
Setelah mengemudi sekian lama membelah keramaian kota, akhirnya Rya merasa lelah.. Rya menepikan mobil lalu beranjak menuju pantai jakarta, Rya turun dari mobil dan berjalan mendekati air laut.
Suara ombak berderu mengahantam karang, mengalihkan suara tangisan Rya yang juga belum berhenti meskipun matanya sudah sangat sembab dan hidung yang sudah sangat merah.
Rya terus berjalan dan menatap kedepan, tatapannya kosong air mata nya terus mengalir. Rya bahkan sudah menangis tanpa suara. Tidak bisa mendefinisikan sakit hatinya lagi.
Rya terus berjalan dan membuka flat shoes, membiarkan kaki itu menginjak pasir pantai. Rasa dingin air laut mulai terasa saat air itu menerpa kaki nya, Rasa dingin dari hembusan angin juga menyeruak di tubuhnya.
Rya berhenti sejenak, dia terdiam sesaat dan memejam kan matanya. Tangannya terlihat mengepal karna amarah besar seperti awan hitam yang sedang menyelimuti.
Rya menarik nafas mencoba untuk tenang, tapi tidak. Rya tidak lagi bisa menahanya. Dengan segala amarah dan seluruh tenaga Rya berteriak sekencang mungkin mengeluarkan segala beban yg terasa berat.
"Duniaaaaaaa.. kenapa harus kaya gini? kenapa bahagia gak pernah berpihak sama gue.. kenapa mereka nyembunyiin hal sebesar ini, kenapa mereka terus menyiksa bathin gue. Siapa gue sebenernya? siapa?"
Rya berlutut karna tubuhnya terasa lunglai, ia kembali menangis sambil menunduk sesenggukan.
"Inikah takdir? kenapa harus semenderita ini hidup gue.. menyedihkan, hina.. sakiiittt... gue gak kuaaatt.."
Rya terus menangis sambil sesekali berteriak mengeluarkan isi hatinya. "Seandainya gue boleh milih, mending gue gak lahir ke dunia ini!!! udah cukup seumur hidup gue isinya menyakitkan semua!!! sampe kapaaaaaaaaaaannn?"
Hiksss...
*
Setelah beberapa saat tangisan Rya mulai mereda, mata nya sudah semakin membengkak, suaranya serak dan penampilannya terlihat sudah sangat berantakan.
__ADS_1
Rya menyulut rokok, menghisapnya sambil mendengar deburan suara ombak yg berderu. Menatap ombak yang berlarian sambil mengejar, merasai hembusan angin yang dibawa air laut.
Hingga akhirnya Rya merasa sedikit tenang. kemudian dia teringat kemana dia harus pergi membawa diri untuk membunuh malam ini..
Drrd..Drrd..Drrdd.. hape Rya bergetar daritadi, namun ia enggan melihatnya.
Drdd..Drrdd..Drrdd..
"Ck.. siapa sih?"
Rya mengeluarkan hape dan melihat ratusan notifikasi pesan dan puluhan panggilan tidak terjawab. Menatap malas kemudian memasukan ponsel itu lagi.
"Gue harus kemana sekarang? gak mungkin gue harus balik lagi kerumah!! Najuishh.. gak akan mau gue!!" Rya menggerutu sambil menyesap rokok lagi.
Namun tiba-tiba hape itu bergetar lagi, sebuah notifikasi panggilan masuk dari Boy. Dengan jengah Rya mengambil hape itu dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ada apa?" Rya menjawab datar.
"Lundimana? kenapa dari tadi gak bales pesan atau angkat telpon gue? lu baik-baik aja kan? apa lu sakit? gue ke rumah lu ya?"
Hih.. nyerocos aja kayak petasan!!
"Gue lagi pengen sendiri.." Dari sekain banyak pertanyaan Boy hanya itu yang keluar dari mulut Rya.
"Eh bentar, kok rame banget? lu lagi diluar ya? kayaknya bukan di rumah deh. Lu dimana Rya.. Hallo.. Haloo?"
__ADS_1
Rya menutup telponnya bahkan sebelum Boy selesai berbicara, Ia malas berbicara dengan siapapun, ia hanya sedang ingin sendiri. Rya kemudian menyulut rokoknya lagi meresapi rasa sakit itu sambil memandang pemandanganya malam dengan tatapan kosong.
*
Di lain tempat..
Boy merasa kebingungan setelah sekian lama menunggu ratusan pesan yang sudah dia kirim, namun tak ada satupun balasan dari Rya.
Tanpa putus asa Boy terus menghubungi Rya, sampai akhirnya Boy benar-benar berhasil menghubungi Rya.
Rya lu kenapa? lu dimana?! Ckk!!
Bukanya senang setelah menghubungi Rya, Boy malah terlihat gusar dan mengacak rambutnya. Bahkan Hape yang sejak tadi di pandanginya sudah melayang dan mendarat di ujung dinding.
Gue harus cari Rya, dimana pun dia gue harus temuin.
Boy yang tahu Rya sedang tidak baik-baik saja langsung terlihat panik, badannya tidak ingin di ajak diam. Boy bergegas mengambil hape yang retak karena baru saja dibanting itu, kemudian berlari menuju mobil, dia akan mencari Rya..
Duhh harus kemana dulu nih gue? masa kerumahnya? jelas-jelas dia gak dirumahnya!! Boy menggerutu saat sudah dibalik kemudi.
Yang penting gue cari dulu ajadeh!
Boy langsung melesatkan mobil sambil sesekali berfikir kemana dia akan pergi, ia mencoba mengingat kemana Rya selalu pergi jika sedang tidak baik.
Boy menepikan mobil nya di cafe favorit Rya, namun Rya tidak ada disana. Kemudian ke sebuah danau kota, tetap tidak ada. Boy tanps putus asa terus menyusuri tempat tempat yg sering Rya kunjungi.
__ADS_1
Rya lo dimana?