
Rya sudah di pindahkan dari ruang Instalasi ke ruang rawat inap. Rya sudah membuka matanya dan sedang di suapi bubur oleh Lita.
"Sayang.. makan yang banyak yaa..biar cepet sehat lagi.." ucap Boy sambil mengelus kepala Rya.
Tapi Rya hanya diam tidak menjawab, ia masih kesal dengan suaminya itu.
Kemudian dokter kandungan dan perawat datang untuk memeriksa Rya.
"Selamat pagi, Tuan dan nyonya." Sapa dokter itu.
"Pagi, dok." ketiganya menjawab serentak.
"Mari nona Rya saya periksa dulu." ucap Dokter itu seraya membawa alat tes detak jantung dan ultrasonigrafi, doktee dan perawat itu lantas mulai melakukan tugasnya.
Deg deg.. deg deg.. deg deg..
Terdengar suara detak jantung saat dokter menempelkan alat itu di atas perut Rya yang sudah dilumuri gel, membuat semua orang disana tersenyum senang.
"Bayi nya sehat, detak jantung dan pertumbuhanya normal. Nona hanya perlu beristirahat penuh.." ujar dokter itu sambil tersenyum "Apa anda tuan Atmadja?" tanya dokter itu sambil menatap Boy.
"Ia saya dok."
kreeeekk!! Wira dan Rena sudah sampai di rumah sakit dan langsung masuk ke ruangan Rya.
"Eh.. Maaf.. apa kami mengganggu?" ujar Rena saat mendapati dokter tengah memeriksa Rya. Dan semua mata langsung tertuju pada pintu itu.
"Mereka orang tua saya, dok." seru Boy
"Oh silahkan masuk.."
Suasana hening seketika saat dokter mulai membereskan alat-alat nya.
"Usia kehamilan Nona Rya sudah memasuki minggu ke 26 artinya sudah menginjak enam bulan. Nona Rya tidak boleh stress dan banyak pikiran. Keluhan nona Rya jelas menandakan bahwa dia terlalu berfikir keras bahkan sampai sekarang mood nya masih belum baik, bukan begitu nona Rya?"
Rya hanya terdiam dan Semua orang menatap doker kemudian Rya dan Boy.
"Ini resep obatnya, silahkan tukar di apotik, jangan bosan meminum obat dan vitamin yaa nona.. Semoga lekas sembuh, permisi.."
__ADS_1
****
Setelah beberapa hari dirawat akhirnya Rya sudah diperbolehkan pulang, Chandra nampak hadir ikut menjemput Rya. Mereka sama-sama pulang menuju kediaman Rya dan Boy.
Sudah sampai dirumah, mereka duduk bersama di ruang keluarga.
"Maaf sebelumnya, apa kalian sedang ada masalah? Boy Rya?" tanya Chandra menatap keduanya bergantian.
"Tidak paa, kami baik-baik saja." jawab Boy sambil menatap Chandra, kemudian Rya.
"Aku pengen istirahat.. aku ke atas dulu yaa.." ucap Rya yang masih malas melihat Boy.
"Sebentar Rya, ada yang ingin ibu bicarakan juga." ucap Lita.
"Apalagi bu? masalah aku sama Boy biar kami yang menyelesaikan." ujar Rya yang sudah jengah.
"Bagus kalau begitu.." ujar Lita.. "Begini...Mmmhh.. Ibu mau pulang dulu ke kampung. Ibu dapet kabar kalo paman mu sakit.."
"Kekampung? Aku ikut!" ucap Rya.
"Ryaaaaaa!" Boy mendelik ke arah Rya.
"Anton, mas. Dia terkena stroke, istrinya ninggalin dia jadi terpaksa aku harus pulang dulu dan melihat keaadaan disana." jawab Lita menuturkan bahwa adiknya sedang sakit.
"Aku antar yaaa?" Chandra menawarkan diri.
"Gak perlu mas.. Apa kata orang kampung nanti." ucap Lita sungkan.
"Bilang saja kalo kita sudah rujuk, hehe."
"Bu aku pengen ikut.." Rya memeluk lengan Lita.
"Kamu belum sehat Rya, perjalanan ke kampung ibu jauh. Ingat kata dokter kalo kamu gak boleh kecapean. Mending Nanti saja kalo kamu sudah melahirkan, sekalian ibu pamer cucu sama sodara-sodara ibu hehe." ujar Lita.
Kemudian Lita mulai mengemasi barang-barangnya kemudian berpamitan. Lita mewanti-wanti Boy agar selalu menjaga Rya, Lita juga berpesan agar mereka selalu rukun dan bahagia. Akhirnya lita pulang kampung di antar oleh Chandra, mantan suaminya.
Rya memeluk Lita sebelum akhirnya Lita benar-benar hilang dari pandanganya. Rya mengusap perut dan menitikan air mata sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Ayo masuk!"
Boy hendak meraih tangan Rya namun Rya lebih dulu membalikan badan dan berjalan masuk menuju kamar.
Rya langsung merebahkan tubuhnya dan masuk kedalam selimut.
"Sayaaaaaang.." Boy duduk di samping Rya yang membelakanginya.
"Aku tau kamu udah salah paham sama aku, aku mau jelasin semuanya." ujar Boy, menarik selimut yang menutupi tubuh Rya.
Rya hanya diam dan menutup kedua kupingnya, Ia tidak mau mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Boy.
Boy kemudian menarik bahu Rya agar berbalik menghadapnya. "Mau sampe kapan kita bermasalah kalo masalah nya gak diselesein hah?"
"Aaawwww.." Rya beranjak kemudian duduk di samping Boy.
"Kamu emang lagi hamil, sensitif. Aku dituntut buat ngertiin kamu, jaga perasaan kamu tapi kamu juga gak mikirin perasaan aku!" Boy mendesah kesal.
"Buat apa mikirin kamu, yang ada aku sakit lagi kaya kemarin!" ucap Rya yang sama-sama kesal.
"Clara? soal pesan Clara kan? Aku bersumpah demi apapun aku gak ada hubungan apapun sama dia!" ujar Boy menjelaskan.
"Gak usah ngelak lagi! kamu selalu pulang telat artinya kamu ke tempat Clara kan?!"
"Gue jadi manager sekarang!" Boy meninggikan suara dan membentak Rya
"Pantesan! mentang-mentang naik pangkat jadi seenaknya kan!"
"Seenaknya apa hah? gue jadi manager gara-gara gaji gue jadi karyawan gak bisa cukupin kebutuhan elu dan wujudin keinginan elu!" Boy berdiri dan menaruh tangan dipinggang sambil mendengus kesal. "Gue sama Clara ga ada apa-apa!! Gue udah coba jelasin baik-baik ya.. tapi kayanya gak mempan sama sifat lu yang keras kepala itu!!"
"Boy!!"
"Apa hah?"
Mereka terus berargumen saling membenarkan diri masing-masing hingga gaya bahasa mereka membuat kelembutan suami istri sedikit memudar.
Praaakkk!! (suara pecahan kaca)
__ADS_1
Sejenak Boy dan Rya terdiam mendengar bunyi pecahan kaca yang cukup keras, kemudian Boy pergi keluar kamar untuk memeriksanya.
Langkah Boy memelan saat dia mendapati ternyata kaca rumahnya yang pecah, Ia juga melihat sebuah batu yang dibungkus kain merah di antara pecahan-pecahan kaca.