
"Papa sudah dengar semuanya, titik masalahnya cuma karna Rya minta liburan kan? honeymoon gitu?" Wira memulai pembicaraan antara ayah dan anak itu.
"Paa?" Boy berniat mencela omongan Wira.
"Bi wati sama Bi sari sudah cerita semuanya, mereka sering denger kalian berdebat jadi jangan mengelak lagi!!" Wira buru-buru bicara lagi.
Boy hanya diam karna memang dia takan bisa berbuat apapun jika Wira sedang marah.
"Apa susah nya Boy kamu turutin kemauan istri kamu itu, apalagi dia lagi hamil. ngandung anak kamu!" Wira tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak semata wayangnya itu.
"Kemarin Boy cuma karyawan biasa paa, gaji Boy gak bakal cukup buat nurutin kemauan Rya yang itu." Boy berujar dengan nada sendu.
"Kamu bisa minta....."
__ADS_1
"Aku udah bilang aku pengen berdiri di atas kaki ku sendiri, itujuga sebabnya aku marah. Dia cerita sama papa mertua, bahkan nerima uang dari papa mertua. jelas jelas Boy udah bilang jangan terima bantuan apapun dari para orang tua, dia kaya gak percaya kalo Boy bisa bahagiain dia.." Boy memotong pembicaraan Wira dengan nada sedikit meninggi.
"Oh yaa? kalo kamu emang pengen berdiri di kaki sendiri, papa bakal keluarin kamu dari perusahaan trus papa juga mau ambil balik ini rumah. Silahkan mulai semuanya dari Nol, hidup dari kaki dan otak mu yang dangkal itu!"
Lagi lagi Boy hanya diam dan menelan salivanya dengan susah payah.
"Nih kalo emang kamu pengen bisa sendiri tanpa di bantu kami harusnya kamu lebih berusaha dan nunjukin kalo kamu emang bisa, bukan malah bersikap kaya anak kecil.. Dimana dewasa kamu? Masa kehamilan Rya bentar lagi berakhir, harusnya kamu nikmatin itu. Bahagiain istri kamu, kalo dia sudah bahagia, lihat perubahan apa yang akan terjadi di hidup kamu."
Boy menyerap setiap kata yang keluar dari mulut Wira. "Papa bener, harusnya aku gak egois kaya gini. Maafin Boy pa, Boy janji bakal jadi suami yang lebih baik lagi.."
"Iya, tapi Boy juga minta maaf karena udah bikin papa malu didepan Om Chandra."
"Jangan kau ulangi lagi!! jadilah pria dewasa dan bertanggung jawab. Bukannya kamu sangat mencintai Rya?"
__ADS_1
Setelah perdebatan sengit itu berakhir, akhirnya Boy dan Wira saling berpelukan dan kembali menjadi anak dan ayah yang sangat amat lekat.
Wira berhasil mengembalikan Boy dan mungkin Boy akan jadi lebih baik. Setelah itu Boy dan Wira kembali ke ruang keluarga, terlihat Rena dan Chandra sudah menunggu mereka.
Mereka kembali berbincang dan mencoba meluruskan semuanya. Semua orang saling tersenyum dan memberikan dukungan untuk Boy memperbaiki semuanya.
****
Para orangtua itu sudah pamit, kini tinggal Boy dan Rya yang tengah berada di kamar mereka. Boy baru selesai mandi dan mengganti pakaian nya, Boy melihat Rya sedang berbaring di tempat tidur sambil memegangi perutnya yang buncit.
Boy menarik nafas panjang kemudian menghampiri Rya. Boy berbaring di samping Rya kemudian memeluknya dari belakang. Boy menyatukan tanganya dengan tangan Rya kemudian mengcup tengkuk Rya dengan lembut.
"Maafin akuuu.. maafin aku sayang.." Bisik Boy pelan. "Kalo kamu mau marah luapin aja sayang, kamu boleh mukul aku, nampar aku atau apapun itu biar emosi kamu gak terpendam. aku sayang kalian.." Boy mengecup tengkuk leher Rya lagi dan tanganya mengusap-usap perut Rya perlahan.
__ADS_1
Rya hanya memejamkan mata nya, hati nya terasa di iris-iris. Wajah nya terasa panas, Rya memang sangat emosi dan merasa sedih saat ini. Rya mencoba menarik nafas dan tak terasa ada bulir yang mengalir di mata nya yang terpejam itu.