
Lempang nyaangan awak sorangan, diharudung kanyeri, kapoekan ku amarah. Nyoba nahan cai mata walaupun loba namah nyurucud teu katahan.. Beak karep nyalahken kaayaan, ngagoak maratan jagat, ngajerit maratan langit.
Seketika Boy menjadi lelaki yang paling lemah sedunia, menerima kenyataan bahwa orang paling special yang ia abaikan itu kini benar-benar pergi. Jiwanya hancur, raganya melayang, tubuhnya bagaikan kehilangan organ-organ penting. Paru-paru yang ada dua, bagai hilang salah satu dan menyebabkan Boy kesulitan untuk bernafas.
"Sayaaaang.." Rya memeluk Boy yang sedang memeluk lututnya diujung lorong kamar jenazah, menangis sendirian dengan isakan yang sangat menyakitkan. "Tabah ya, hon.. kamu harus kuat.." Rya mengusap lelaki itu, menguatkan meski sebenarnya dia juga ikut menangis.
"Buuunnn... papaaaa.." Boy langsung merengkuh tubuh Rya yang berlutut dihadapannya.
"Tabah ya sayang.." Rya berujar ditengah air matanya yang juga berderai. "Biarin papa istirahat dengan damai.. kamu harus ikhlas.. Aku juga sedih banget, tapi siapa yang bakal nguatin mama kalo kita semua lemah gini.." ujar Rya, mengingatkan Boy bahwa Rena sudah pingsan berkali-kali sejak tadi.
"Ayah ngerasa bersalah banget bun.. ayah gak akan bisa maafin diri sendiri.. Sikap ayah pasti udah nyakitin papa banget kemaren.." Boy masih menyalahkan diri sendiri, meskipun didetik-detik terakhirnya Wira melulu mengatakan bahwa dia bangga terhadap Boy. Boy tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Kita harus segera urusin pemakaman papa dengan layak, sebagai bakti kamu yang terakhir didunia ini untuk papa." Rya melepas pelukan. Menangkup wajah Boy kemudian menyeka airmata itu. Sungguh, pemandangan yang sangat menyakitkan melihat Boy bersedih sepilu itu.
__ADS_1
"Yuk bangun.. kasihan mama.."
Setelah merasa tenang kemudian Boy beranjak dari tempat itu, menguatkan Rena seperti Rya yang menguatkan dirinya. Mengurusi semua prosesi pemakaman ayahanda tercinta, berlaga menajadi sosok tegar yang sebenarnya rapuh.
***
Aku yakin, papa sebenarnya gak mau ninggalin aku. Tapi.. panggilan Tuhan memang harus diterima. Tuhan yang menciptakan, Tuhan juga yang mengambil.. Yang tenang yaa, pah.. Gumam Boy saat tubuh Wira mulai ditimbun tanah.
Kenyataan ini seperti memberhentikan aliran darah. Jantungnya seperti berhenti memompa darah ke seluruh tubuh.
Apakah aku bermimpi? Tidak Boy. Ini semua nyata.
Boy rapuh, tapi dia dituntut harus kuat. Untuk Rya, untuk Barel, untuk mama.
__ADS_1
"Ayaaah.." Rya mengusap bahu Boy yang masih berlutut sambil mengusap nisan bertuliskan nama Wira. "Yuk, kita pulang." ajaknya.
"Ayah masih pengen disini, bun.. Bunda duluan aja yaa.." ucap Boy sambil menoleh sebentar.
huuuuft.. Rya membuang nafasnya. Boy terlihat sangat lemah dan terpukul sekali. Tapi itu semua wajar bukan? Rya saja yang hanya diabaikan merasa sakit, apalagi yang ditinggalkan untuk selamanya.
"Yaudah.. bunda pulang kerumah mama ya, Barel nungguin disana.. nanti ayah nyusul.." ucap Rya sambil mengusap bahu itu lagi. Cuuupp!! Rya mengecup jidat sebelah kanan sebelum akhirnya beranjak dan meninggalkan Boy disana..
Detik selanjutnya setelah Rya pergi dari sana, Boy hanya termenung sendirian. Menatap nisan dan juga tanah merah yang masih basah, dengan taburan bunga yang masih segar diatasnya. Masih belum menyangka tentang kepergian Wira.
***
Gak seru ih yang like dan komennya dikit 😒
__ADS_1