
Boy tersenyum mendapat telpon dari Rya, akhirnya dia tau keberadaan wanita itu, Padahal sejak tadi ia terus memukul stir sambil terus mendengus kesal karna kehilangan jejak Rya lagi.
Boy mempercepat mobil nya, ia bergegas memenuhi keinginan Rya dengan semangat. Setelah mendapat apa yang Rya inginkan, Boy langsung melesat menuju hotel dimana Rya berada.
Boy sudah sampai di lobby kemudian menuju receptionis dan menayakan kamar atas nama Rya, salah satu pegawai memberi tahu bahkan mengantarnya sampai depan kamar. Boy langsung menuju kamar Rya, ia mengetuk pintu itu berulang ulang.
Tok..Tok..Tok..
"Ryaaa.."
Tidak ada sahutan..
Tok..Tok..Tok..
"Ryaa ini guee.."
Pintu kamar tidak juga terbuka, lalu tangan Boy mulai menyentuh handle pintu itu dan ternyata pintu yang sejak radi diketuk itu tidak terkunci. Membuat Boy langsung saja masuk dan menyusuri tempat itu.
"Ryaaaa.. Ryaaa.." Boy terus berjalan sambil memanggil nama Rya, namun tetap tidak ada sahutan.
Lalu tatapan Boy menemukan Rya yang sedang tertidur di ranjang. Boy hanya tersenyum, ia menaruh bawaanya lalu mengahmpiri Rya.
Boy berdiri di tepi ranjang, ia tersenyum dan menatap Rya kemudian ikut naik dan berbaring di samping Rya.
Boy terus menatap setiap inchi wajah Rya yang sedang terpejam, kemudian mata nya berhenti di bibir cherry milik Rya. Jari nya langsung menyentuh bibir merah mungil dan berisi itu. Boy menyapu nya perlahan dan menekan nya lembut sehingga mulut Rya sedikit terbuka.
Boy berdecak kagum melihat pemandangan ini, Rya sangat cantik dan manis sekali. Ibu jari dan telunjuknya terus memainkan bibir Rya.
Ia tak kuasa menahan diri lagi, langsung saja Boy mendaratkan bibirnya di bibir Rya. Ia menghisap dan ********** lembut hingga membuat Rya terbangun.
Rya membuka mata dan mendapati bibirnya sedang dicumbu, ia menatap Boy dengan mata kesadaran yang belum terkumpul. Kemudian Boy naik ke atas tubuh Rya dan mencumbu nya lebih panas lagi.
"Sorry ganggu tidur elu.. mwach.." Ucap Boy sambil mengecup bibir Rya.
Rya hanya tersenyum dan menatap boy.
"Bangun dulu, gue udah bawain makanan lu.." imbuh Boy sambil menarik diri dari atas tubuh Rya.
Rya mengangguk kemudian mereka beranjak dari tempat tidur menuju sofa yang ada disana.
"Sorry yaa ngerepotin.." Ucap Rya sambil menatap Boy yang sibuk mengeluarkan makanan yang dibelinya.
"It's okay, yuk makan dulu.. lu pasti laper.." Jawab Boy sambil mengusap puncuk kepala Rya.
Mereka makan bersama sambil sesekali saling menatap. Hasrat mereka di penuhi birahi yang memuncak, mereka menatap seakan tak sabar ingin saling melahap.
Setelah selesai makan Rya membuka pintu balcon hotel kemudian mengambil rokok nya. Dia kembali duduk di depan Boy..
"Ah, kenyang banget, thx yaaa.." Ucap Rya sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
"Laper apa kelaperan buuuk, makan kaya org gila gitu. Belum makan dari esdeh ya?" ucap Boy sambil geleng-geleng kepala.
"Apasih.. perasaan gue makan biasa aja.." Ucap Rya tanpa bersalah sambil menyulut rokok.
"Coba liat ini.." Ujar Boy sambil menunjuk sisa bekas makanan mereka.
Rya yang menyadari hanya tertawa.. hahaha.. ternyata dia menghabiskan banyak sekali makanan sampai porsi Boy pun ia sikat. 😆
Boy menyulut rokok nya, ia menghisap dan menghembus kan asap di mulut dan hidungnya bersamaan.
Setelah beberapa saat..
"Lu abis dari mana sama Vano?" Tanya Boy sambil menatap Rya.
"Vano? hmm.. gue ketemu dijalan.." jawab Rya sambil mematikan Rokoknya dan menyulut rokok yang baru.
"Ciyuuuus?" Tanya Boy sambil mengambil botol anggur dan gelas.
Rya mengangguk dan menghisap rokoknya.
"Nih.." Boy menyodorkan gelas berisi anggur..
"Thank's.." Rya mengambil dan langsung menenggak nya habis. "Lagi!" ucap Rya, dan Boy hanya menuruti.
glek.. glek.. glek.. Rya meminum anggur itu seperti minum air putih.
"Lagi!" ucap Rya.
"Gue bilang lagi!"
Boy merasa heran, ada apa dengan Rya? sepertinyaa ada sesuatu yg aneh. Boy kemudian menuruti keinginan Rya hingga berulang-ulang. ia terus mengisi gelas Rya yg selalu kosong dalam sekejap.
"Stop Rya! ini uda kebanyakan." ucap Boy saat botol anggur ke tiga sudah habis.
"Bodo amat!! gue gak peduli! gue pengen fly!! terbang setinggi-tingginya! wohooooooo!" Rya tertawa dan berteriak seperti orang gila.
Boy hanya menatap nya sambil mencoba memahami situasi.
Lu knp Rya? kayak nya lu berantakan banget malem ini.. Gumam Boy.
"Rya.." panggil Boy.
"Heeeemm.." Rya menoleh ke arah Boy.
"Are u okay, bodoh?" tanya Boy sambil mengusap rambut Rya.
"Haha!! tayi banget sih lo! payah!! masa iya gue begini masi bilang okay?" nada itu terdengar sarkas sekali.
Boy merasa semakin aneh terhadap Rya. apa yang sebenarnya Rya ucapkan. "Kamu kenapa sayang?" tanya Boy, berbicara lembut.
__ADS_1
"Gue? gue knp haha. gue berantakan boy! ternyata selama ini gue bukan orang asing di keluarga gue, gue cuma benalu! hahaha fvck!" Satu bulir air mata mencelos begitu saja.
"Bentar.. bentar.. bentar, maksud lu apa?" Boy meralat lagi, maksudnya apa? dia sungguh tidak mengerti.
"Gue bukan anak dari mama Monic, Boy. Anj*ing kan? pantesan aja selama ini gue ngerasa keluarga gue hambar, keluarga gue beda dari yg lain dan gue yg selalu mereka bedain. Gue gak tau siapa gue sebenernya, yang jelas gue cuma parasit." Rya terus berbicara tanpa rem dan dia mulai meneteskan air mata di balik imajinasi yang sedang membuainya.
"Maksud lu apa? jangan ngaco deh." Boy kaget dan tidak percaya sama sekali. Ia mengira Rya hanya ngaco karena pengaruh alkohol.
"Harus gue ulangin lagi? harus gue jelasin lagi?" Air mata Rya terus berderai, kemudian dia menyekanya lumayan kasar. "Shit!!! kenapa gue nangis lagi! pergi anji*ng! gue gak mau sedih lagi! gue uda bosen hidup sedih-sedihan mulu!" Namun air mata itu bukannya berhenti, justru malah mengalir semakin deras.
Boy langsung memeluk Rya, membawa wanita itu kedalam rengkuhannya. Ia kira Rya hanya meracau ngaco, tapi mata itu benar-benar menunjukan luka yang Rya rasakan begitu dalam. Rya membenamkan wajah nya dipelukan Boy dan terus menangis. "Terus sayang, keluarin semuanya.. luapin emosi lu"
Rya semakin erat memeluk boy dan tangisanya semakin pecah. Boy balas memeluk Rya dan memejamkan matanya, ia mencoba merasakan apa yang Rya rasa, namun tetap saja itu semua tidak bisa karna dia tidak mengalaminya.
Boy sangat sedih melihat keadaan Rya, entah apa yg harus Boy lakukan selain memeluk dan mengelusnya dengan lembut. Padahal sebelumnya ia merasa sangat kesal karna Rya menghilang, lalu ia mencarinya kesana kemari dengan rasa khawatir namun kemudian menemukannya wanita itu sedang bersama pria lain, yaitu Vano.
Kemudian tangis Rya mulai mereda, Rya mengangkat kepala nya dan menatap boy.
Masih dalam posisi berpelukan mereka saling menatap, Boy mengusap air mata Rya dengan ibu jarinya kemudian mengambil tissue untuk menyeka ingus di hidung Rya.
"Boy.." panggil Rya dengan sangat lirih.
"Iya.." Boy menatap lekat wajah Rya.
"Hati gue sakit, sakiiiiit banget." Rya memejamkan mata nya lagi dan sebulir air mata lagi-lagi jatuh membasahi wajahnya.
"ini?" jawab Boy dengan menyentuh dada Rya.
Rya mengangguk pelan kemudian membuka matanya lagi. "kenapa dunia kejam banget ya? apa salah gue? kenapa bahagia gak pernah ada di pihak gue?" Rya sesenggukan dan berujar semakin lirih.
Boy menarik nafas nya.. "Sssssttt.. kasih hati lu sepenuhnya buat gue, gue janji bakal ngejaga hati lu dengan baik. gue gak akan biarin hati lu lecet sedikit pun.."
Rya menatap mata Boy dalam dan penuh perasaan. "Boy lu ada disana, dan cuma lu yg ada disana." Ucap Rya sambil menggenggam tangan Boy yg berada di dadanya.
"Lu harus kuat yaa, Lu harus bisa ngelewatin ini. tenang aja.. lu gak sendirian.. gue ada disini.. buat lu.. selalu buat lu.." jawab Boy sambil mengeratkan genggaman itu.
"Makasih.. makasih buat selalu ada buat gue.." Rya membenamkan wajahnya dan melingkarkna tanganya di pinggang Boy.
"Gue tau lu cewek tegar, lu cewek kuat. Meski bathin lu lg ancur banget gue yakin lu masi bisa berdiri.." Boy menarik nafas dan menjeda perkataanya. "Dunia emang kejam Rya, dunia ini sangat keras.. tapi lu jangan stuck disini, selalu ada cahaya di setiap kegelapan.." imbuhnya sambil mengelus rambut Rya.
Rya hanya mendengarkan kata-kata dari Boy, ia menyerap setiap kalimat yg Boy ucapkan. Ia berusaha menjadikannya sebagai power, baginya setiap kata bijak yang Boy ucapkan adalah sebuah motivasi.
"Yakin sama diri lu sendiri, cintai diri lu, sayangi diri lu, bersahabatlah dengan diri lu sendiri. Nanti.. Lu bakal nemuin jati diri dan kedamaian dalam diri lu sendiri. Lu bakalan lupa sama segala luka yang pernah menghantam elu." Boy selalu saja menguatkan Rya, ia yakin wanita yang ia cintai itu adalah wanita hebat dan tegar. Ia berjanji akan selalu ada untuk Rya, dalam situasi apapun. Ia bertekad untuk membahagiakan Rya, membuat wanita itu merasa hidup dan berharga.
Tentu saja berharga, baginya Rya sangat berharga dan lebih dari apaoun dalam hidupnya. Boy sangat mencintai Rya.. Sangat.
"Sekarang tutup mata lu.." ucap Boy sambil menangkup wajah Rya. "Rasain imajinasi itu lagi terbang jauh, jauuuuh banget. Buat mimpi setinggi dan seindah mungkin disana. Lu harus berani, lu gak boleh takut.. karna gue bakal nganterin elu menuju bahagia itu. Karena gue akan mewujudkan bahagia itu didunia nyata, seauai mimpi lu."
Cuuuup!!! Boy mengecup kening Rya cukup lama. Seolah mentransfer energi positif dari kasih sayangnya itu untuk Rya.
__ADS_1
Mengusapnya lembut hingga akhirnya wanita itu tertidur..