
Esok hari..
Rya bangun lebih awal seperti sebelumnya. Namun biasanya jika ingin sarapan ia hanya perlu berteriak, kini dirinya yang harus menyiapkan dan membeli bahan-bahannya juga.
Rya mengambil uang pemberian Anggi kemudian gegas berjalan menuju pasar tradisional yang terletak kurang lebih 500 meter dari rumahnya.
Setelah 1 bulan melewati fase hidup nya yang sekarang, Rya sudah mulai terbiasa dengan segalanya. Termasuk pergi ke pasar yang terbilang kumuh dan kurang higienis, namun standar sudah tidak berarti lagi. Rya bahkan harus berjalan kaki mencapai tujuanya. Rya berusaha tidak mengeluh, meskipun terkadang rasa lelah sering menerpanya.
"Anggap aja kita olahraga ya, dek.." Ucap Rya sambil memegang perut dan juga beberapa belanjaan di tangannya.
Setelah menghabiskan waktu satu jam untuk jalan kaki menuju pasar, berbelanja, dan jalan pulang lagi akhirnya Rya sampai di rumah. Boy belum juga bangun ternyata.
"Papa kamu kalo tidur kayak latihan mati!" ucap Rya mengumpat seolah sedang curhat pada sang jabang bayi. Tiba-tiba bayi yang di dalam perut itu menendang seolah refleks tidak terima ucapan sang bunda.
"Uwgh.. Astaga, kenceng banget sih dek nendang nya. Iya-iya mama ralat deh ucapannya hehe. Amit-amit ya tuhan!"
Rya kemudian mulai memasak semua bahan yang dibeli tadi, ternyata seiring berjalannya waktu Rya mulai bijak dalam menggunakan uang, apalagi di saat keaadaan seperti ini.
Uang dari Anggi ia belikan beras, minyak dan bahan pokok lain untuk beberapa hari ke depan. Ia harus berhemat, tapi bukan berarti pelit.
Setelah selesai memasak Rya kemudian mulai menyelesaikan tugas rumah, yaitu cuci piring kemudian menyapu lantai. Rya berjuang melawan rasa malas yang mengidap di dirinya dimasa kehamilan tua uni. Lalu setelah semuanya selesai ia pun bergegas mandi kemudian membangunkan Boy.
__ADS_1
"Honey..." ucap Rya saat menghampiri Boy yang tertidur memunggunginya. "Bangun, sayang.." tambahnya sambil menggoyangkan tubuh Boy. "Kok diem ajasih?"
"Heeemm, apa sayang?" tanya Boy sambil menolehkan sedikit kepalanya.
"Bangun.. udah siang tauu.."jawab Rya.
"Jam berapa ini?" tanya Boy lagi.
"Udah jam 9 lebih, bangun trus mandi.. jangan males-malesan ah!"
Boy memejamkan mata dan menghela nafasnya.
"Kok malah tidur lagi sih?!" ucap Rya saat melihat Boy malah memejamkan matanya lagi.
"Aku lemes sayang, 30 menit lagi yaa.." pinta Boy.
"Nggak! cepet mandi! aku laper pengen sarapan.." balas Rya sedikit tegas.
Gullp!! Boy menelan saliva nya saat mendengar Rya merasa lapar. Pasalnya dia tidak punya uang sepeserpun di saku.
"Hm.. Sa-sayang.." kata Boy terbata.
__ADS_1
"Banguuuun, aku udah masak.. nanti keburu dingin!" ucap Rya sambil menarik lengan Boy.
"Masak?"
"Iya aku udah masak, cepet mandi. Selera makan aku ntar jadi ilang kalo cium bau acem ini.." ucap Rya sambil mencubit pelan ketiak Boy.
***
"Kok kamu punya uang?" ucap Boy saat Rya mengambilkan nasi untuknya.
"Emang aku belum cerita ya?" jawab Rya sambil sibuk mengambil beberapa lauk ke piring Boy.
"Cerita?" tanya Boy heran.
"Jadi kemaren tuh kak Anggi main kesini, terus dia ngasih uang gitu. Udah aku tolak sih, tapi dia maksa.. kamu jangan marah yaaa.." ucap Rya bercerita, ia kembali mengingat saat Boy marah karna dirinya menerima uang dari papa Chandra.
"Oh gitu, bukannya kak Anggi di LN ya?" tanya Boy lagi.
Rya kemudian lanjut bercerita tentang percakapannya dengan Anggi kemarin sambil melanjutkan acara sarapan yang lebih baik untuk mereka berdua.
Temen gue, keluarga gue gak ada satupun yang bantu atupin peduli! fvck! Thx, kak. Gue gak bakalan lupain orang-orang yang bantu gue saat gue susah gini! Gumam Boy dalam hati.
__ADS_1