
2 Hari kemudian Rya sudah di perbolehkan pulang. Boy sudah mengepack semua barang-barang, obat dan perlengkapan milik little Boy. Dan Lagi-lagi bu Nani, si tetangga sebelah yang terlihat membantu. bukan kerabat atau sanak sodara Boy ataupun Rya.
Meskipun begitu mereka tetap berusaha tegar dan bahagia, bagi mereka little Boy adalah obat terbaik dari semua kesakitan yang diberikan kerasanya dunia.
"Jagoan ayah, Ratu nya ayah, yuk kita pulang.." ucap Boy setelah semuanya siap dan tinggal meluncur pulang.
Rya hanya tersenyum mendengar perkataan Boy, mereka lantas berpamitan kepada bidan dan para perawat sebelum benar-benar meninggalkan klinik tersebut.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 30 menit akhirnya mereka tiba di istana kecil itu. Rya menggendong little Boy masuk, sementara Boy membawa tas dan perlengkapan lainya.
"Sayang, kayaknya aku harus belanja dulu deh.. kamu kan lagi menyusui, kamu harus banyak dapet nutrisi.." ucap Boy saat mereka sudah tiba di dalam rumah.
"Se-adanya aja honey, gak usah berlebihan. Emang kamu punya duit?" tanya Rya heran. padahal setau dirinya Boy tidak punya uang, bahkan biaya persalinan saja ia tidak tahu Boy dapat darimana.
"Wisssh, kan semalem aku uda ngepet haha.." jawab Boy dengan candaan garingnya.
"Ih kamu, apasih ngomongnya gitu.." balas Rya yang kurang suka dengan candaan suaminya.
"Bikin list dulu dong, biar aku gampang belinya, beli apa aja yang gak ada dan yang kamu sama little Boy perluin." timpal Boy lagi sambil membereskan perlengkapan little Boy.
Rya kemudian menaruh little Boy diatas kasur miliknya, bukan box bayi atau apapun yang terkesan mewah. Ya, di kasur tempat Boy dan Rya tidur, daaann terkadang bergulat 😁
"Kamu ada uang berapa gitu?" tanya Rya kemudian menghampiri Boy yang duduk di ruang tamu.
"Pokoknya ada, sayang. gak usah khawatir." jawab Boy santai. "Ayo cepetan nih tulis, keburu siang tar jagoan kita keburu bangun. Nyusu nya kuat bener dah tuh bocah bikin ayahnya iri aja." tambah Boy sambil terkekeh geli.
Rya kemudian mulai menulis apa saja yang harus dibeli dan diperlukan keluarga kecilnya, namun sebenarnya Rya menulisnya dengan ragu, takut-takut uang Boy tidak cukup dan malah membuat lakilakinya merasa sedih karna menganggap dirinya tidak bisa memenuhi nafkah.
"Beli dikit-dikit aja hon, yang penting bisa nyambung beberapa hari dulu." ucap Rya sambil memberikan secarik kertas.
"Oke syap," Boy kemudian mulai meneliti list yang dibuat oleh Rya. "Sayang, masukin ini dong.. Mm apa.. Ind*mie 2 dus.." ujar Boy sambil menyodorkan kertas dan pulpen itu lagi.
"Ngapain banyak-banyak? gak sehat tau!" ucap Rya mendelik kesal.
"Buat ngitung.." ujar Boy santuy.
"Ngitung?" tanya Rya heran.
__ADS_1
"Kan katanya gitu, kalo bapak-bapak istrinya lahiran harus stock mie yang banyak." ujar Boy lagi.
"Apasih aku gak ngerti?!" tanya Rya semakin heran.
"Jadi... kalo stock nya habis berarti udah boleh." ujar Boy berteka-teki.
"Boleh apa? please deh jangan bertele-tele!"
"Boleh.. mwaaacchh.." ucap Boy sambil memonyonhkan bibir dan menyatukan jari-jari tangan mirip berciuman.
"Ih dasar mesum!" ucap Rya sambil melempar bantal ke arah Boy saat sudah mulai mengerti jurus perkataan Boy yang nyeleneh. "Kalo itu, kita libur dulu 3 bulan!" tambahnya.
"Lama amat..😩" seringai Boy dengan wajah lesu dibuat-buat. "Gak karatan gitu, si otong.." tambahnya.
"Dasar ih, istri baru lahiran udah mikirin yang gituan! gak tau apa gimana sakitnya ngeluarin bayi!" ucap Rya.
Kemudian Boy kembali teringat kejadian itu, kejadian saat Rya sedang bertaruh nyawa dihadapannya. Seketika Boy berdelik linu.
"Haiyaiya, maaf sayang becanda.. 3 bulan tapi ada diskon yaaa.." ujar nya kembali jenaka.
"Udah sana katanya mau belanja!"
"iiihh.." ujar Rya yang kesal namun akhirnya tertawa karna tingkah suaminya itu.
Boy kemudian pergi ke luar rumah dan menemui bu Nani terlebih dahulu untuk menitipkan Rya sebelum dirinya pergi berbelanja.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, Boy kembali pulang dengan segambreng belanjaan yang menumpuk di motornya, Boy benar-benar mirip ojek pasar. Boy bolak-balik membawa semuanya kedalam rumah, sementara Rya yang baru saja selesai menyusi little Boy langsung menghampiri Boy yang sibuk.
"Mau dagang pak?" ucap Rya sambil menyilangkan tangan. "kok banyak banget sih? kamu dapet uang dari mana? kamu gak nyopet atau ngerampok kan?" Rya langsung melontarkan pertanyaan bertubi-tubi melihat pemandangan didepannya. "Hon!" bentak Rya yang tidak dijawab pertanyaanya.
"Hoh hoh, bentar kek, hoh hoh, nanya kayak petasan aja, gak kelar-kelar, hoh hoh." jawab Boy ceritanya sambil ngos-ngosan 😁
__ADS_1
Kemudian setelah semuanya selesai Boy langsung mengambil sebotol minuman dingin yang tersimpan di lemari pendingin. Boy sangat haus sehingga menenggaknya sampai hampir habis.
"Boy.. kamu dapet uang dari mana? kamu gak nyuri kan? aku gak mau lho anak kita minum asi trus nutrisiny dari uang yang gak bener.." tutur Rya.
"Nggk lah, sayang.. masa iya aku jadi orang kayak gitu.. Aku dapet modal dari papa, lebih dari cukup buat kebutuhan sehari-hari. Akujuga niat mau buka usaha biar ada penyambung kalo uang dari papa udah abis." beber Boy menjelaskan.
"Hm, apa kabar mereka ya? orang tua kita? kok mereka gak ada yang kesini sih? seenggaknya buat nengok anak kita?" ucap Rya lirih dan sedih.
"Eits... gak boleh sedih. nanti little Boy ikutan rewel.." ucap Boy sambil menggenggam tangan Rya. "Biarin aja mereka gitu, mungkin sekarang kita lagi salah dimata mereka.. walaupun akujuga sakit hati tapi yaaa.. kita bawa enjoy aja deh, gak boleh dipikirin yaa.." ucap Boy sambil mengelus punggung tangan Rya dan menatapnya.
"doain aku biar sukses.. kita tunjukin kalo aku sama kamu, dan anak kita bisa bahagia.. nanti kita ambil hati mereka lagi.." Cup.. Boy mengecup dalam dan lama di kening Rya.
"Makasih ya sayang, kamu udah jadi suami dan ayah yang siaga, kamu juga selalu kuatin aku.. Aku bahagia milikin kalian berdua.. aku sayang kamu.." ucap Rya sambil memeluk Boy.
"Aku juga sayang kamu..," balas Boy. Mereka kemudian saling berpelukan haru.
"Udah sayang, jangan lama-lama gini-nya nanti ada yang bangun." ucap Boy.
"Ih ini mesum nya gak ilang-ilang!" ucap Rya sambil melepaskan pelukan kemudian menjawil hidung Boy.
"Ahehe.. berapa hari lagi juga kamu juga pasti kangen..😜 Secara paling lama juga gak nemu tuh paling 2 hari, nah ini 3 bulan.. yakin kuat?" ucap Boy sambil terkekeh.
"Nyebelin dasar!!" ucap Rya sambil tersipu malu sambil mneimpuk Boy dengan bantal-bantal kecil.
"Haa ampun-ampun!" ucap Boy sambil menangkis beberapa serangan Rya dan drama itu diakhiri dengan tawa ringan dari keduanya.
"Kamu istirahat aja, biar aku yang masak.." ujar Boy muli dengan nada serius.
"Bisa emang?" tanya Rya sedikit ragu.
"Gampang.. ada tutorial." ujar Boy dengan yakin.
"Let's see.." ucap Rya menantang Boy.
Dengan yakin Boy melangkahkan kaki menuju dapur, meski ini kali pertama tapi ia yakin bahwa dirinya bisa. Dengan sok tahu Boy memulai acaranya dengan mengikuti beberapa langkah memasak dari tutorial. Namun detik selanjutnya, saat mengupas bawang, mengiris kemudian menumis nya, Boy mulai kewalahan karna air mata yang bercucuran serta minyak yang mulai meletup-letup dan endingnya ia tetap berteriak memanggil Rya.
"So so-an sih.." ucap Rya meledek.
__ADS_1
"Yang penting kan udah usaha.." ucap Boy sambil manyun. Dan akhirnya mereka saling membantu dan memasak bersama.