
Keluar dari kamar mandi Rya melihat Boy sedang duduk di sofa, lelaki itu terlihat sedang menonton tv ditemani secangkir kopi di meja.
"Kebiasaan cewek mah kalo mandi lama bener, lu mandi apa pergi holiday.." ujar Boy sambil memperhatikan Rya yang masih dibalut handuk putih.
"Emang nya elo, kalo mandi cuma asal kena aer doang." balas Rya sambil berjalan menuju lemari pakaian.
"Gue kalo mandi tinggal liatin aer nya, tar aer nya yang nyamperin gue hahaha.." Boy tertawa sendiri dengan jokes recehnya.
"Hahah lucu! udah sana gue mau pake baju dulu." Rya mengusir Boy dengan tatapannya.
"Nyantai aja kali! tadi aja kita gak pake baju, its okay kan hehe." Boy berujar santai dengan seringai khasnya.
"Boy ish.." Rya menatap Boy kesal.
"Ia ia iaaaaaaa. pake baju anget yaa.. kita keluar cari jagung bakar.. Gak pake lama.'' ucap Boy sambil berlalu keluar dari kamar itu.
Setelah Boy keluar, Rya langsung dibuat sibuk mencari pakaian hangat untuk bergulat dengan cuaca puncak yang terkenal dingin menusuk tulang.
"Hadeuh... Boy ngapain ngajak gue keluar siih? udah tau puncak tuh dingin banget! mana disini baju nya minii mini.." Rya menggerutu saat lagi-lagi mendapat baju-baju pendek disana.
Lagian baju siapa sih ini? masa punya nyokapnya?
Hingga akhirnya Rya menemukan celana santai berwarna abu dan sweater hitam yang cukup tebal.
''Dih bukanya dari kemaren lu nongolnya! maybe gue gak usah pake baju yg kemaren."' Rya menggerutu lagi namun sambil memakai pakaian itu.
"Eh tapi kalo gak gitu... gak bakalan gini.'' Tiba-tiba pikiran Rya kembali memutar kejadian saat dirinya dan Boy sedang melakukan itu..
Aaaaaaa... Rya jdi senyum-senyum sendiri.
Setelah selesai berpakaian dan merapikan rambut Rya langsung turun menemui Boy yang sudah menunggu di bawah. Mata Boy terus saja memandangi Rya yang sedang berjalan satu persatu menuruni anak tangga.
"Apaan sih lu liatinya gitu amat? kaya liat setan aja!!" Rya merasa risih dengan tatapan dari Boy.
"Nggak, nggak, gue heran aja.. makin lama, lu makin cantik.." hehe, Boy terkekeh sendiri.
"Halah gombal.. udah jam 8 nih jadi gak keluar nya?" tanya Rya.
"Jadilah! udah siap gini. Yaudah ayo, judes." Boy menjawil hidung Rya kemudian mulai berjalan menuju parkiran.
"Padahal kalo mau jagung bakar saya juga bisa buatkan den, jadi aden gak perlu repot repot keluar." kata mang U sambil berjalan menuju gerbang dan membukanya.
"Iya mang, saya cuma kangen suasana puncak di malam hari ajaa." jawab Boy.
"Oh gitu, yaudah hati hati ya den.. hati hati ya neng.." Mang U tersenyum kilas saat melihat Rya dan Boy sudah siap untuk pergi.
Lalu
Mereka mulai melesat meninggalkan Vila dan melaju munuju sebuah kedai pinggir jalan khas puncak. Mencari kedai yang menjual jagung bakar sesuai yang mereka inginkan. Boy menepikan mobilnya lalu mereka berdua turun dan berjalan menuju kedai itu.
"Mantep nih, gede-gede jagungnya.." ujar Boy sambil menilik satu persatu jagung yang dipajang disana. "Mau bakar berapa? tiga apa empat?" tanya Boy sambil menoleh ke arah Rya.
"Ebuseh, dua ajakali. Banyak-banyak amad!" ucap Rya sambil ikut-ikutan menyentuh jagung itu.
"Haha kali aja makan satu gak kenyang kan?" ucap Boy sambil terkekeh.
"Lu aja sono, serah mau pesen berapa. Guesih satu aja." ujar Rya sambil berlalu, duduk disalah satu lesehan disana.
"Haha.. lu gak tau ini enak sih ya? awas aja kalo nagih." ucap Boy sambil menatap Rya yang duduk disana. "Mas jagung bakarnya 3 yaa.." tambahnya pada penjaga kedai.
"Gilaseih beneran gak cukup satu." Rya hanya bergumam sambil menggeleng kepala.
''Boy!! heeeey... Kemana aja?'' tiba-tiba seorang wanita menyapa Boy, menyosor dan tanpa basa basi cipika cipiki. ''Whaaa uda lama banget yaa kita gak ketemu.. Lu sombong sih sekarang.'' ucap wanita itu, menyenggol lengan Boy.
__ADS_1
"Hey Clara! apa kabar?" Boy balik menyapa wanita itu. Mereka terlihat sangat akrab. Sementara Rya hanya menyaksikan tontonan itu dengan wajah datar.
"Lagi apa lu disini? bukannya lu uda pindah ke bandung ya?" Boy bertanya kepada wanita itu lagi.
"Gue lg weekend aja kesini, pusing banget gara-gara sibuk Ujian Akhir Sekolah. Ampe keram nih otak gue.." Wanita itu berujar sambil menyentuh kepalanya, mengilutrasikan kepala puyeng.
Ekhem.. Rya berdehem
"Eh iya.." Boy menoleh ke arah Rya, berjalan menuju tempat duduk wanita itu. "Kenalin ini Rya, Rya kenalin ini temen gue Clara. dia temen gue waktu kecil." ujar Boy memperkenalkan kedua wanita tersebut.
"Haaai, Ryaaaaaa.." Rya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan, berniat untuk berjabat tangan berkenalan.
"Gue Clara.. " Wanita itu juga memperkenalkan diri, namun ada raut senyum sinis diwajahnya, wanita itu bahkan tidak menggubris uluran tangan Rya.
Menyebalkan sekali. pikir Rya.
"Lu sama siapa kesini? sendirian?" tanya Boy yang kemudian ikut duduk disamping Rya.
"Gue lagi nunggu temen-temen gue, mereka lagi dijalan mau kesini." ucap Clara. "Eh.. Gue boleh gabung disini gak? sambil nunggu temen-temen gue nyampe?" tambahnya. Tapi tanpa dipersilahkan wanita itu langsung saja duduk disana.
"Gapapa.. ayo gabung aja." Rya masih bisa tersenyum pada wanita culas itu.
Mereka duduk bersama dilesehan itu, mereka berbincang sambil menatap pemandangan disana, berhadapan dengan alam terbuka dengan lampu-lampu rumah yang tampak cantik dari kejauhan. Tempat sederhana itu sungguh menyuguhkan pemandangan yang sangat epic.
"Eh.. keluarga lu apa kabar? uwhh.. udah lama banget gak ketemu mereka. Mama Rena pasti makin cantik yaaaa." ujar Clara sambil menatap Boy dan tersenyum.
"Baik. semuanya baik.." jawab Boy. "Dingin gak?" bisik Boy pada Rya.
"Dikit hehe."
Rya merasa kurang nyaman dengan kehadiran Clara. Padahal Rya termasuk orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi karena wanita dihadapannya itu sangat culas, Rya menjadi kaku dibuatnya.
Clara mengeluarkan sebungkus rokok, menyulut kemudian menghisapnya. "Boy kapan kapan main lhaaa ke Bandung, udah lama kita gak main bareng." ucap Clara sambil menghembuskan asap dimulutnya.
"Jagungnya mas, mba.." penjaga kedai itu meletakkan 3 jagung bakar diatas meja.
''Makasih..'' Boy dan Roy menjawab kompak, membuat mereka saling menatap kemudian mereka berdua tertawa kecil.
hahaha.
Clara hanya mendelik melihat keakraban Rya dengan Boy. "Wih, peka banget sih Boy. Kok elu pesen tiga sih." ujar Clara menyela dua orang yang masih tertawa itu.
"Oh iya, ambil aja." ucap Boy. Padahal kan Boy pengen makan dua, tapi tak apalah, yang penting ia bisa makan jagung bakar puncak yang ia rindukan.
Rya dan Boy langsung melahap jagung bakar itu sambil melihat pemandangan dan sesekali mengobrol santai dan bercanda. Sementra Clara, wanitu itu selalu sibuk mengalihkan pembicaraan Boy dan Rya. Menganggap seolah Rya tidak ada disana.
Nyebelin amat sih tuh cewek!! Rya menggerutu dalam hatinya.
"Eh apa nih?" Clara menyentuh bahu Boy, menilik kuping Boy yang katanya ada hewan kecil disana.
Nyebelin!! Nyebeliin!! Rya menggerutu lagi.
Rya mengalihkan pemandangan menyebalkan itu dengan melihat ponsel dan ternyata waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Cuaca dingin itu baru terasa menusuk ke dalam tulang sekarang.
"Balik yuk." ucap Rya sambil menaruh ponsel itu dengan kasar keatas meja, hingga menimbulkan bunyi lumayan kencang.
"Kenapa? jagung lu belom abis noh.." tanya Boy.
"Udah malem, dingin." jawab Rya
"Tar gue angetin." bisik Boy.
Rya hanya menghembuskan nafas jengahnya, moodnya berantakan gara-gara wanita culas itu.
__ADS_1
Boy menatap jam ditangannya kemudian menoleh ke arah clara. "udah jam 11 lebih nih, temen lu kok belum dateng juga?"
"Tau nih lama bgt, jam karet.. 🙄" jawab Clara.
"Gue sama Rya duluan gakpapa yaa, kasian Rya kedinginan." ucap Boy sambil menatap Rya.
"Hmm tapi boooy...." Clara menatap Boy yg mulai berdiri dan memundurkan kursi. "Boy?" ucapnya lagi. Kali ini sambil memegang tangan Boy.
"Kenapa?"
"Anterin gue pulang mau gak? mauu yaaa? pleaseeee!"
Dia memohon sambil mengusap lengan Boy bahkan menempelkan kepalanya. Menyebalkan sekali.
Apa banget sih tuh cewek! gak suka gue ngeliatnya. Eh tapi kenapa gue marah?
"Lu kaann lagi nungg..."
''Clara!!''
Tiba tiba ada yg menyahuti nama Clara. dan ternyata mereka adalah orang yang sejak tadi Clara tunggu. 3 org wanita sahabat Clara.
"heeeeeeey, lama amat sih lu pada!!" Clara akhirnya melepaskan lengan Boy.
''siapa tuh? cowok baru lu lagi? nempel banget.'' sahut salah satu temannya.
"Kenalin ini Boy, mantan pacar gue waktu SMP."
Clara tersenyum merekah. dia memperkenalkan Boy dengan bangga kepada teman-temannya. sementara aku tak dianggap. Aku terkejut ternyata Clara adalah mantan pacar Boy. pantas saja mereka terlihat akrab dan Clara berani menyentuh boy.
"Hai, Rani."
"Nisa."
"Ruby."
Mereka memperkenalkan namanya masing masing.
"Hai.. gue Boy.." Boy menjabat tangan teman-teman Clara. "Ohya, Kenalin nih cewek gue.. Rya." tambahnya sambil memegang bahu Fya.
"Haaaaaai." aku mencoba menyapa mereka, meskipun tatapan mereka jelas-jelas mengatakan mereka tidak suka padaku.
"Dih.. gila lu Raaa! ketemu mantan pacar lagi sama pacar barunya dan lu berani nempel-nempel? parah parah kaya cicek di dinding wkwk.''
"Berisik lu!! cewek itu cuma temen Boy kok.. ia kan Boy?"
"Ooooowwwh.." para gadis itu tersenyum sinis.
Gila songong amet nih cewek cewek-cewek. Pengen gue pejek pejek!!
"Iyaa, gue cuman temen deket Boy, kenapa? ada yang salah?" Aku menatap mereka tajam.
"Gak ada yang salah sih.. cumaaa rasanya gak pantes aja hahaha... Apalagi kalo ngaku-ngaku jadi pacarnya, iwwh nggak banget!!" Clara semakin meledek Rya dihadapan teman-temannya.
"Emang lo ngerasa pantes? punya apa lo? buktinya lo sama Boy udah putuskan?"
"Udah udah!! ini ngapain malah pada ribut sii?" Tiba tiba boy melerai dan membuat kami semua diam. "Dari dulu smpe sekarang lu gak pernah berubah ya, Ra!!
"Kita pulang!" Boy meraih tanganku lalu berjalan menuju mobil meninggalkan cewek-cewek kampang itu haha. (BTW jagung udah dibayar kok hahaha.)
"Tunggu, Boy! tunggu dulu!"
Clara berteriak memanggil nama Boy, namun mereka tidak bergeming dan tetap berjalan tidak menggubris. Masuk kedalam mobil lalu segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1