
Boy tidak menggubris pernyataan Rya yang masih terngiang ditelinganya. Ia semakin merengkuh selimut dan berbalik memunggungi Rya.
"Kayak anak kecil banget!" Ucap Rya sambil turun dari ranjang dan berlalu meninggalkan kamar bahkan Rya membanting pintu hingga menyebabkan suara dentuman yang cukup keras.
Sementara Boy tetap tak bergeming, entah apa yang ada dibenak nya sekarang yang jelas dia kesal karna mendengar nama Vano.
Rya turun dari kamarnya yang berada di lantai atas kemudian menuju dapur untuk mengambil minum sambil menggerutu. "Apa apaan sih diatuh! gak mikir-mikir! bisa-bisanya dia bilang gitu! ahh rese! makin lama malah kayak anak kecil. gak sadar apa bentar lagi dia mau jadi bapak!"
Setelah selesai minum Rya enggan untuk kembali ke kamarnya, ia merasa kesal sekali terhadap sikap dan sifat Boy. Kemudian Rya memutuskan untuk tidur di kamar tamu yang berada dilantai bawah.
Rya mengunci pintu kemudian langsung menuju kasur, setelah merebahkan tubuhnya beberapa saat Rya baru menyadari bahwa gorden nya belum ditutup.
Dengan malas dan sedikit kesusahan karna perutnya yang makin membesar, akhirnya Rya bangun lagi dari kasur kemudian menuju kaca yang hampir memenuhi dinding dengan hanya dilapisi kain putih tembus pandang itu.
Rya berjalan perlahan kemudian menarik ujung gorden ke tengah satu persatu. Namun sebelum benar-benar tertutup sempurna mata Rya menemukan seseorang yang terlihat mendekati rumahnya dengan cara mengendap-ngendap dan celingukan seperti maling.
Rya tidak bisa melihat wajah orang itu karna kepalanya tertutup oleh puncuk hoodie yang dipakainya.
Rya memperhatikan dengan seksama hingga akhirnya orang itu hilang dari pandanganya karna tertutup tembok tiang yang lumayan besar. "Ck! gak keliatan! siapa sih? atau.. jangan-jangan.. maling?"
__ADS_1
Rya jadi merasa takut sekarang, namun juga merasa gengsi jika harus kembali ke kamar dan meminta bantuan Boy. "Aaaahhh gimana ini?" ucap Rya sambil menggigit kuku.
Kemudian saat terlintas para pekerja dirumahnya, Dengan sigap Rya berinisiatif untuk pergi ke kamar bi Wati dan bi Sari yang terletak di belakang dapur.
Rya akhirnya membuka pintu yang tadi ia kunci. Tadinya ia berharap Boy akan turun dan mengetuk pintu sambil memaksa, memohon agar Rya membukanya.
Namun kenyataan tak sesuai harapanya, Boy tidak datang mencarinya bahkan mungkin saat ini Boy sedang mendengkur dan berwisata di alam mimpinya.
Dengan rasa takut dan kesal yang entah bagaimana menjadi keberanian untuk Rya, perlahan ia berjalan keluar kamar sambil membawa perut besarnya yang sudah hampir 7 bulan menempel ditubuhnya itu.
Sambil mengendap dan tengok kanan kiri mirip orang yang tadi ia lihat diluar, pelan namun pasti Rya menuju arah tujuanya yaitu kamar para Art nya.
Tok.. Tok..Tok..
"Bi buka pintunya.." Teriak Rya sambil sedikit menahanya agar tidak terlalu nyaring.
Tok.. Tok.. Tok..
"Bi.. buka bangun.. buka pintunya.." Rya tetap berusaha mengetuk dan memanggilnya tidak terlalu keras.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok..
Krekk!!
Rya menoleh ke arah pintu sebelah, terlihat Bi waty mengucek mata dan mengusap wajahnya.
"Mm Ada apa non? apa non perlu sesuatu." Tanya bi Waty sambil menahan mulutnya yang sangat ingin sekali menguap.
"Tolongin aku!" jawab Rya.
"Tolong apa non? enon laper?"
"Nggak! Bi..Tolong.. tadi aku liat ada orang mau masuk kerumah.. aku takut dia maling atau mungkin orang yang selama ini neror aku sama Boy." jawab Rya dengan mimik khawatir.
"Hah? terus tuan sekarang dimana?" tanya bi Waty heran.
"Dia tidur diatas, kita berantem dan aku mau tidur di kamar bawah! ah udah gak usah dibahas! gak usah minta tolong atau ngasih tau dia, aku males liat dia!"
Gulp!! bi Waty menelan saliva nya sambil mencerna apa yang Rya ucapkan dan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana tidak. Nyawa dan kesadaranya saja rasanya belum terkumpul sempurna.
__ADS_1