Pasangan Muda

Pasangan Muda
Babymoon


__ADS_3

Rya masih terus merengek soal babymoon pada suaminya dan tentu saja membuat Boy semakin merasa terdesak. Bisa saja Boy meminta uang pada Wira namun Boy tidak mau, karna dia kekeuh dengan pendirianya, ia ingin hidup di atas kakinya sendiri.


Boy mulai kurang fokus pada pekerjaan nya ia lebih sering melamun dan menatap kosong. "Apa gue pecat salah satu pembantu aja ya? kan lumayan ngurangin pengeluaran." pikir Boy disela lamunannya.


"Hey! ngelamun mulu udah jam makan siang nih.." Seru Marcel teman yang kebetulan ikut magang bersama Boy karna tidak melanjutkan sekolah.


"Ah iya yaa, oke lanjut.." Ucap Boy sambil membereskan file yang padahal tidak ia periksa.


"Lu kenapa Boy? kusut banget keliatannya.." tanya Marcel


"Gapapa Cell.." jawab Boy.


"Makan bareng yuk!!" ajak Marcel.


"Ish Takut ada fitnah hahaha."


Boy berdiri dan mengiyakan ajakan Marcel untuk makan siang bersama. Perlahan Boy menceritakan masalah yang sedang dia hadapi.


"Padahal gampang banget menurut gue, kalo lu emang gak mau minta duit sama bokap lu, lu tinggal minta naik pangkat aja, jadi manager kek.. kan lumayan gaji lu nambah.." ucap Marcel memberi solusi sambil menyantap makan siangnya.


"Bener juga yaaa, ataaaau.. gue cari kerja di tempat lain aja kali ya? yang gajinya lebih gede?" ucap Boy.


"Haha jawaban yang sangat bodoh!! inikan perusahaan nantinya buat elu! lha ngapain lu kerja di tempat orang? ngaco!!" Marcel menggelengkan kepala.


"Gue tuh malu tau gak.. sebenernya gue yang selama ini nolak fasilitas dari nyokap bokap, gue pengen ngerasain namanya perjuangan." ujar Boy.


"Tinggal bilang aja kali sama ortu elu bahwa kondisi nya gini! lagian kan cuma mereka yang tau, gak mungkin kan ortu lu bocorin ini ke orang-orang, jadi ngapain harus malu?" tanya Boy.


Boy menyerap kata-kata yang Marcel ucapkan, ia masih memikirkan semuanya dengan sangat rumit.


Hingga...

__ADS_1


Jam pulang kantor sudah tiba, namun Boy merasa malas jika harus langsung pulang. Ia malas jika harus berdebat dengan Rya soal babymoon dan babymoon lagi.


Kemudian Boy memutuskan untuk menepikan mobilnya di sebuah Kafe, sekedar nongki bersama teman-teman kantornya.


***


Rya sedang duduk di sofa sambil menonton tv bersama Lita, dengan segelas susu hamil juga camilan di atas meja. Rya sedang menunggu kepulangan Boy.


"Bu.. salah gak sih kalo kita minta sesuatu sama suami?" tanya Rya kepada Lita.


"Ya ngak lah.. gak ada yang salah, selama permintaan itu wajar dan di dalam batas kemampuan suami.." jawab Lita.


"Aku pengen liburan bu, kan setelah nikah aku gak pergi honeymoon jadi aku pengen babymoon. Tapi Boy kaya gak respon gitu sama keinginan aku.." ujar Rya sambil menekuk wajah nya.


"Sayaaaaang.." Lita menghela nafasnya. "Bukannya kalian udah komitmen tentang semua ini? inget Rya.. Boy itu cuma karyawan biasa. Tapi lihat deh, dia nyiapin hidup yang layak buat kamu. Ada ART, dua malah, dan tiap hari kamu ingin ini, ingin itu, Boy pasti selalu menuruti." ujar Lita.


Rya hanya diam tak menjawab perkataan Lita. Rya merasa kesal karna Boy dan Lita tidakk mendukung keinginannya, padahal ini karna dorongan keinginan bayi juga.. gumam Rya dalam hati..


Tok..


Tok..


"Nah pasti Boy, biar ibu yang buka pintu." ucap Lita sambil berdiri dan kemudian berjalan menuju pintu.


"Ehh bapak.. ehh tuan silahkan masuk.." Seketika Lita menjadi gugup, karna ternyata orang di balik pintu adalah Chandra, mantan suaminya.


"Gak perlu sungkan Lita, jangan panggil aku pak atau tuan, namaku Chandra.. apa kamu lupa?" ucap Chandra sambil memberikan senyuman manisnya pada Lita.


"Haiya.. masuk.. Rya ada di ruang tv." ucap Lita sambil menundukan wajah kemudian menutup pintu dan berjalan di belakang Chandra, ia bergegas menuju dapur untuk membuat teh.


"Hai sayang.." Chandra menyapa Rya.

__ADS_1


"Papa.." Rya berdiri dan bersalaman dengan Chandra.


"Apa kabar nak? gimana calon cucu papa?" tanya Chandra yang kemudian duduk disamping Rya.


"Baik paa, semuanya baik. papa sendiri gimana?" Rya balik bertanya.


"Teh nyaaaa.." Lita menaruh teh kemudian berjalan menuju kamar.


"Lita duduklah disini.. kitakan belum pernah ngabisin waktu bertiga." seru Chandra yang kemudian membut Lita menuruti walau sedikit canggung. "Oh yaa, dimana Boy? belum pulang?"


Mereka bertiga berbincang-bincang dan bahkan saling bercanda. Lita juga sudah mulai santai dan tidak canggung di hadapan Chandra mereka saling melempar canda dan senyuman.


"Bentar yaa paa, bu.. aku mau ke kamar dulu." Rya berbohong, padahal ia ingin memberi waktu untuk Lita dan Chandra mengobrol. Lagipula ia merasa sedikit gusar karena suaminya belum juga pulang.


Rya sudah dikamar, seperti biasanya ia akan mengintip jendela saat menunggu suaminya pulang. Berulang kali mengintip berharap Boy segera pulang, karna ini sudah lewat 3 jam dari jadwal pulang kantor.


"Boy kemana yaaaaa?" ucap Rya terus mondar-mandir dan menggigit ujung kuku.


Tok..


Tok..


Tok..


"Nah.. itu pasti Boy.." Rya langsung menuju pintu dan membukanya. "Eh papa.." Rya terlihat kaget, ternyata dibalik pintu itu adalah Chandra.


"Kenapa? kamu nunggu Boy ya?" tanya Chandra dan Rya hanya mengangguk.


"Papa mau pulang dulu, ohiya.. inih.. papa dengar kamu ingin babymoon.." ujar Chandra sambil menyerahkan amplop berwarna coklat.


"Jangan paa, nanti Boy marah.." Rya menolak amplop itu.

__ADS_1


"Papa cuma pengen rezeki papa ke makan sama anak papa, masa Boy marah.. terima yaaa.." Chandra menyodorkan amplop itu lagi, memaksa Rya agar mau menerimanya. "Yaudah papa pulang dulu, jangan lupa jaga kesehatan.." Chandra mengecup kening Rya lalu pergi, meninggalkan Rya yang termangu menatap amplop coklat ditangannya.


__ADS_2