Pasangan Muda

Pasangan Muda
Manja


__ADS_3

Rya dan Rena sama-sama terkejut saat mendapati seseorang membuka pintu kamar dengan rusuh, dengan nafas yang ngos-ngosan, dengan senyuman diwajahnya dan ternyata itu adalah Boy.


Boy tersenyum di balik luka lebam dan darah diwajahnya, perlahan ia melangkah mendekati Rya. "Kita berhasil sayang.." ucapnya sambil merengkuh tubuh Rya. Menghirup aroma tubuh Rya, menumpahkan rasa haru didadanya. "Kita berhasil.." ucapnya lagi.


Rya hanya diam saat lelaki itu memeluknya. Lalu detuk selanjutnya Rya mendorong tubuh Boy sedikit, melepas pelukan itu, menatap wajah yang terlihat luka lebam disana. "Kamu kenapa?" tanya Rya, sambil hati-hati mengusap wajah Boy.


"Aku gapapa.." jawab Boy sambil tersenyum.


"Pasti papa mukul kamu ya?" Rena menatap nanar putra semata wayangnya itu.


"Udah maa, aku gapapa.. kita turun yuk.. papa udah nungguin.." ujar Boy dengan senyum simpul.


"Apa yang terjadi?" tanya Rena lagi, suaranya bergetar melihat pemandangan wajah putranya yang sedikit babak belur.


"Udah.. kita turun aja.." ujar Boy lagi.


Lalu...


Mereka berjalan bersamaan, tangan Rya menggenggam erat tangan Boy. Ia sama sekali belum mengerti apa yang terjadi.


"Kenapa papa pukul Boy? ha! gak seharusnya papa pukul Boy." Rena maju lebih depan, menghardik suami yang barusaja membuat putranya babak belur itu. "Lihat anak kita sekarang!! babak belur kayak dihajar preman!! mama ibu nya, tapi nyubit Boy aja mama gak pernah!" suara Rena makin bergetar, ada tangis yang pecah seketika. Ibu mana yang sanggup melihat anaknya dilukai, meskipun anak itu memang salah, meskipun yang menghukum adalah suaminya sendiri, ayah dari anak itu.


"Iya.. Papa salah, papa minta maaf.. tadi papa kebawa emosi." ucap Wira sambil mengusap bahu dan punggung Rena.


"Boy kan anak cowok mah, di sentil dikit gapapa lha hehe.." Boy berusaha mencairkan suasana, ia lapang dada menerima pukulan dari sang ayah karena ia mengakui bahwa memang dirinya yang salah. "Duduk sayang.." tambahnya, mempersilahkan Rya untuk duduk. Wira dan rena pun ikut duduk, Mereka mulai berbicara dengan nada santai setelah suasana mulai adem.


"Jadi kapan kamu akan menemui orangtua Rya?" tanya Wira.


"Secepatnya paa.." jawab Boy dengan lugas.


"Jangan menunda terlalu lama Boy.. kita harus segera bergerak." ucap Wira lagi.

__ADS_1


"Baik paa, Boy hanya perlu waktu satu atau dua hari lagi buat nemuin orang tua Rya." ucap Boy lagi.


"Kabari kami kabar selanjutnya, nanti kita adakan pertemuan keluarga.. Ini harus secepatnya Boy.." Rena ikut menyahut saat air matanya mulai berhenti.


Dan setelah perundingan itu, akhirnya Boy dan Rya mendapat titik temu. Wira dan Rena sudah memberikan lampu hijau untuk mereka berdua.


"Udah malem nih.. Boy pamit nganter Rya pulang, Boy juga mau tidur di apartemen." ujar Boy berpamitan.


"Mama obati dulu lukamu, yaaa.." ucap Rena.


"Gak perlu diobatin maa, orang obatnya ada disamping Boy hehe." Boy terkekeh sendiri sambil menyenggol Rya.


"Dasar kamu ini!!" Rena jadi ikut terkekeh melihat anaknya berujar demikian. "Yasudah hati-hati yaa.. Rya jaga kandungan mu, kamu gak boleh banyak pikiran dan jangan telat makan."


"Baik tante.. Hmm Rya minta maaf yah om, tan.. Rya udah bikin malu dan bikin marah kalian.." Rya menatap Wira dan Rena bergantian, kemudian menunduk sendu.


"Yang sudah terjadi, terjadilah.. Asal kedepannya kalian bisa jadi lebih baik.." Wira berujar.


"Sayang kamu ngidam gak? mumpung kita lagi di jalan biar sekalian." tanya Boy sambil menatap Rya dan tersenyum.


"Hm.. ngga Boy, aku pengen pulang aja.." jawab Rya


"Serius?" tanya Boy lagi.


"Eh.. iyadeng, aku pengen ramen yang di ujung jalan itu hehe." Rya menunjuk sebuah perempatan yang memang menjual ramen.


"Huuuh dasar, yaudah yuk kita beli."


Boy memutar kemudi, menepikan mobilnya dan membeli dua porsi ramen dan setelah itu ia kembali ke mobil lalu melanjutkan perjalanan menuju apart Rya.


 

__ADS_1


**Apartemen Rya


 


Rya langsung mengambil es batu, lap dan air hangat. Rya mengompres luka Boy dan membersihkan darah dengan cekatan namun hati-hati. "Tahan sayang.." ucap Rya saat Boy meringis karna perih.


Seulas senyuman tulus tersungging diwajah Boy, menatap wanita yang sedang merawat lukanya dengan penuh kasih. Seketika Boy lupa akan rasa sakitnya, ia malah merasa senang karena ini kali pertama Rya memanggilnya dengan sebutan sayang.


Boy meraih tangan Rya, menghentikan pergerakan lalu menyambar bibir nya.


"Stop Boy.." ucap Rya saat lelaki itu menciumnya lebih dalam dengan tangan yang sudah mulai bertualang.


"Kenapa?." tanya Boy.


"Aku pengen makan ramen dulu.." ujar Rya


"Hmm okay.."


Boy mengusak rambut Rya kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil mangkuk dan sendok. Ia menuangkan satu porsi ramen lalu memberikan nya pada Rya. "Makan yang banyak yaa.." ucap Boy sambil tersenyum


"Makasih yaa.." Rya balas tersenyum.


Rya menghirup aromanya lalu mulai mie kuah itu, namun tiba-tiba saja Rya berhenti. "Ramennya uda mulai dingin, aku pengen yang panas.." Rya mencebik.


"Baiklah.." Boy menghembuskan nafas malas, tapi lelaki itu tetap melakukan apa yang ia mau dengan senyuman khasnya.


Boy kembali memgambil mangkuk itu berjalan menuju dapur untuk memanaskan ramen, setelah selesai Boy memberikannya lagi kepada Rya.


"Enak sayang?" tanya Boy yang melihat wanitanya makan dengan lahap.


"He em.." Rya menjawab dengan kunyahan mie yang memenuhi mulut.

__ADS_1


Rya menyeruput sisa air di mangkuk dan Boy hanya tertawa kecil melihat tingkah Rya, Rya berubah jadi seperti anak kecil dan sangat manja sekali.


__ADS_2