
Hari sudah mulai larut namun Boy belum juga pulang. Membuat hati dan pikiran Rya semakin gelisah. Rya berjalan mondar mandir sambil mengintip ke luar jendela, berharap mobil Boy sudah terparkir.
Jarum jam menunjukan pukul 22:00 akhir nya Boy sudah sampai di rumah, Boy merebahkan diri di sofa dan menarik nafas panjang sebelum beranjak ke kamar.
"Ternyata gini rasanaya huufft.." Boy membuang nafas lelahnya. Memejamkan mata sebentar.
Sementara Rya yang sejak tadi menunggu sudah tertidur. Boy yang mendapati Rya tertidur hanya menatap wajah cantik Rya dan mengecup lembut keningnya kemudian pergi mandi.
Setelah selesai mandi bukannya istirahat Boy masih harus menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat terselesaikan di kantor, Boy membuat secangkir kopi lalu duduk di depan laptop. Jari nya sibuk mengetik dan membuka file file penting.
Boy bekerja sangat keras karna gaji seorang karyawan tidak sepadan dengan pengeluarannya. Meskipun yang memberi gaji adalah ayahnya sendiri tapi Boy tidak pernah menerima lebih dari apa yang harus dia terima. Ia selalu menolak bantuan finansial dari Wira ataupun Chandra.
"Honeeeey.. udah pulaaang.." Rya mengeliat sambil menatap Boy yang sedang sibuk dengn laptop.
"Hai sayang.." Boy meninggalkan laptop dan menghampiri Rya.
"Hmm ciaaan.. maaf yaaa, kamu jadi bikin kopi sendiri.. akunya ngantuk jd ketiduran.." Rya mengelus wajah Boy sambil memasang wajah imud.
"Its okay sayang, bobo lagi aja nanti aku nyusul.. masih ada kerjaan dikit lagi.." Boy menjawil hidung Rya dan tersenyum.
__ADS_1
"Udah makan belum? aku belum makan soalnya.. aku nungguin kamu pulang." tanya Rya.
"Ya ampun kenapa nunggu aku, kan aku bilang bakal pulang telat.. mama kamu nakal yah dek.." ucap Boy sambil mengelus perut Rya. "Ayo makan dulu.."
***
Setelah perut terisi, Rya menemani Boy menyelesaikan file terakhirnya sambil sesekali bercerita.
"Oh iaaa, gimana tadi pemeriksaan nya?" tanya Boy.
"Seneng tau.. aku udah bisa denger suara detak jantung bayinya. Apalagi kalo cek nya sama papa ya dek pasti senengnya pake banget.." ujar Rya.
"Maaf sayang, aku janji pemeriksaan berikutnya aku yang anter. yaaaa.."
"Cerita apa sayang? aku siap dengerin." Boy menutup latopnya dan menatap rya.
Kemudian Rya menceritakan kejadian saat dia menemukan kotak misterius di depan rumah nya. "Seremm banget tau, aneh kan? coba deh pikir-pikir, masa iya..... bla.. bla.. bla.." Rya terus saja mengoceh menceritakan kejadian itu.
"Mungkin orang iseng.. dah gausah di pikirin, besok aku liat trus kita buang, okay.. " Boy mengusap rambut Rya. "Tidur yuk uda malem.." ajak Boy.
__ADS_1
Mereka naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur, Rya memeluk Boy dan tidur di dada suaminya. Boy memainkan rambut panjang Rya sambil terus memikirkan kotak yang Rya ceritakan. Ia merasa sangat penasaran.
.
.
.
.
.
Rya sudah tidur lagi, Boy memposisikan Rya pada bantal kemudian menyelimuti Rya. Boy turun dari ranjang dan berjalan perlahan meninggalkan kamar untuk melihat kotak yang sejak tadi membuatnya sangat penasaran.
Boy mengambil kotak di belakang rumah kemudian membawanya ke dapur, ia membuka dan melihat isi kotak nya. Benar saja yang Rya ceritakan, ia menemukan sebuah boneka jeramy dan sebuah potret dia bersama Rya.
Boy menatap kedua benda yang ada di tangannya. Ia merasa sangat aneh. "Boneka nya di tancep paku, terus muka gue ancur? Kayak sinetron deh, masa iya gue di terror? Terror apa? perasaan gue gak punya musuh.." Boy bertanya-tanya.
Boy meletakan kembali dua benda itu dan menaruhnya di belakang, ia mencuci tangan kemudian kembali ke kamar.
__ADS_1
"Udah lah.. lagian cuma boneka sama foto, yang penting gak bahaya." pikir Boy.
Boy merebahkan diri di samping Rya, ia menatap Rya dengan penuh kasih. Boy merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah Rya, kemudian mengecup kening Rya dan tertidur.