Pasangan Muda

Pasangan Muda
Apa ajalah


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian..


Usia Barel sudah menginjak 5 bulan sekarang, Bayi merah itu sudah pandai mengoceh dan berguling dari telentang ke tengkurap dan sebaliknya. Barel selalu menunjukan perkembangan yang pesat setiap harinya.


Usaha Boy juga kian laris, sudah ada 8 karyawan sekarang. Pendapatan Boy semakin hari semakin melonjak. Namun bagi Boy, ini belum seberapa. Karena sampai saat ini Boy belum bisa membeli rumah yang lebih layak untuk keluarga kecilnya itu.


Sementara Rya, Rya kini bisa bernafas lega karena ternyata tidak ada jabang bayi dalam perutnya. Dirinya dinyatakan negatif setelah mengikuti arahan bidan untuk test pack satu bulan kemudian dengan tidak bercinta dengan Boy.


Mustahil, meskipun jengkel dan tidak suka karena harus memakai pelindung, tetap saja lelakinya itu minta jatah melulu.


***


Sore hari..


Rya sedang menunggu kepulangan Boy. Yaa, lelakinya itu jarang pulang malam sekarang. Karena karyawan yang sudah bertambah, shift malam sudah ia atur bersama karyawan nya itu.


Perlahan Boy sudah menjadi Boss sungguhan!


"Peek a boo!!"


"Peek a boo!!"


Rya sedang bermain ciluk ba modern dengan Barel di sofa sambil menunggu Boy. Karena bayi nya sudah pandai mengoceh dan mengatakan beberapa patah kata yang jelas, Rya semakin asyik bermain dengan boneka hidup itu. πŸ˜…


"Da..da..da.."


"Pa..pa..pa.." celoteh Barel sambil tertawa gemas saat Rya berulang kali melakukan gerakan peek a boo.


Kalo disunda mah ntu bocah lagi hao hakeng🀣


"Kok papa sih? No no baby, Bun-da, A-yah.." Balas Rya mengajari bayi kecilnya.


Dan seperti mesin peniru, Barel pun mengikuti Rya. meski masih patah-patah, namun suara Barel sudah jelas.


"Da..da..da.. yaaa..yaah.." ucap Barel.


"Lho kok gitu sih, manggil bunda cuma da nya aja tapi manggil ayah udah jelas gitu.. Curang niiiihh.." Rajuknya pada bocah itu.


Dan lagi..


Bayi itu lebih pasih mengatakan ayah daripada bunda.


Yaiyalah, ini si Rya gimana sih😁


"Nak, bunda lho yang ngandung kamu, lahirin kamu, *****-in kamu, masa ayah duluan sih yang disebut... bunda dulu dooong.." Rayu nya pada si kecil.


Lucunya, karena bayi itu belum mengerti perkataan Rya, ia hanya tertawa gemay sambil memperlihatkan deretan gusi merah yang belum muncul gigi. Rya juga jadi ikutan gemas sendiri.


"Iiiii... anak capa cih ini.. uluu.. ulu.. luthu nyaa.." ucap Rya dengan nada cadel dibuat-dibuat.


Anak elo woy! Napa ya kalo bocah lg gemesin pasti ditanya anak siapa? 🀣


*20 menit kemudian.


"Ayah, pulaaaaaang.."


Suara itu pasti langsung membuat Rya tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Nah, ayah udah pulang tuh.." ucap Rya pada Barel yang kemudian langsung memangku Bayi itu untuk ikut menyambut Boy.


"Ayaaaaaahhh.." panggil Rya sambil menghampiri Boy.


"Hallo, anak ayah.." balas Boy.


Kok anak Ayah sih? yang nyapa kan Bunda! πŸ™„


Heuupp!! Boy mengambil alih Barel ke pangkuannya.


"Yumm, anak ayah wangi banget.." ucap Boy sambil mengecup bayi dengan bobot hampir 7kg itu.


"Barel aja nih.." ucap Rya yang iri dengan kecupan yang Barel dapatkan.


"Eh bunda, how r u?"


Cupp!! Boy mengecup kening Rya.


Setelah acara sambutan selesai dan bermanja ria sebentar, Boy bergegas melepas semua pakaian kerja dan langsung menyambar handuk untuk melakukan ritual rutin. Mandi.


Setelah itu Boy akan bercengkrama dengan anak istrinya kemudian meminta waktu 30 menit untuk rebahan.


Ngalenyap gaes!!


Saat Boy tidur, Rya menaruh Barel di baby bouncer didekat meja makan dengan crib toys yang digantung diatasnya. Mainan yang bisa mengeluarkan music itu juga sering membuat Barel tidur jika bayi itu dalam keadaan kenyang. Karena Barel sudah aktif bergerak, Rya tidak lupa memasang belt agar Barel tetap aman.


"Disini dulu yaa,, Bunda mau masak buat ayah.." ucap Rya sambil tersenyum dan menguwel-uwel pipi bulat Barel.


Rya mulai menyiapkan makanan untuk makan malam sambil sesekali melirik Barel yang tidak jauh dari jangkauan matanya. Sesekali Rya tersenyum karena Bayi itu on the way terlelap.


Lalu..


Done!!


"Honeeeeyy, bangun sayang.." panggil Rya sambil menggoyangkan bahu Boy. "Hoooonnn.." panggilnya lagi.


"Hmmm.." jawab Boy tanpa bergeming dan membuka matanya.


"Bangun, udah magrib.." ucap Rya.


"Hmmm.." jawab Boy lagi.


Percayalah, tekadang menghadapi bayi besar ini lebih repot daripada menghadapi si kecil Barel. Musti ada pelukan atau ciuman supaya bayi besar ini langsung menurut.


"Hoooonn.." panggilnya lagi, kali ini Rya mengambil guling di pelukan Boy dan menggantikan dengan tubuhhnya. Juga ada kecupan kilas dibawah bulu-bulu halus yang tumbuh didagu Boy.


Bukan nya bangun, Boy malah memeluk Rya semakin erat.


"Honey ish! banguuun.."


"5 menit lagi.."


"Kata orang zaman dulu pamali tau, tidur jam segini.."


"Kita kan zaman now.."


"Banguun.. ayooo.."

__ADS_1


"Kamusih, kan jadi makin anget." Boy semakin merengkuh Rya.


"Kalo tidurnya kelamaan nanti malem gak bisa tidur, lho. Hayuk cepet.."


"Iya.. iya.."


Detik ganti menit, menit berganti jam. Setelah acara makan malam selesai, saatnya pasutri ini untuk mengobrol. Berbincang, saling bertanya dan menceritakan hari-hari yang telah mereka lalui saat berjauhan satu sama lain.


Dengan ditemani 2 cangkir teh, mereka berdua mengobrol disofa ruang tengah.


"Barel curang tau, Hon. Masa dia duluan bisa nyebut ayah sih, ketimbang bunda.. Aku yang ngandung aku yang lahirin, eh pas keluar mirip nya sama kamu dan sekarang dia bisa celoteh, yang dipanggil ayah duluan.." Beber Rya menceritakan kisahnya bersama Barel tadi siang.


"Kalo ayah kan lempeng, sayang.. A-y-a-h, jadi lebih gampang dia.." jawab Boy sambil mencelupkan biscuit.


Boy menjawab se-kena nya, karena sebenarnya ia sudah mulai bosan dengan tempat tinggal yang ia sebut sebagai istana kecil ini. Pikiranya sudah jauh didepan, sudah ingin rasanya saat tea-time begini, mereka berdua berada dibalcon sambil menghirup udara malam.


Aaaahh, impian itu...


"Iyasih, tapi tetep aja kan.."


"Barel berapa bulan sekarang?"


"5 bulan, 2 minggu. 2 minggu lagi dia mulai MPASI, hon.."


"MPASI?"


"Iya, makanan pendamping asi, kan kalo udah umur 6 bulan udah boleh dikenalin ke makanan."


"Ohia yaa, dari kemarin kan cuma nyusu pabrik doang hehe."


"Tapi aku belum persiapan sih, belum beli steamer ini itu nya."


"Hmm, kamu juga pengen microwave oven ya? besok kita beli.."


"Serius, Hon? mahal lho itu.. beli buat keperluan Barel aja dulu."


"Suami kamu kan Boss sekarang, gimana sih, hehe.."


"Jangan boros, hon. Kalo ada uang lebih mending ditabung aja, Barel makin gede kan makin gede juga kebutuhannya.."


"Jiah, istri gue udah mateng kayak emak-emak 😁. Diajarin siapa kayak gitu? seumuran kamu kan harusnya gesit, seneng kalo ditawarin shoping."


"Beli tuh yang kita butuh, bukan yang kita pengen! Uang bakal cukup kalo dipake kebutuhan, beda lagi kalo buat keinginan, gak bakal kelar-kelar.."


"Uuuunnnchh, sayang aku, bijaksana sekali.." Boy jadi gemas dan mencium pipi Rya. "Tapi gakpa-pa kali sayang, kalo sesekali kita penuhi keinginan. Kamu pengen microwave, pengen baju, pengen make up, kalo uangnya ada, ya beli aja, gak usah ditahan-tahan. Aku kan kerja keras buat kalian, biar kalian seneng.."


"Kok maksa sih? kamu gak suka ya kalo aku dasteran gini? trus aku kumel ya, kok kamu nyuruh aku beli make up lagi?"


"Nggak sayang, akukan bilang nya KALO, KALO kamu pengen, beli ajaa.." ucap Boy sambil tersenyum maksa, agar istrinya itu tidak salah paham.


Wah.. wah.. Alamat mau dateng belanda nih kalo sensi gini.. Harus buru-buru minta jatah sebelum perboden. Boy.


*


z


z

__ADS_1


*


Maaf ya gaes kalo ceritanta berantakan, enjoy ajalah πŸ˜…


__ADS_2