
Rya berjalan mendekati Boy sambil membawa amplop coklat berisi uang pemberian Chandra. Dari jauh Boy terlihat menatap Rya dengan alis yang menukik.
"Amplop apa itu?" tanya Boy.
"Aku bakal ceritain tapi uda janji kan gak bakal marah?" ucap Rya sambil menatap Boy. "Minum dulu tuh kopinya, sambik sarapan ajaa." tambahnya.
Boy dan Rya duduk di sofa, Boy masih menatap heran sambil meminum kopi dan memakan roti panggang di piring.
"Jangan bilang kalo..." Boy memulai pembicaraan itu
"Sssttt.. dengerin dulu.." Rya menatap Boy yang sedang sibuk dengan sarapannya. "Jadi gini.. papa ngasih ini ke aku." Rya memperlihatkan isi amplop itu. "Dia denger soal aku pengen babymoon." tambahnya.
Astaga!!! babymoon lagi!! Baru aja moodnya membaik. Gumam Boy.
"Babymoon lagi? dan kamu kenapa cerita ke papa? kenapa kamu terima uang itu? Aku uda bilang yaa!! jangan terima bantuan finansial dari keluarga kita!! Kamu gak percaya kalo aku bisa wujudin keinginan kamu dengan usaha ku sendiri hah?!" Boy meletakan roti yang sejak tadi ia pegang, mendengus kesal menatap sembarang arah.
"Bukan gitu, dengerin dulu.." Rya memegang lengan Boy.
"Udah lah aku mau berangkat, udah kesiangan nih." Boy beranjak dari sofa itu.
"Kenapa sih lu jadi marah marah terus? salah gue apa coba!!" ucap Rya sedikit berteriak.
__ADS_1
"Coba ulang? kamu panggil aku apa? elu?" Boy mengambil tas kerjanya, kemudian pergi meninggalkan Rya begitu saja tanpa mengecup kening seperti biasanya.
Dan Rya hanya bisa menatap punggung Boy yang kian menjauh dari pandangannya.
"Tuan tunggu sebentar, ini ada surat lagi.." Bi wati berlari kecil mengejar Boy menuju teras.
"Surat apa lagi?" Biy mendesah kesal.
"Gak tau, bibi dapet dari kotak surat di depan.." jawaban sama seperti kemarin.
"Surat merah lagi? yaudah makasih bi.." Boy mengambil surat itu kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke kantor. Ia tampak frustasi apalagi mengingat tentang Rya.
"Rya... kenapa kamu jadi rewel gini sih? Harusnya kamu ngertiin aku dong, support aku bukan nya terus minta hal yang belum bisa aku kasih. Akutuh masih ngerangkak, belum benar benar berdiri!! Parah nya lagi kamu malah cerita ini ke papa Chandra, bahkan nerima uang dari papa Chandra juga!! Ckk!!" Boy mencengkram kemudinya sambil mendengus kesal.
Boy langsung duduk menghadap meja kerja yang sudah penuh dengan tumpukan berkas, kemudian ia mengingat soal surat merah yang tadi ia bawa. Boy pun membuka nya.
Lagi lagi boy memdapati hal yang sama, sebuah foto dan secarik kertas bertuliskan Xwarning!!X. Boy meremas surat itu kemudian membuangnya begitu saja.
***
Rya masih melamun di kamar memikirkan perbedaan sikap Boy terhadap dirinya. Tatapannya terlihat lurus, bahkan posisi Rya belum berubah semenjak Boy pergi.
__ADS_1
"Emang salah nya dimana? selama ini kan aku gak minta apa-apa, wajar kali kalo sekarang aku punya permintaan. Cuma minta babymoon doang.. Apa itu berlebihan?" Rya berujar sendiri.
Rya lupa bahwa suaminya hanya lah karyawan biasa, padahal ini sudah menjadi kesepakatan bersama. Boy dan Rya ingin hidup sederhana dan mencapai sukses bersama-sama, namun di tengah perjalanan Rya malah seolah lupa dan bahkan selalu meminta hal yang di luar kemampuan gaji suaminya.
"Ini ngidam atau aku yang pengen yaa? perasaan ngotot banget pengen babymoon. Boy juga kenapa marah liat uang dari papa? padahal kan bukan aku yang cerita ke papa!! lagian papa bilang nya bukan buat babymoon!! ini cuma karna papa pengen aku makan rezeky nya!! huuuuhhh Boy nyebelin.." Rya berujar lagi.
"Ryaaaaaa.." Lita memanggil putrinya yang sejak tadi tidak turun dari kamarnya. "Kamu lg apa ibu? tumben belum turun? cepetan makan dulu.. dari pagi kamu belum keluar kamar.." ucap Lita.
Rya hanya diam dan memandang ke luar jendela.
"Ryaaaaaaaa.." Lita menghampiri Rya yang duduk sambil manyun di sofa.
"Aku lagi gak nafsu makan bu.." ujar Rya tanpa melihat Lita.
"Gak kasian sama calon anak kamu? lagian kenapa sih kok muka nya di tekuk gitu?" tanya Lita.
Kemudian Rya mulai menceritakan keadaannya dengan Boy, Lita hanya mendengarkan dengan seksama tanpa mencela pembicaraan putrinya yang sedang curhat.
"Ryaa.. gak semua keinginan kamu itu bisa langsung terwujud nak, coba inget inget deh beberapa bulan kebelakang tentang keinginan kamu yang pengen ini pengen itu.. Boy selalu berusaha menuruti nya.. Dan sekarang soal keinginanmu babymoon, ke luar negri malah.. gaji Boy setahun juga gak bakal cukup! apalagi kamu sedang hamil dan itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit sampai kamu lahiran, berulang kali ibu dan Boy mengingatkan bahwa dia cuma karyawan biasa. Mungkin Boy seperti itu karna Boy lagi banyak pikiran dan banyak kerjaan, sebaiknya kamu bersikap lebih bijak sebagai seorang istri.." Lita menasehati putrinya itu
Rya menyerap semua kalimat yang Lita ucapkan, Ia baru sadar bahwa selama ini dirinya terlalu banyak menuntut. Rya hanya memikirkan keinginannya tanpa memikirkan bagaimana dengan Boy..
__ADS_1
"Aku harus minta maaf, aku harus perbaiki sebelum masalah ini makin rumit.."