama Vano dan aku nggak mau kalau Nama itu ke denger di kuping aku. Aku takut dia masih berusaha rebut kamu dari aku!" ujar Boy


"kalau aku mau egois aku juga pasti bakal masalahin kamu sama Clara. jangan lupa itu!" ucap Rya sambil melipat tangan nya.


"udah aku males! aku mau pulang! kamu mau nganterin aku atau aku naik taksi aja?"


"jangan! aku bilang aku gak ngizinin! Oke, kalau emang aku salah aku minta maaf.."


"Boy Sebenarnya kamu tuh sayang enggak sih sama aku? ucap Rya sambil menahan amarah dan juga rasa sedih.


"ya sayang lah, Kalau enggak sayang aku gak mungkin nikahin kamu!" jawab Boy masih se-santai kaum rebahan.


"dulu sebelum nikah, kita tuh nggak pacaran dan dulu sikap kamu itu manis banget. Aku kira kita bakal bisa pacaran habis nikah.. ternyata aku salah, justru setelah menikah kamu malah jadi orang yang gak aku kenal!" ucap Ria lirih dan di akhir kata dia merendahkan nada nya bahkan hampir saja tidak terdengar.

__ADS_1


Boy memejamkan matanya dan mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh Rya. ia merasa sangat bersalah karena memang bersikap kekanak-kanakan padahal dirinya sudah akan memiliki seorang anak .


Boy kemudian mendekat kearah Rya dan meraih kedua tangan Rya. Boy kemudian menetap dalam lurus ke arah mata Rya.


"Maafin aku, Sayang. aku udah keterlaluan banget maafin aku udah bikin kamu sedih. Sumpah demi apapun Aku sayang kalian!" ucap Boy sambil merangkul bahu Rya.


"Aku tuh ngerasa sedih banget tahu!" ucap Ria sambil berkaca-kaca.


"Iya iya aku minta maaf. Jangan pernah bosan buat ngingetin aku ya, Jangan pernah capek buat ngadepin aku. karena Cuma kamu yang bisa membuat aku sadar. Jangan pernah tinggalin aku dan Aku janji aku bakalan buang ego aku!"


Kemudian mereka pun saling berpelukan dan saling memaafkan. kedua Insan labil itu kembali berbaikan setelah melewati pertengkaran yang nggak jelas titiknya .


.


.


.


**Holla gaes, jangan lupa like dan komenya ya. Jangan lupa juga bantu pantau satu Novel lagi karya author yang judulnya "Wanita pekerja malam."


Maaciw..❤️❤️❤️**

__ADS_1


__ADS_2