
*3 Hari kemudian
Hari ini adalah hari ulang tahun Anggi, kakak Rya yang paling tua. Rya di undang untuk makan malam bersama keluarga yang sudah lama tidak ia temui. Dan sesuai kesepakatan, hari ini Rya akan datang bersama Boy. Untuk membicarakan masalah Rya.
Hari semakin gelap, Rya dan boy bersiap untuk pergi ke acara makan malam. Rya tampil anggun dengan dress selutut berwarna biru muda, di tambah sedikit riasan di mata dan bibirnya.
"Uluuu... sayang aku udah pinter dandan sekarang.. hehe." Boy menggoda Rya sambil mengancingkan kemejanya.
"Iiiihh.. Aku jelek ya kalo kaya gini.." Rya menatap penampilannya sendiri sambil menekuk wajah.
"Cantik sayang, cantik banget.. Sini deh liat di cermin."
Lalu Rya berjalan menuju cermin dan berputar melihat penampilannya lagi, Boy langsung mendekat dan memeluk Rya dari belakang. "Cantik kan?" ucap Boy sambil mengecup Rya.
Rya membalikan tubuhnya, membantu Boy mengancingkan kemeja, Boy tampak gagah sekali. "Keren banget, mo kemana sih?" giliran Rya yang menggoda Boy.
"Ketemu camer dong!!" ujar Boy sambil terkekeh.
***
Sudah sampai..
Rya menggenggam erat tangan Boy saat mereka baru saja turun dari mobil. "Honey, aku takuut.." ucap Rya semakin menguatkan tangan yang bertautan itu.
"Ada aku sayang.. Gak usah takut." ujar Boy.
Mereka perlahan masuk, dengan tangan gemetar dan hati yang berdebar. Rya di sambut hangat oleh mama Monik, Mega dan Anggi.
Mereka saling berpelukan melepas rindu sambil menanyakan kabar masing-masing. Rya berbincang santai dengan keluarganya kemudian mengenal kan Boy pada mereka.
Boy mengulurkan tangan sambil menyebut nama, berkenalan dengan ketiga wanita itu.
"Rya..." panggil lelaki tua yang barusaja keluar dari kamarnya. "Apa kabar nak?"
"Papa.." Rya memeluk lelaki itu. "Aku baik paa, papa bagaimana?" tanya Rya.
"Seperti yang kamu lihat, papa baik-baik saja." jawab Chandra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Syukurdeeeh, oh iya.. kenalin.. ini cowok Rya.."
"Hallo om.."
"Waahh.. udah bawak cowok ajanih.." canda Chandra. Dan mereka hanya terkekeh canggung.
Acara makan malam dimulai, acara santai yang hanya dihadiri keluarga inti saja. Boy memakan makanannya dengan sangat pelan, terjadi perang bathin dalam dirinya.
Harus Gimana mulainya? gue gak tega nyakitin mereka. Mereka orang-orang ramah dan baik banget. Pikir Boy.
Boy menelan ludah berkali-kali, lalu berpura-pura batuk. Rya yang memgerti isyarat Boy langsung menatap lelaki itu, menggelengkan kepala menanda kan agar Boy jangan dulu memulai.
Setelah selesai makan malam, sajian penutup di hidangkan. Terlihat Oni menghidangkan nya sambil sesekali melihat Rya dan tersenyum. Ia merasa sangat pangling melihat penampilan Rya.
Mereka mulai menyantap dessertnya, dan perlahan Rya memberanikan diri untuk mulai berbicara. "Paa maa.." panggil Rya pada kedua orangtua itu, menjeda sebentar kata-katanya sambil menatap mereia bergantian. "Ada yang ingin Rya bicarakan." tambahnya.
"Ada apa sayang? bicaralah.." ucap Wira sambil masih sibuk menyantap makanannya.
"Katakan saja Rya, ada apa? kok kamu terlihat sangat tegang?" ujar Mama Monic.
Boy menegapkan dada saat Rya mulai berbicara. Ia menyiapkan diri untuk segala konsekuensi yang akan terjadi.
"Restu?" Chandra membeo tidak mengerti. "Restu apa? apa kamu akan bekerja? atau kamu tetap ingin melanjutkan study di luar negri itu?" Chandra menatap Rya.
"Aku.. aku minta restu buat nikah sama Boy." Rya menggenggam tangan Boy dan Boy menyunggingkan bibirnya, mencoba tersenyum ditengah rasa gugup.
"Menikah? kamu masih muda Rya, jangan teruru-buru.." ujar Monik.
"Iya, masa depan kamu masih panjang Rya. " timpal Chandra
"Tapi paa.."
"Ryaaa, kamu ini cantik dan pintar. Kamu masih muda, usia kamu baru 19 tahun. Kami juga baru mengenal pacar mu ini, jangan tergesa-gesa. Capai dulu cita-cita mu." ujar Chandra sambil menatap putrinya.
"Ekhemm.." Boy berdehem . "Saya dan Rya sudah sepakat untuk menikah muda dan menyongsong masa depan kami bersama-sama om. Saya berjanji akan menjaga Rya dan membahagiakan dia." ujar Boy.
"Dasar lu dek!! kelamaan jomblo, sekalinya punya pacar pengen langsung kawin." Anggi ikut menimpali.
Mereka terus berargument, Boy dan Rya terus berbicara lembut untuk meminta restu orangtua itu. Namun dengan halus juga orangtua Rya menolak.
__ADS_1
"Rya sedang mengandung anak saya om tante." ucap Boy to the point.
Seketika ruangan hening, semua mata terbelalak tak percaya mendengar ucapan pria asing yang di bawa Rya itu.
"Janngan bercanda kamu!" Chandra menatap Boy dengan tatapan tajam.
"Saya serius om, saya kemari mau meminta restu untuk mempertanggung jawabkannya." ujar Boy lagi.
"Rya!!!!" kali ini Chandra menatap Rya.
"Apa yang Boy bilang, itu benar paa.." jawab Rya sambil menunduk.
Prang!! Garpu dan sendok digenggaman Chandra jatuh begitu saja. Bagai di sambar petir, Chandra merasa mati berdiri, mendapati kenyataan ini.
"Maafin Ryaa, paa.." Rya mulai menitikan air matanya.
Chandra berdiri, lalu berlalu meninggalkan meja makan. Lelaki itu berjalan menuju sofa dan termenung.
Monik mengikuti Chandra, wanita itu duduk di samping Chandra, mengelus punggung Chandra.
"Maa, papa gagal menjaga Rya.. Papa sangat malu dengan diri papa sendiri." Mata Chandra terlihat berkaca-kaca.
"Jangan menyalahkan diri, paa.. Mama juga sama merasa gagal.." ujar Monik.
Rya beringsut mengikuti orangtua itu, Rya berlutut sambil menundukan kepalanya. "Maafin aku.." Rya mulai menangis, merasa sangat bersalah dihadapan mereka. "Maafin aku yang udah kelewatan bikin kalian kecewa.." ujar Rya.
Chandra menatap putrinya, lalu Chandra mengingat bagaimana mereka sering melupakan anak-anak dengan kesibukan duniawi, kurang memperhatikan dan jarang memantau mereka. Terlebig saat putrinya itu terluka mengetahui kenyataan yang sesungguhnya, tentang siapa dirinya. Mata Chandra semakin terasa perih seiring luka yang menyayat hatinya. "Papa yang harus minta maaf.." Chandra ikut-ikutan menangis.
Boy menundukan kepalanya menyaksikan kejadian pilu itu, ia merasakan sakit saat melihat seorang pria menangis dengan se-begitu pilunya, artinya Chandra sangat terluka. Kemudian Boy ikut berlutut di hadapan Chandra.
"Lampiaskan amarahnya om, om boleh pukul aku.... Maaf aku gak bermaksud buat keluarga kalian berantakan." ujar Boy dengan tegar. Ia sudah berlapang dada jika harus menerima hukuman apapun, yang terpenting ia bisa bertanggung jawab atas Rya.
Chandra menarik nafas panjang, mencoba tenang dan menghentikan air matanya. Perlahan ia membuka mata dan menatap Boy.
"Siapa kamu berani-beraninya merusak hidup anak ku!" Chandra menarik kerah kemeja Boy dan Boy hanya pasrah saja.
"Jangan pukul Boy! pukul aku! aku yang salah!" Rya ikut mencekram tangan Chandra yang mencekram Boy.
Chandra melepaskan cengkramannya, ia langsung memeluk Rya saat itu juga. "Maafin papa sayang, ini semua karna kesalahan papa, papa yang meninggalkan kamu sendiri di luar sana." Chandra kembali terisak di pelukan Rya dan Rya pun kembali ikut menangis, mereka berpelukan sambil tersedu dan mengusap punggung masing-masing.
__ADS_1
"Sudah..., tidak ada gunanya kita menangis dan menyesal, semua nya sudah terjadi. lebih baik kita bicarakan semuanya baik-baik, dengan kepala dingin." ujar Monic sambil mengelus punggung yang sedang berpelukan itu.