
Boy dan Rya sudah baikan sekarang, meskipun begitu tapi masih sedikit ada rasa canggung setelah ritual saling diam yang biasa mereka lakukan.
"Tar siang aku mau jalan sama Dine sama Mytha juga.." Ucap Rya sambil membantu suaminya mengancingkan kemeja.
"Kemana?" Tanya Boy.
"Ke mall. Udah lama gak nonton.. mau sekalian cari pernak pernik buat baby shower, bosen juga dirumah terus.." jawab Rya sambil mengambil dasi dan mengalungkannya di leher Boy.
"Nyindir nih?" Tanya Boy lagi.
"Ish apaan sih mulai deh sensi gak jelas!"
"Maaf ya sayang, aku sibuk di kantor akhir-akhir ini. Pusing juga karna ada beberapa berkas yang ilang, malah anehnya ada yang nuker juga.." ucap Boy sambil beralih menuju sofa yang sudah terhidang sarapan untuknya.
"Kok bisa ilang sih? ada yang nuker juga?" tanya Rya sambil menatap heran.
"Gak tau padahal setau aku berkas nya aku yang pegang, aku bawa pulang. Tapi aku juga lagi nyuruh Marcel buat nyari di arsip sih takutnya aku yang lupa." jawab Boy sambil menyesap kopi.
"Ia kamu lupa kalik, masa dibawa kerumah bisa ilang apalagi ada yang nuker.."
__ADS_1
"Aku juga lagi selidikin soal orang yang masuk kerumah malem kemaren. Kayaknya sih ada kaitanya.."
"Yang maling itu?"
Boy hanya menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. Boy kemudian berdiri mengambil jas nya dan bersiap untuk berangakat kerja. Kemudian Rya jadi teringat lagi tentang selintas wajah Vano yang dilihatnya. Namun Rya masih belum mau memberitahu Boy karna dalam informasinya mengandung nama seseorang yang sangat dibencinya itu, Rya tidak mau hubungannya kembali renggang.
"Yaudah kamu yang semangat yaa, semoga masalahnya cepet kelar.." ucap Rya sambil berdiri mengekori Boy.
"Ia sayang, kamu tar hati-hati yaa.. Kalo berangkat kabarin aku dulu, trus jangan makan sembarangan!"
"Awkay bibeeeehh.." jawab Rya sambil tersenyum jenaka.
Boy mengulurkan tangan kananya dan Rya langsung menyambut dan mencium punggung tangan Boy. "Aku gak nganter sampe depan yaa, mau siap-siap juga hehe.."
"Iya gak apa-apa.." Boy mengecup kening Rya kemudian berlalu dari kamar itu. Namun saat tiba di ambang pintu Rya kembali memanggilnya.
"Honeeey.." teriaknya.
Boy menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Rya. "Jangan lupa tf.." imbuh Rya sambil tersenyum.
__ADS_1
Boy hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya setelah mengacungkan dua jempolnya.
.
.
.
Setelah itu Rya pun mulai bersiap-siap untuk acara hangout dengan sahabatnya. Rya bergegas mandi dan mulai memilah baju yang akan dikenakanya.
Padahal apapun baju yang ia pakai tetap saja tidak dapat menyembunyikan perut buncitnya itu. Namun bagaimanapun Rya tetap ingin terlihat matching.
Selesai bersiap Rya pun langsung mengabari sahabatnya, kemudian setelah menunggu 30 menit akhirnya Dine dan Mytha sampai di rumah Rya untuk menjemput si calon mahmud dan saat mereka sampai ternyata Rya sudah menunggunya di depan teras.
"lama amat sih jemputnya?" Ucap Rya sambil mendudukan dirinya di kursi samping kemudi.
"Ah elah.. kaya yang gak tau jalanan ibukota aja!" sahut Mytha yang duduk di kursi penumpang.
"Ia sorry ya soalnya rada macet tadi.. yaudah otewe sekarang nih?" timpal Dine yang duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
Mobil itupun melaju menuju sebuah mall yang cukup populer di jakarta. Rya tidak lupa mengabari Boy bahwa dirinya sudah berangkat dan menanyakan soal transferan yang diminta nya tadi. Setelah semuanya oke, Rya menaruh ponsel nya kedalam tas kemudian Rya lanjut berbincang dengan sahabatnya.