
"Hon.. itu serius Vano mau married sama Dine?" tanya Rya saat baru saja sampai dirumah.
"heeem.." jawab Boy sambil mengambil stroler yang dilipat didepan motornya. "Kenapa?" tambah Boy.
"Alesannya apa tuh?" tanya Rya lagi.
"Katanya sih pengen kayak kita, tapi aku juga heran.. emang mereka tahu kita gimana?"
"Maksudnya?" tanya Rya sambil menaruh Barel di Box bayi kemudian berjalan menuju dapur untuk membuatkan Boy teh manis.
"Si Vano sih bilangnya pengen kayak kita, pasangan muda yang bahagia, karrier lumayan yang dirintis dari nol, punya babby.. Eh tapi kalo yang itu kayaknya lebih minat ke bikinnya aja sih.. hehe.." jawab Boy.
"Dih, nikah kan bukan gituan doang Hon!"
"Gituan apa?"
"Itu!"
"Apa?"
"Itu ish!"
"Ya apa?"
"Bikin babby.."
__ADS_1
"Mau?"
"Ish! maksudnya tuh gini lho, kalo nikah pengen yang enak-enak nya doang mending jangan dulu deh.. Mereka kan gak tau perjuangan apa yang udah kita laluin sampe saat ini.." beber Rya.
"Enak-enak apasih? mau dong.." sahut Boy.
"Ya romantis-romantisan, sayang-sayangan terus, prewed, pesta mewah, ya pokoknya gitu deh.. Nikah kan harus siap mental dan segalanya.. Gak gampang lho menyatukan dua kepala dalam satu atap tuh.." beber Rya lagi sambil menyalakan kompor memasak air untuk Boy mandi.
"Biarin ajalah, sayang.. Mereka juga pasti melalui pertimbangan dulu.." ucap Boy melihat istrinya malah heboh sendiri.
"Akutuh jadi inget waktu kita masih sering berantem, perang dingin, di uji ini itu.. ya namanya pasangan muda takutnya mereka gak tahan.. Aku aja pernah kan sampe keceplosan minta pulang ke rumah papa.." ucap Rya lagi yang masih kekeuh tidak setuju sahabatnya akan menikah muda seperti dirinya.
"Kok malah kayaknya definisi pernikahan itu syerem banget sih buat kamu?" tanya Boy.
"Bukan gitu, Hon.. Ya setidaknya kan aku udah mengalami duluan, emang hak mereka sih cuma yaa aku takutnya Dine berakhir jadi jamur.." jawab Rya.
"Janda dibawah umur!" jawab Rya.
"Ebusyet! udah jauh aja pemikirannya, udahlah gak usah dipikirin, kalo mau ya kamu ajak ngobrol Dine aja, sharing gitu.."
"Iya juga yah.. Yaudah nanti aku mau ketemu Dine.. Sekarang kamu mandi duluan gih, abis itu kita makan.."
***
Setelah selesai mandi dan makan malam, jam sudah menunjukan pukul 21:06 Boy dan Rya bergegas menaiki ranjang dan menutupi tubuh mereka dengan selimut. Tangan Boy merengkuh tubuh Rya memeluknya dari belakang, bibir Boy tak bisa diam dan terus mengecup ceruk leher Rya. Tangannya mulai bergerilnya menyusup kain yang membalut tubuh Rya.
__ADS_1
"Honeeeyy.." pekik Rya sambil menggenggam tangan Boy yang nakal.
"Heemm.." ucap Boy sambil menepis tangan Rya dan melanjutkan aksinya.
"Aku ngantuk.." ucap Rya.
"Aku pengen.." balas Boy.
"Besok deh, yaa.. Jadi double.." pinta Rya.
Tidak ada jawaban apapun dari Boy, lelakinya itu malah semakin menggerayangi tubuhnya. Rya tahu sebagaimana pun dia menolak, Boy akan tetap meminta jatah itu. Jadi malam ini meskipun lelah, ia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri Boy.
"Tapi main sendiri yaa, ceritanya aku terima service.." ujar Rya saat Boy memulai aksinya itu.
"Terima bongkar, gak terima pasang.." ucap Boy menyeringai sambil membuka pakaian Rya satu persatu.
Sepasang suami istri itu kembali melakukan penyatuan, dengan sentuhan dan desahan yang lagi-lagi menghiasi pertarungan hebat yang tidak ada bosannya untuk lakoni.
Dan percaya atau tidak, hal intim seperti itu membantu hubungan semakin hangat dan banyak lagi manfaat selain hanya menyalurkan nafsu birahi.
*
z
z
__ADS_1
*
Dih, kok gak tamat-tamat sih ini Novel😁 Tamatin atau buat konflik baru nih🤭