Pasangan Muda

Pasangan Muda
Nama


__ADS_3

Hari ini littel Boy sudah memasuki usia satu minggu, Boy dan Rya berniat mengadakan acara kecil-kecilan untuk pemberian nama putra pertama mereka. Rya sudah menyiapkan beberapa hidangan seperti tumpeng dan lainya dibantu bu Nani, tetangganya.


"Dikit lagi, neng. biar ibu aja yang beresin.. mending kamu mandi dan siap-siap sebelum banyak tetangga dateng.." ucap bu Nani.


"Gak paApa bu, dikit lagi ini kok.. Nanti aku siap-siapnya kalo udah selesai." ucap Rya menimpali sambil menata beberapa hidangan di atas meja makan.


"Udah sana cepet, mumpung dedek nya lagi tidur. Kalo punya bayi tuh harus pinter-pinter manfaatin waktu." ujar bu Nani sambil mengambil alih kegiatan Rya.


"Gak paApa nih bu? aku jadi gak enak ngerepotin ibu terus.." ucap Rya sambil memperhatikan bu Nani yang sibuk.


"Gak paApa.. udah sana.." jawab bu Nani sambil tersenyum ke arah Rya.


"Makasih banyak ya bu.." ucap Rya sambil memeluk bu Nani secara spontan.


"Lho.. disuruh mandi kok malah pelukan.." ucap bu Nani.


"Aku punya 2 ibu. tapi.. aku gak tau semurni apa kasih sayang seorang ibu.." ucap Rya dengan berkaca-kaca. "jujur aku seneng banget ada bu Nani disini.. tapi mungkin lebih seneng lagi kalo ada ibuku, mama Monic, mama Rena juga." tambahnya.


"Ibu gak masalah kok, kalo neng ngerepotin ibu.. aplaagi.. kalo nganggep ibu, sebagai ibu neng juga.. ibu gak paApa.. ibu seneng.." ucap bu Nani.


"Makasih banyak yaa, bu.." 🤗🤗🤗


.

__ADS_1


.


.


Waktu pemberian nama itu tiba, Istana mungil Boy dan Rya sudah di penuhi beberapa tetangga yang sengaja mereka undang untuk menghadiri syukuran kecil-kecilan itu. Boy dan Rya sudah siap dengan baju couple berwarna putih, begitupun littel Boy yang memakai baju senada. Boy membuka sambutan untuk para undangan dan berterima kasih kepada mereka semua yang hadir.


Setelah itu Boy akan mengumumkan nama putra mereka, namun sebelum Boy mengucapkannya, tiba-tiba saja beberapa orang datang. Semua pasang mata menoleh kearah orang-orang itu, yang tak lain adalah keluarga mereka.


Papa Wira, papa Chandra, mama Monic dan mama Rena..


Yaaa... mereka semua tiba-tiba hadir...


Beberapa orang tampak bergosip melihat kedatangan mereka, apalagi mereka datang menggunkan mobil dan pakaian yang terlihat bukan orang biasa.


Tanpa basa-basi mereka hanya mempersilahkan para orang tua itu untuk duduk, Boy kemudian melanjutkan acaranya. Entah perasaan apa yang Boy rasakan saat melihat keluarganya datang. Bukannya dia menginginkan ini? tapi nyatanya ia merasa biasa saja. Tidak merasa sedih ataupun senang, begitu juga dengan Rya.


"Baiklah bapak-bapak, ibu-ibu.. saya akan memperkenalkan putra kami yang kami beri nama BARRA EL FATIH.." ucap Boy sambil menekankan nama belakang putranya sambil melirik ke arah para orang tua. Boy dan Rya sudah sepakat untuk sengaja tidak mencantumkan nama keluarga mereka di dalam nama putra mereka, dan setelah itu para orang tua hanya menatap datar tanpa ekspresi.


Rangkaian acara sederhana itu akhirnya selesai, para tamu mulai mengundurkan diri setelah mengucapkan selamat dan membawa pulang bingkisan kecil dari Boy dan Rya. Dan kini, di rumah itu tinggal Boy, Rya dan para orangtua yang nampak sama-sama canggung.


"Ada angin apa nih?" ucap Boy sambil menghampiri para orang tua itu dengan ekspresi datar, bahkan Boy tidak menyalimi dan menyambut hangat kedatangan mereka.


"Boy!" senggol Rya melihat gerik Boy yang kurang sopan.

__ADS_1


"Sayang.. bawa Barel masuk!" ucap Boy dengan tenang.


"Maaf papa baru berkunjung, papa ada keperluan di luar kota kemarin." ucap papa Wira.


"Oh, keperluannya janjian ya?" ucap Boy datar mengingat kedua belah pihak keluarga yang datang bersamaan.


"Rya, papa mau gendong cucu papa.." pinta papa Chandra sambil merentangkan tangan meminta untuk menggendong bayi mungil di pangkuan Rya.


"Cucu? kalian anggap Barel cucu setelah kalian buang kita?" sahut Boy dengan senyum smirk.


Entah bagaimana, suasana pertemuan keluarga yang dinantikan itu menjadi dingin dan semakin dingin.


"Apa maksud kamu?" ucap Mama Rena yang ikut berkomentar.


"Kami tidak membuang kalian.. kami hanya.."


"Apa?" sambar Boy di percakapan nya dengan papa Wira.


"Honey..! gak boleh gitu.. kita juga orang tua sekarang.. gimana kalo nanti Barel bersikap kaya gitu ke kita." ucap Rya sambil menenangkan Boy.


Tanpa menjawab Boy malah melengos meninggalkan ruangan itu, sementara Rya dan semua mata hanya menatap punggung Boy yang melangkah pergi.


"Kalian mau kenalan sama Barel? ini.." ucap Rya sambil memberikan bayi nya kepada papa Chandra. "Aku titip dulu yaa.. aku mau nyusul Boy.." tambahnya.

__ADS_1


Dan detik selanjutnya para orang tua itu bergantian menggendong dan seolah berbicara dengan bayi pintar yang hanya tertidur itu, sementara Rya dan Boy sedang berbincang-bincang di kamar.


__ADS_2