
Dua Bulan kemudian
Rya dan Boy sudah pindah ke rumah pemberian Wira, mereka memulai aktivitas seperti biasanya. Boy pergi ke kantor, bekerja sebagai karyawan di perusahaan Atmadja yang akan menjadi miliknya kelak.
Boy ingin benar-benar hidup dari keringatnya sendiri, Boy melarang Wira atau Chandra membantu finansial keluarga kecilnya.
Sementara Rya, dia hanya berdiam diri di rumah di temani sang Ibu dan dua asisten rumah tangga. Rya sedang menikmati masa masa kehamilanya yang memasuki minggu ke 16.
"Na na na naa.. 🎶 " Rya bernyanyi sambil memotong sayuran di dapur, ia akan memasak sup untuk suaminya di bantu oleh Bi sari pembantunya.
"Sedang apa kamu Rya..?" tanya ibu yang masuk kedapur.
"Ini bu, aku mau bikin sup buat Boy.." jawab Rya sambil tersenyum.
"Biar ibu yang teruskan sini.." Lita mengambil alih pisau ditangan Rya. "Sebentar lagi suamimu pulang dan kamu belum juga mandi.. Sana sana mandi.." ujar Lita.
"Hehe.. waktunya aja yang kecepetan, aku masak kan daritadi. Yaudah aku mandi dulu deh.." Rya melepas apron dan bergegas menuju kamarnya.
Setelah selesai mandi Rya mengenakan piyama hijau kesukaan nya, ia bersolek untuk menyambut suaminya, meskipun belum bisa dandan, yang terpenting dirinya rapih saat Boy pulang.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian Boy pulang, ia melonggrkan dasi dan menenteng tas kerja. Rya yang sejak tadi menunggu langsung menyambut nya.
"Honeeeeeeeeeey.." Rya berlari sambil merentakangkan tangannya, sebagai isyarat ingin berpelukan
Boy hanya tertawa dengan kebiasaan istri manjanya itu, kemudian dia merentangkan tangannya dan memeluk Rya. "Cup cup cup.." Boy mengecup kening dan pipi kanan kiri. "Sayangku udah cantik, wangi banget sih.." ujar Boy.
"Hmm tayang akuuuuu mwach mwach." Rya juga balik mengecup pipi Boy berulang-ulang.
Lita yang sudah mulai terbiasa menyaksikan pemandangan seperti itu, hanya menggeleng kan kepala dan tertwa kecil.
Rya mengecup punggung tangan Boy dan kemudian mereka berjalan bersamaan menuju kamar..
"Oh yaa? istri aku uda pinter masak yaa sekarang." Boy mengapit dagu Rya dan mendekatkan wajahnya namun jari Rya dengan cekatan mendarat di bibir Boy.
"Eeeiiitz... mandi dulu sanaaaa.." Rya tertawa menggoda.
"Dikit sayang.." Boy memanyun kan bibirnya kemudian Rya mengecup kilas.
Boy bergegas mandi dan Rya langsung sigap menyiapkan kopi juga baju ganti untuk Boy. Rya merasa senang dengan aktifitas barunya setelah menikah, ia merasakan perubahan drastis di hidupnya. Hari-harinya selalu di hiasi senyum dan tawa.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Boy langsung mengenakan pakaian yang Rya siapkan, kemudian duduk di sofa dan mulai menyeruput kopi buatan Rya. Rya berjalan mendekati Boy dan membawa sebuah sisir di tangannya. Rya berdiri di samping Boy, merapihkan rambut Boy yang masih setengah basah.
"Gimana tadi dikantor?" tanya Rya sambil menyisir rambut Boy.
"All is well, sayang.. Cuma lagi lumayan numpuk aja.." jawab Boy sambil menyeruput kopi lagi.
Boy melingkarkan tangan di pinggang Rya, meminta wanita itu untuk menberikan beberapa kecupan di wajah. Cap.. cip..cup.. Rya menjadi sangat manja dan manis sekarang.
"Duduk sayang.." Boy menarik tangan Rya dan Rya menuruti.
"Honey, besok jadwal cek kandungan.. kamu bisa anterkan?" tanya Rya sambil menatap Boy.
"Hmm besok ada rapat penting, sayang. Aku gak bisa ninggalin kantor.. Besok juga aku pasti pulang telat soalnya ada tender besar, jadi aku sedikit sibuk.. maaf yaa.. pergi sama ibu aja gapapa kan..?" ucap Boy sambil menatap Rya.
"Padahal besok ada tes detak jantung sama USG, lhooo... kandungan aku kan uda masuk 4 bulan." Rya bereaksi kecewa.
"Aku kan karyawan biasa, sayang.. bukan presdir.. jadi gak bisa seenaknya pergi dari kantor.. maaa aaaaaaaf banget." Boy mengecup kening Rya kemudian mengusap perut Rya. "Maaf ya sayang, besok papa gak bisa anter mama.." ujar Boy. Kemudian lelaki itu menempelkan telinga di perut Rya. "Tuh... dedek nya bilang gapapa.." ujar Boy sambil memasang wajah lucu dan sontak saja membuat Rya tertawa.
"Kamutuh ada-ada aja.." Rya menangkup wajah Boy dengan gemas.
__ADS_1