
"Jadi kapan kita nemuin papa kamu?" tanya Boy sambil menatap wanita yang sibuk membersihkan mulut yang belepotan sisa kuah.
"Tiga hari lagi kak Anggi ulang tahun, papa ngundang aku buat makan malem bareng-bareng. Kayanya itu waktu yang tepat.. Semuany pasti lagi pada kumpul." jawab Rya sambil menyeka mulut dengan tissue.
"Okay, jadi pas keluarga kamu ngumpul ya.." Boy bergumam sambil manggut-manggut.
"Boy.. tapi papa aku galak tau.." Rya menatap Boy dan mencebik manyun.
"Oh ya? tar aku di gigit gak?" tanya Boy.
"Kamu nih aku gigit.." ucap Rya dengan gemas ketika lelaki itu malah bercanda.
"Dih nakal, eh yaudah sih.. nih gigit aja kali.. mau apanya?" Boy merentangkan tangan, seolah mempermsilahkan Rya untuk memilih spot yang mau ia gigit.
"Ih itumah maunya kamu!!" Rya memukul paha Boy pelan.
"Mau nengok dede bayi boleh gak sih?" tanya Boy sambil berbisik.
"ish apa sih, nggak ah aku takut.." Rya mendelik cemas.
"Takut enak yaa.." ujar Boy sambil menggosok tengkuk leher Rya, membuat Rya merinding disco. "Pelan pelan kok sayang.." tambahnya sambil masih menggosokkan tangan ditengkuk leher.
__ADS_1
"Boooooooy.." Rya menggeliat merasa geli-geli enak.
"Apa tayang hmm.." Boy semakin sengaja membuat Rya merasa geli.
"Jangan sekarang!" ucap Rya.
"Dikit ajasih sayang, biar gak tegang.." ujar Boy.
"Gak mau.. kita harus konsul ke dokter dulu." Rya juga menginginkannya, tapi ia terus saja menolak. Takut sijabang bayi kenapa-napa didalam sana.
Setelah meraba dan merayu, akhirnya Boy mengalah. Karena wanita itu terus saja menolak. Dan akhirnya, mereka tertidur begitu saja diatas ranjang yang sama sambil berpelukan.
"Boy, Booooyy, Booy banguuun.." Rya menggerak-gerakkan tubuh Boy yang baru saja terlelap.
"Napa sayang? aku ngantuuuk." tanya Boy yang masih memejamkan mata.
"Aku pengen makan Bakso mercon.." ujar Rya.
"Ramen yang tadi kan masih ada, itu aja yaaa.. dipanasin lagi.." ucap Boy tanpa membuka matanya.
"Aku maunya bakso.. " ucap Rya keukeuh.
__ADS_1
"Besok ya sayang, sekarang aku ngantuk banget." Boy masih menjawab, namun tanpa membuka matanya sama sekali.
Hikkss.. Rya malah menangis ditepi ranjang dan akhirnya membuat lelaki itu bangun dan membuka matanya.
"Lho..kok nangis sih.. Jam segini mana ada tukang bakso sayang.. aku panasin ramen lagi aja yaa, kan sama ada bumbu pedes nya.." Boy menawari, berusaha membujuk Rya sambil mengusap rambutnya.
"Jangan salahin aku, salahin anak kamu kenapa jam segini pengen bakso.. hiks.." Rya masih menangis.
"Hufffftttt.." Boy melawan rasa kantuknya, ia berjalan menuju kamar mandi, membasuh muka menyegarkan diri. Ternyata menghadapi ibu hamil butuh kesabaran extra. Dan Boy hanya bisa mengalah lagi dan lagi. Lagipula kan memang dirinya yang mebuat wanita itu hamil dan jadi seperti itu.
"Kamu tunggu disini aja yaaa.." ujar Boy sambil mengenakan jaket dan mengambil kunci mobil.
"Ikuuuuuuuuut.." Rengek Rya yang sudah berhenti menangis.
"Udah malem sayang.. terus kan aku harus puter-puter dulu cari tukang bakso yang masi buka.." ucap Boy.
"Aku takut sendirian.."
"Yaudah gini aja, kamu tunggu disini terus kita video call sampe aku balik lagi kesini. gimana?"
Sejenak Rya berpikir, kemudian dia mengangguk dan tersenyum manja, Boy mengecup kening Rya kemudian pergi berpetualang untuk memenuhi keinginan Rya.
__ADS_1