
Beberapa bulan kemudian..
Setelah kejadian Rya keguguran, keluarga itu sekarang nampak seperti sebuah keluarga. Tidak ada lagi saling mencela atau menatap penuh tatapan hardik. Kini semuanya saling merangkul satu sama lain, saling memeluk layaknya sebuah keluarga. Perang dingin itu kini benar-benar sudah selesai.
Mama Monic dan papa Chandra selalu menyempatkan diri untuk berkunjung atau sekedar bertanya kabar tentang keluarga pasangan muda itu, atau sesekali Boy dan Rya yang mengunjungi mereka.
Begitupun Mama Rena, wanita yang selalu menghardik Rya dengan tanpa malu menunjukkan sikap bahwa dirinya tidak menyukai Rya, kini sudah kembali menjadi Mama Rena yang sangat menyayangi Rya. Sadar bahwa peran Rya sangat besar dan penting untuk hidup anak semata wayangnya. Rena kini sadar bahwa dirinya tidak bisa egois untuk memiliki Boy seratus persen, meskipun Boy adalah anak satu-satunya.
Sementara Rya dan Boy semakin bahagia karena berhasil menyatukan keluarga itu kembali, sudah bisa menunjukkan bahwa mereka bisa melewati semuanya, melewati perjuangan setengah mati hingga mencapai titik ini. Pasangan itu berhasil menunjukkan pada dunia bahwa mereka layak diberi tepuk tangan.
Kini istana Rya dan Boy terasa lebih hidup karena Aura positif di dalamnya. Tidak ada lagi kata saling sindir menyindir dan adu mulut yang tiada habisnya. Justru kini di rumah itu selalu terlihat dan terdengar sebuah tawa dan senyuman. Rumah itu sekarang benar-benar terasa hidup kembali.
"Bu tolong buatin teh anget yaaa, pake jahe juga boleh.." ujar Rya yang setengah berlari dari anak tangga dengan raut khawatir di wajahnya.
"Eh.. iya neng,, bentar ibu bikinin.." jawab bu Nani yang memang kebetulan ada didapur.
"Kenapa Rya?" Mama Rena keluar dari kamar yang memang ada di lantai bawah.
"I-tu mah, Boy dari kemarin masuk angin kayaknya.. Muntah-muntah terus padahal semalem udah aku pijitin." jawab Rya dengan perasaan gusar. Panik karena memang lelakinya itu jarang sekali sakit.
"Muntah-muntah? Sejak kapan?" Mama Rena bertanya lagi dengan ekspresi menyelidik.
__ADS_1
"Kayaknya udah beberapa hari ini deh Mah, Boy bilang dia lemes banget terus perutnya tuh kayak diaduk-aduk gitu.. Kasian bangeeeett... kita kayaknya harus buru-buru ke dokter deh, takutnya asam lambung atau apa gitu.. Boy kan lembur terus." Rya tidak bisa mengekspresikan betapa khawatirnya ia saat ini. Melihat Boy seperti itu rasanya Rya ikut-ikutan tidak berdaya.
"Asam lambung? sejak kapan Boy punya riwayat asam lambung?"
"Gak tauuu.. Makanya kita harus periksa biar tau!!"
"Kayaknya kamu deh yang harus diperiksa.." ujar Mama Rena.
"Lho... kan Boy yang sakit, kenapa aku yang diperiksa?" Rya mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Mending kamu tespack gih, biar mama yang anterin teh nya buat Boy." ujar Mama Rena lagi, ia yakin Boy seperti itu karena menantunya kembali mengandung janin dirahimnya.
"Tespack?" Rya semakin melongo tidak mengerti.
Detik selanjutnya Mama Rena Mengambil teh yang sudah dibuat oleh Bu Nani, membawanya menuju lantai atas di mana Boy berada. Sementara Rya menuruti kata-kata Mama Rena meskipun tidak mengerti apa maksud mertuanya itu menyuruh ia untuk melakukan tespek.
Boy terduduk lemah saat mama Rena membawakan teh hangat untuknya. Sudah berkali-kali lelaki itu merasa mual dan muntah. Perutnya terasa sakit, perutnya terasa kembung, nafsu makan Boy juga jadi berubah. Entah penyakit apa yanh tengah bersarang dalam dirinya.
"Enek banget mah.." putra semata wayang itu kini menunjukan sisi manja kepada ibunya.
"Sabaaaar... perjuangan. Dulu juga kan Rya kaya gini.." ujar mama Rena sambil menaruh gelas berisi teh hangat yang selesai diminum oleh Boy.
__ADS_1
"Rya gini? kapan? gak pernah ah.." Boy mengelak. Seingatnya Rya memang tidak pernah sakit seperti ini.
"Tunggu bentar deh, nanti Rya yang bakal kasih tau.." ujar Mama Rena sambil tersenyum. Dan betul saja, sesuadah mama Rena berkata seperti itu pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan lumayan rusuh.
"Hooneeyy!!!" Rya berteriak dengan nafas terengah namun mencoba tersenyum antusias juga. "Dua garis!!" tambahnya sambil memperlihatkan tespek yang barusaja di coba olehnya.
Rya langsung merentangkan tangan dan menghambur memeluk suaminya yang masih lemas itu. Merengkuh tubuh yang beberapa hari ini terkuras tenaganya karena melulu mengeluarkan isi perut.
"Hamdallah.. akhirnyaaa..." Boy merengkuh tubuh Rya bersamaan dengan rasa bahagia.
"Tuh kaaan.. berarti kemarin tuh kamu bukan masuk angin. Itu namanya morning sickness.."
"Maksutnya gimana sih?" Boy mengernyit tidak mengerti.
"Sindrom couvade, jadi Rya yang hamil dan kamu yang ngidam.."
"Haaahhh? emang dulu kamu gini Yang waktu ngidam Barel?"
"Yaiyalah Boy masa lupa sih, dulu aja Rya sampe masuk rumah sakit kan waktu kalian mau nikah.."
"Haaaaiyaaa.. jadi seperti ini ya perjuangannya.. Gak papa deh, daripada kamu yang kesiksa lagi.. biar aku aja hueeeeekkk..." Boy merasa mual lagi.
__ADS_1
Aaaaaaaaaaaa.. Ternyata gini yaaaaaa...
TAMAT