
Boy belum bisa menjawab teka-teki apa yang sebenarnya Rya sembunyikan. Istrinya itu terlihat tidak ceria seperti biasanya, dengan badan yang terlihat sedikit kurus dan mata yang selalu kedapatan merah berair. Namun sebagai manapun Boy mendesak agar wanita itu menceritakan ada apa sebenarnya, Rya pasti selalu menjawab tidak ada apa-apa, aku baik-baik aja.
Untuk itu kali ini Boy berinisiatif untuk mencari tahu sendiri, dengan sebuah ide yang sudah ada di kepalanya.
"Ayah pamit ya bun.." Boy mengulurkan tangannya untuk di kecup oleh Rya.
Cupp!! Rya menerima tangan itu dan mengecupnya. "Yaudah yuk bunda anterin sampe depan.."
"Gak usah sayang, kamu kelihatannya lagi lemes gitu.. istirahat aja ya.." Boy meraih pipi Rya dan mengelusnya sambil menatap juga tersenyum manis.
Uwwwhh.. Melihat keadaan istrinya itu Boy jadi flashback masa lalu, saat Rya masih sering menangis dan banyak dihantam oleh masalah. Suasana hatinya tiba-tiba berasa ngilu.
"Yaudah maaf ya bunda gak nganter sampai depan, semalem bunda gak bisa tidur jadi sekarang masih ngantuk hehe.."
"Yaudah bunda istirahat ya, ayah berangkat dulu.." Boy kemudian mengecup kening Rya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari kamar itu.
Sebenarnya Boy tidak akan pergi bekerja, rencananya hari ini Boy ingin mengetahui apa yang sedang Rya sembunyikan, dan apa yang terjadi dirumah itu sehari-harinya dengan cara ya mungkin bisa dibilang spy di rumah sendiri. Boy sadar dirinya belakangan ini terlalu sibuk.
Pernah sesekali Boy menginterogasi Bu Nani, tapi dirinya tidak menerima jawaban apapun.
__ADS_1
*
"Bu,, Rya kenapa yaa belakangan ini kelihatannya sedih terus?" tanya Boy kepada Bu Nani yang sehari-hari ada dirumah. Ingin tahu dan sekedar mencari clue.
"Nggak tahu atuh a, neng Rya kan jarang curhat orangnya." Bu nani sebenarnya tahu, itu pasti karena perang antara menantu dan mertua yang sering ia dengar dan saksikan sendiri. Tapi apalah daya, Bu Nani sadar bahwa dirinya hanya seorang pembantu di rumah itu, dia tidak berani ikut campur tentang masalah keluarga majikannya.
"Iya sih.. tapi kan mungkin pernah dengar atau liat Rya ngapain gitu?"
"Ibu mah nggak tahu apa-apa a, coba aja atuh aa selidikin sendiri." Bu nani ingin Boy tahu keadaan di rumah itu, tapi bukan dari mulutnya, Bu Nani ingin Boy melihatnya sendiri. Untuk itu Bu Nani memberikan masukan yang mengarah agar Boy bisa mengetahuinya.
"Selidikin? maksutnya?" Boy tidak mengerti.
"Maksutnya gimana sih bu? aku belum ngerti?" Boy menggaruk tengkuknya sendiri.
"Jadi gini..........."
*
Boy lanjut berakting dengan berpamitan kepada Barel dan juga Mama Rena, tidak lupa berkoordinasi dengan supir yang akan berangkat menggunakan mobil Boy. Agar seolah-olah Boy terlihat benar-benar pergi dari rumah.
__ADS_1
Detik selanjutnya lelaki itu berdiam diri di sebuah kamar yang dikhususkan untuk tamu yang menginap. Menunggu apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya sendiri.
Satu jam..
Dua jam..
Tiga jam..
Belum juga terjadi apa-apa. Boy bahkan tidak mendengar apapun.
"Duh ngapain sih gue?" ujarnya saat mulai bosan menunggu. Lalu detik selanjutnya Boy memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya, namun saat tangannya akan menarik handle pintu terdengar suara-suara yang sepertinya suara mama Rena, ibunya.
"Mama?" Boy terdiam, mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar itu. Mencoba menajamkan pendengaran untuk menangkap lebih banyak lagi suara itu.
Astagaaaa!!!
*
Dikit-dikit ya gaes, lagi kurang fit.. 😉
__ADS_1
Jangan lupa jempol dan komennya!!