
Mata Boy kembali memanas ketika menyaksikan Wira terkulai lemah diatas brankar dengan banyak selang ditubuhnya. Seketika kebencian yang menutup mata hatinya menghilang entah kemana. Yang ada saat ini dirinya sangat takut kehilangan sosok itu. Sosok yang sejak kecil menjadi idola dan panutannya.
"Pah.." Boy berujar lirih sambil menempelkan kedua telapak tangannya didinding kaca yang menjadi pembatas ruangan itu. Boy hanya bisa melihatnya, tanpa menyentuhnya. "Paaah.. bangun.. Boy disini.." ujar Boy dengan nada lirih. Hatinya tercabik, matanya seketika memancarkan aura ketakutan. Takut pria itu benar-benar pergi.
"Boy.. hiks.." suara sendu memanggil namanya, membuat Boy mengedarkan pandangan. Terlihat mama Rena sedang duduk dengan Rya disampingnya.
"Mama.." Boy langsung menghambur menuju Rena, memeluknya erat setelah sekian lama. Kehangatan peluk kasih ibu itu ia dapatkan lagi, saling menguatkan satu sama lain. "Boy disini mah.." ujarnya dibalik punggung Rena.
"Booy.. Papaaa.." Rena menumpahkan air matanya dipelukan Boy, melepaskan kerinduan seorang ibu kepada anaknya. Mencurahkan kecemasan tentang suaminya yang belum juga membuka mata sejak semalam. Perasaan Rena jadi bercampur aduk, satu sisi ia senang melihat putranya kembali. Namun satu sisi ia sedang bersedih untuk suaminya.
"Papa baik-baik aja mah, papa pasti bisa ngelewatin masa kritisnya.. Kita bakalan sama-sama lagi.. Maafin Boy.." Boy mengusap punggung Rena, mencoba menguatkan sang Ibu. Padahal hatinya juga sama lemah.
Rya yang menyaksikan adegan itu hanya tersenyum haru dibalik air matanya yang juga ikutan tumpah, pemandangan yang sebenarnya ia juga ingin ada diposisi itu. Dipeluk ibu... merasai kasih sayang seorang ibu.
"Mama gak tau harus gimana, kalo papaa gak-----"
"Sssttt... papa bakalan sembuh, mah.. Percaya sama Boy.. Jangan mikir yang aneh-aneh.." Boy mengusap punggung itu lagi, kemudian melepas pelukan. "Sekarang kita harus sama-sama berdo'a buat kesembuhan papa." ujarnya.
Kemudian ketiganya kembali duduk dikursi tunggu, menanti kabar dari dokter sambil terus merapalkan doa. Sungguh, Boy tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Wira. Lelaki itu tampak meremat tanganya sendiri sambil menyembunyikan wajah cemasnya.
__ADS_1
"Ny.Rena.." panggil seorang dokter. "Kabar baik.. Tn.Wira sudah membuka matanya." ujar dokter itu sambil tersenyum.
Hamdallaaaahhh.. Boy, Rya dan Rena langsung bernaafs lega. Tali yang sejak tadi mengikat leher mereka sudah terlepas begitu saja. Kemudian mereka serempak berdiri, ingin menuju tempat dimana Wira berada.
"Mohon masuk satu persatu yaa.." ujar dokter itu.
Kemudian, Boy menjadi yang pertama segera berjalan menuju ruang rawat. "Pelan-pelan yaa, bapak masih lemas.." ujar dokter itu yang melihat Boy tidak sabaran.
Klekk!! pintu dibuka.
Hati Boy langsung bergetar melihat senyuman dan mata Wira yang berkaca-kaca, pria tua itu tampak membukakan tangan meyambut putranya.
"Hey.. anak cowok gak boleh cengeng!" Wira menepuk-nepuk bahu Boy.
"Maafin Boy pah.. Boy gak mau kehilangan papa.." ujar Boy sambil melepas pelukan dan menyeka air matanya.
Wira hanya memberikan seulas senyuman, menatap putranya yang kini lemah dihadapannya. "Kamu gak salah, Boy.. kamu hebat.. kamu udah bikin papa bangga! kamu udah sukses dan mampu bertanggug jawab.." Ucap Wira dengan nada lemahnya. "Sekarang papa gak takut lagi, papa bisa nitipin mama sama kamu."
Eh..
__ADS_1
"Apa maksutnya?"
"Jaga mama seperti kamu menjaga keluarga kecilmu, ya.. papa titip mama.. papa minta maaf.."
"Papa ini ngomong apa! kita bakal pulang bareng-bareng, kita bakal ajarin Barel main sepatu roda, main sepeda, kayak yang papa sama Boy lakuin dulu."
:')
Dua lelaki itu hanya menyimpulkan senyuman, mengingat kepolosan antara ayah dan anak yang kini menjadi kenangan. Rasanya... seperti baru kemarin.
"Kamu yang bakal ajarin Barel semuanya.. seperti papa yang mengajarimu dulu.. papa yakin, kamu akan lebih bisa menjaga dan mendidik Barel lebih hebat dari apa yang papa berikan buat kamu.. Kamu benar-benar udah bikin papa kagum Boy.." Wira berujar santai, namun pandangannya hanya menilik keatas langit-langit, bibir pucatnya lagi-lagi mengulas sebuah senyuman.
"Paaaah.." Boy menggenggam tangan Wira, gelagat lelaki itu tampak berbeda sekali. Apaa ini karena Wira baru melewati masa kritisnya?
"Jangan pernah lelah menjadi lelaki tangguh, kamu kuat, kamu hebat! dada papa sesak, papa ingin beristirahat.." ujar Wira masih dengan nada dan nafas lelahnya. Lelaki tua itu nampak perlahan menutup mata dan terpejam.
"Pah.. papah.." Boy menggerakan lengan Wira yang masih digenggamnya. "Boy mohon bangun pah, Boy belom nebus semua dosa-dosa Boy sama papah.. Biarin Boy nebus semua kesalahan Boy pah.."
Lelaki tua itu tidak juga bergeming, masih memejamkan mata dengan nadi yang masih berdenyut. "Titip mama.." Plukk!! Sebulir cairan bening jatuh dari mata Wira yang terpejam, kemudian kepala Wira jatuh tanpa tenaga dibantalnya.
__ADS_1
"Papppaaaaaa..."