
"Apaan sih lo gak jelas banget!" ucap Mytha sambil menyikut lengan Dine.
"Haha biasa aja kali, Myth." ucap Dine sambil masih tertawa.
"Lo belum mandi ya?" tanya Mytha pada Rya.
Rya yang mendapat pertanyaan hanya menggelengkan kepalanya. "Males gue!" jawabnya.
"Ih bumil jorok!" timpal Dine.
"Bawaan orok kali, gue males ngapa-ngapain. Gini aja tiap hari leha-leha nimbun lemak haha." jawab Rya sambil tertawa.
"Lo nya aja yang jorok malah nyalahin bayi! Boy gak jijik tuh kalo lo jarang mandi?" tanya Mytha.
"Jangan mentang-mentang lo udah laku trus lo gak mau urus badan! Harus seimbang asupan sama geraknya, tar lama-lama badan lo kayak kebo kalo gitu terus." Ujar Dine serius.
"Ya gimana dong, hawa nya males!" Ucap Rya.
"Abis lahiran bakal jadi emak-emak berdaster nih bocah, lemak pada bergelambir yiiiiy.. Sono mandi dulu ih!" ucap Dine sambil mendorong bahu Rya berulang.
Dan akhirnya dengan terpaksa Rya pun harus mandi karna sahabatnya itu terus saja ngoceh tiada henti padahal dirinya benar-benar sedang sangat malas.
Setelah selesai mandi dan berpakaian Rya kemudian kembali ke ruangan dimana sahabatnya itu berada. "Mau kemana lo?" tanya Rya saat melihat Dine sudah merapihkan tas dan menentengnya.
__ADS_1
"Gue mau kerumah Vano, dia sakit." jawab Dine.
"Sakit?" tanya Rya lagi.
"Ia, barusan nyokapnya nelpon gue!" jawab Dine lagi.
"Ah gak asik baru aja bentar main nya." ucap Rya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sorry yaa.. tapi gue harus kesana sekarang.."
"Emang kenapa sih tuh si Vano?" tanya Mytha.
"Nyokapnya bilang sih sesak napas, terus batuk-batuk, muntah juga." jawab Dine dengan nada khawatir.
Deg!! Rya langsung flashback kejadian semalam saat mendengar Mytha menyebutkan sebuah merk obat nyamuk itu. Rya langsung menghubungkan kejadian ini dengan kejadian semalam.
Jangan-jangan yang semalem ituuuuu...
"Hei, malah bengong! gue pamit yaa.." Ucap Dine sambil memeluk Rya. "Myth gue duluan yaaa.." imbuhnya lagi.
"Eh gue juga balik sekarang aja, tadi kan gue kesini nebeng sama lo!" ucap Mytha.
"Lho, kok pada balik sih. Katanya mau bantuin milih pernak pernik buat acara gue? kita juga belum makan! kasian lho bi Waty udah sengaja masak banyak." ucap Rya.
__ADS_1
"Lusa deh kita kesini lagi.."
Kemudian dua sahabat Rya itupun pamit, Rya mengantar mereka sampai pintu utama. Mereka salinh melambaikan tangan hingha akhirnya Mobil Dine hilang dari pandangan mata Rya.
Setelah itu Rya kembali masuk dan menutup pintu. Ia berjalan sambil memikirkan kejadian semalam.
Gue yakin kayaknya yang semalem emang Vano deh.. Tapi ngapain? apa dia yang selama ini neror gue sama Boy?
Rya berbicara sendiri kemudian kembali duduk di tempat semula.
Ih ini bener gak sih? kalo emang dia yang neror..
Klekk!! (suara pintu terbuka)
Rya menghentikan kegiatanya yang sedang berbicara sendiri saat mendengar pintu utama yang baru saja ditutup terbuka lagi. Rya meihat ke arah pintu dan ternyata itu adalah Boy.
Boy menutup pintu kemudian berjalan masuk, lagi-lagi Boy melewati Rya tanpa menyapanya sama sekali.
Rya meruntuhkan semua ego nya kemudian memilih untuk mulai membuka suara, karna rasanya ia tak tahan jika harus saling diam meskipun ritual ini sudah sering mereka lakukan setiap kali bertengkar.
"Abis dari mana?" tanya Rya tanpa menolehkan kepalanya.
Dengan rasa berat akhirnya Rya bisa mengucapkanya, padahal gengsi nya sangat besar. Namun setelah itu Rya kembali kesal karna ternyata Boy melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa menjawab pertanyaan Rya.
__ADS_1
Rya hanya menghembuskan nafasnya pelan padahal hatinya ingin sekali menjerit dan menghajar Boy karna egois yang kelewat batas itu belum juga reda.