
Disebuah rumah kecil yang hanya memiliki 2 kamar, 1 ruang tengah dan ruang keluarga yang menyatu, 1 kamar mandi dan juga dapur tanpa dinding penyekat adalah jadi istana baru untuk Rya dan Boy. Istana? haha.. Anggap saja seperti itu. Sekarang semuanya sangat berbeda jauh, kamar tidur yang sangat nyaman dengan luas dan fasilitas yang suitable kini hanya kenangan. Kamar tidur yang Rya dan Boy tempati, kini hanya berisi ranjang dan lemari pakaian saja. Tidak ada sofa atau kamar mandi di dalam, bahkan untuk sekedar duduk di lantai saja susah, sangat minim sekali.
Rya mengusap keringat yang menetes di dahi-nya, hari ini Rya baru selesai menjemur pakaian dan membersihkan rumah. Yaa, sekarang Rya harus mengerjakan segalanya sendiri. Tanpa Art atau bantuan siapapun. Sudah satu minggu keadaan ini berlangsung, Rya dan Boy mencoba saling menguatkan menghadapi, menerima dan menjalankan semuanya.
Boy terlihat masih termenung di sofa tua yang terletak di ruang tamu. Ruang tamu? tidak, bukan hanya ruang tamu.. Ruangan itu juga sekaligus jadi ruang keluarga, fasilitasnya hanya sofa, meja dan tv tabung saja.
Rya lantas menghampiri dapur untuk membuat sarapan, Bayi dan cacing di perutnya sudah berdemo sejak tadi. Rya berniat membuat nasi goreng telur mata sapi.
Namun ternyata ekspetasi Rya terlalu berlebih saat menginginkan makanan itu. Rya terhenyak saat melihat bahan-bahan di dapur.
Masak apa dong? apa yang harus di masak? Seketika ekspresi Rya merengut. Hanya tersisa satu butir telur dan juga bawang-bawangan.
"Nyari apa, sayang?" Seketika suara Boy mengalihkan perhatian Rya.
"Hm ini.." jawab Rya tanpa meneruskan kata-katanya, ia takut salah ucap dan membuat suaminya tersinggung.
"Anak papa laper yaa?" ucap Boy sambil mengelus perut Rya dan memperhatikan bahan-bahan yang tergeletak di.. anggap aja kitchen set😁
Maafin aku Rya, aku gak bisa bahagiain kamu. Hidup kamu jadi menyedihkan gini. Gumam Boy dalam hati.
"Maaf ya sayang, hidup kamu jadi gini gara-gara aku.." Boy juga merasa lapar, tapi Boy lebih merasa gagal dan payah sekali saat ini. Tidak banyak yang dapat ia lakukan. "Kamu sabar yaa, hari ini aku bakal cari kerja." Imbuhnya sambil memeluk dan mengusap punggung Rya. Percayalah, pelukan itu setidaknya memberi energi tersendiri.
Rya pun bergegas memasak bahan se-ada-nya itu, kali ini ia membuat nasi goreng. Meskipun tanpa kecap dan lain-lain tapi setidaknya ini bukan makanan basi dan tentu layak di makan.
"Maaf yaa, kalo gak enak.." ucap Rya sambil menaruh nasi goreng buatanya di meja makan yang berada di dapur.
Gak apa-apa sekarang aku harus kaya gini, mungkin nanti kalo Boy udah sukses lagi aku bisa makan apa aja yang aku mau. Bathin Rya sambil menyuapkan makanan itu kemulutnya.
__ADS_1
Sabar yaa istriku, aku janji aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku janji gak bakal biarin kamu kayak gini terus. Gumam Boy dalam hati.
Dengan rasa terharu dan bersyukur keduanya pun menikmati hidangan itu meski sebenarnya tidak senikmat yang di bayangkan. Sesekali mereka saling menatap dan menebarkan sebuah senyuman, meskipun sebetulnya senyuman itu tidak benar-benar ingin ditunjukan.
***
"Berangkat dulu yaa.." Ucap Boy sambil melambaikan tangan sebelum memacu kuda besi-nya, Hari ini Boy berencana mencari pekerjaan.
"Hati-hati.." balas Rya sambil melambaikan tangan melepas kepergian Boy.
Detik selanjutnya Rya memejamkan mata sambil merapalkan doa-doa untuk kelancaran suaminya. Semoga, semoga, semoga.. Kata yang terus terucap di antara Boy dan Rya.
"Do'ain papa ya, dek.." ucap Rya pada si jabang bayi yang sedang menendang perutnya.
Rya kemudian masuk dan menutup pintu juga menguncinya. Rya berjalan menuju kamar dan meraih ponselnya.
📱"Kata siapa? jangan ngaco deh." Balas Rya pada sang kakak.
📱"Serius! Mama nelpon gue kemaren dan Mega juga sama. Masa lo gak tau sih?" *Anggi
Benarkah? Gumam Rya dalam hati. Kalo emang beneran rujuk, kok papa gak ngasih tau aku?
📱"Gue gak tau." *Rya
📱"Alamat lo dimana sih sekarang? kemaren gue kerumah lo dan katanya lo udah pindah." *Anggi
Rya terdiam sejenak memikirkan papa Chandra yang katanya rujuk kembali bersama mama Monic. Juga tentang Anggi yang menanyakan keberadaannya. Haruskah Anggi tau keaadaan dirinya saat ini?
__ADS_1
***
"Ini asli lo tinggal disini sekarang?"
"Sejak kapan?"
"Kok bisa sih?"
"180 derajat banget!"
"Lo betah disini?"
Sejuta rentetan pertanyaan dari Anggi, sang kakak yang sudah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu. Dan kali ini Rya terkejut karna setidaknya ada sedikit perhatian dari keluarga nya yang notebene sejak dulu dingin, cuek dan masing-masing.
"Lo tidur disini?"
"Trus yang ngerjain tugas rumah, Lo juga." tanya Anggi lagi.
"Udah dong, Kak. Duduk dulu napa?" jawab Rya sambil memperhatikan Anggi yang sejak tadi menyelidik ke seluruh ruangan.
"Kenapa idup lo jadi gini sih? bukannya harus nya lo jadi nona muda atmadja yah?" Tanya anggi yang akhirnya duduk di depan Rya.
"Mau minum apa?" tanya Rya tanpa menjawab rentetan pertanyaan Anggi sebelumnya.
"Apa aja deh."
"Oke, lagian gak ada apa-apa cuma ada aer putih aja haha." Ucap Rya sambil melangkahkan kakinya menuju dispenser yang berada di dapur.
__ADS_1