Pasangan Muda

Pasangan Muda
Restu


__ADS_3

"Siapa namamu? kau tunggal dimana? siapa keluargamu?" Chandra akhirnya mulai bertanya kepada Boy setelah suasana sudah lebih mencair.


"Nama saya Brian putra Atmadja om. Tapi orang-orang lebih sering panggil saya Boy. Saya tinggal di kompek X." jawab Boy.


Mendengar nama Atmadja di sebut membuat mata Chandra dan Monic termangu.


Atmadja? Orang sukses dan kaya raya bahkan hampir mengakusisi perusahaan ku. Gumam Chandra.


Wow, pintar juga anak itu menggandeng pria. Senang rasanya jiia aku bergabung dengan keluarga Atmadja. Aku harus memanfaatkan situasi, aku akan kembali pada Chandra apapun caranya. Gumam Monic.


"Owh.. kalau begitu langsung adakan pertemuan keluarga saja.." ujar Monic.


"Restuin aku paa, ini permintaan pertama aku. apa papa gak mau ngabulin? apa papa gak mau liat aku bahagia?." Rya masih bersimpuh di lutut Chandra.


Chandra membuang nafas beratnya. "Kamu yakin bisa bahagia kan anak ku?" tanya Chandra kepada Boy.


"Aku yakin om, aku berjanji akan selalu membuat Rya bahagia. Aku gak akan pernah gores hati Rya sedikit pun. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Rya." jawab Boy sambil menatap Chandra penuh keyakinan.


"Apa kamu yakin dengan ucapan mu? Rya masih sangat muda dan sekarang dia hamil, kamu akan mengalami masa masa sulit. Rya akan sangat manja dan merepotkan kamu." tanya Chandra lagi.


"Aku akan jadi ayah dan suami siaga buat Rya om, om gak perlu ragu mempercayakan hidup Rya sama aku.. karna kebahagiaan Rya adalah prioritasku." Boy menjawab begitu lantang.


"Saya pegang kata kata kamu!" Chandra balik menatap mata Boy membuat pandangan mereka bertemu.


Boy dan rya kembali duduk di sofa, mereka mendengarkan nasihat dan wejangan dari Chandra. Akhirnya Boy dan Rya bisa tersenyum lega saat Chandra sudah memberikan lampu hijaunya.


"Sampaikan salam saya kepada orangtua mu, kami menunggu kedatangan mereka." ujar Chandra saat Boy pamit pulang.


"Baik om." ucap Boy.


Tak lama kemudian Boy berpamitan, dia pulang sendirian karna Cyandra melarang Rya untuk keapartemen sementara waktu. Rya akan tinggal dirumah sampai mereka benar-benar menikah.


Rya mengantar Boy sampi halaman depan, mereka tersenyum bahagia karna sudah melewati rintangannya.

__ADS_1


"Akhirnya.." Boy bernafas lega sekarang.


"Boy.. makasih yaa buat ketulusan kamu memperjuangkan aku. Kamu gantle banget ngadepin papaku dan papa Wira.." ucap Rya.


"Gak perlu bilang makasih, itu memang udah seharusnya aku lakuin.." ujar Boy sambil tersenyum tulus.


"Love you.." ucap Rya sambil tersenyum malu-malu.


"Love you more.." ucap Boy.


Boy mengecup kening Rya kemudian masuk kedalam mobil dan bergegas pulang.


***


 


Beberapa hari kemudian..


 


 


Pertemuan keluarga pun tiba, Boy mengajak keluarganya bertandang ke rumah Rya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Monik dan Chandra.


Mereka duduk bersama di ruang tamu, Oni dengan sigap menyediakan teh dan beberapa makanan di meja.


"Sepertinya saya tidak asing dengan anda tuan Chandra.." Wira memulai dengan berbasa-basi.


"Saya juga merasa begitu.." ujar Chandra.


"Apakah anda pemimpin perusahaan RELO ?" tanya Wira.


"Anda betul tuan.." jawab Chandra.

__ADS_1


Mereka tertawa kecil karna ternyata mereka pernah menjadi rekan bisnis.


"Jangan panggil tuan, panggil saja Wira. jangan sungkan calon besan." Wira tersenyum ramah.


Mereka terus bergurau sebelum berbicara masalah inti, sementara mata Boy terus mencari keberadaan Rya. Karena sejak tadi, wanita itu tidak menampakkan diri.


Mereka mulai membicarakan inti masalah, mereka bermusyawarah untuk pelaksanaan pernikhan Noy dan Rya. Mereka terus berbicara antar orang tua, Sementara Boy merasa penasaran dengan apa yang sedang Rya lakukan. "Boy nemuin Rya dulu yaa.." pamitnya, Kemudian dia berdiri dan menuju kamar Rya.


Boy menemukan Rya yang sedang terbaring sambil mengusap perutnya, Boy langsung berlari dan menghampiri Rya. "Kenapa sayang?" tanya Boy sambil membelai kepala Rya dan duduk disampingnya.


"Aku gapapa, cuma sedikit lemes aja karna dari tadi aku muntah terus.." ujar Rya dengan suara lemah. "Maaf ya.. aku gak bisa turun." Rya menyimpulkan senyuman diwajah pucatnya.


"Kita ke dokter yaa?" ajak Boy.


"Nggak perlu sayang, usapin perut aku ajaa.. Mungkin babynya kangen..." ujar Rya


"Beneran gapapa?" Tanya Boy sambil mengelus perut Rya.


Tok..


Tok..


Tok..


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Rya yang terbuka, siapa lagi yang kebiasan mengetuk pintu Rya kalau bukan Oni? Oni berada di ujung pintu. Ia memberitahu kan bahwa tuan Chandra meminta Boy dan Rya untuk turun.


"Biar aku aja, kamu gak usah turun yaa.. istirihat aja disini.." ucap Boy sambil masih mengelus perut Rya.


Tapi Rya memaksa untuk ikut meskipun tubuhnya terasa lemas, Boy kemudiam memapah Rya keluar dari kamar.


Rya menyapa Wira dan Rena, Mereka saling tersenyum dan bertegur sapa. Rya duduk di samping Boy dan tak lama Kemudian papa Chandra memutuskan keputusan akhirnya.


Mengingat Rya yang sedang mengandung, mereka sudah sepakat bahwa Boy dan Rya akan menikah minggu depan.

__ADS_1


__ADS_2