
Bugh!! "Lu bisa gak sih gausah ganjen dan deket-deketin Rya mulu!!" Boy membentak Vano sambil mendorong lelaki itu.
"Heeey, who are you Boy?!" ucap Vano, masih santai.
"Rya, dia cewek gue, dia punya gue!!" ucap Boy ngegas.
"Hahaha oh ya.. halu lo!!" Vano terkekeh meledek.
"***** lu ya!" Bughh!! Boy mendaratkan bogem mentah dipipi Vano, hingga lelaki itu tersungkur.
Vano mengusap pipinya, kemudian menatap tajam, berdiri bangkit melawan. "Bangsuuttt!!" Bugh!! Vano membalas pukulan Boy. Hingga lelaki itu terpental. Bahkan ujung bibirnya terlihat sedikit robek dan mengeluar kan darah, suasana jadi ricuh dan semua orang mulai berkerumun..
"Stop!! gue bilang stop!!" Rya berbicara sekuat tenaga, meninggikan suaranya mencoba melerai mereka. "Vano! Boy! kalian bisa berhenti gak sih, buat berantem depan gue! apa yg kalian ributin hah?" Rya tidak habis pikir.
"Gue suka sama lu uda lama banget, Rya. lu mau kan jadi pacar gue?" ucap Vano dengan lantang, lelaki itu menggenggam tangan Rya dan menatap mata Rya.
"Tarik kata-kata lo!" Boy mendorong Vano lagi, lalu menarik Rya kesampingnya.
"Apa lu hah!" Vano menegapkan dadanya.
"Cukup!!!" Rya bertetiak lagi, lalu menatap Vano dan Boy bergantian. "Boy lu gak seharus nya pukul Vano!" ucapnya.
"Owh.. jadi lu seneng dia deket-deket sama dia, lu suka sama dia? jadi lu mau pacaran sama si anjing itu?" Boy membeo dengan nada dingin.
"Bukan gitu, maksud gue.. mmm.." Rya jadi sulit menjelaskan situasinya.
"Yaudah lanjutin.." ucap Boy, dan kemudian lelaki itu pergi dengan memegang rahang sambil menyusut darah di ujung bibirnya.
"Boy tunggu!" teriak Rya. tapi lelaki itu tidak bergeming, Boy terus saja berjalan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Lalu Rya membiarkan Boy pergi, ia hanya bisa menatap punggung Boy yg kian menjauh dengan tangan yang masih terkepal, Boy terlihat benar-benar kecewa.
"Vano gue mau bicara empat mata." ucap Rya sambil mengajak lelaki itu untuk menjauh dari kerumunan orang yang menonton dirinya.
"Emang lu ada hubungan apasih sama sialan itu?" tanya Vano saat mereka sudah lumayan jauh dari orang-orang.
"Denger ini baik-baik.. Boy emang gak pernah nembak gue, tapi hati gue punya dia, Van. sorry.." ujar Rya.
"Hah? jadi sebener nya lu gak ada hubungan apa-apa sama sihalu itu? terus hak dia apa marah sama gue?" Ck!! Vano berdecak kesal.
"Udah stop! gue gakmau bicara panjang lebar disini. yang jelas kita cuma bisa temenan!." Rya menatap Vano, lalu memberikan kembali bunga dari Vano kemudian perlahan melangkah pergi.
"Ryaa.. Rya.. tunggu!." Vano mencoba menahan, namun Rya malah semakin menjauh.
Awas aja! gue bakal bikin perhitungan! Gumam Vano.
Dengan setengah berlari Rya buru-buru menuju mobil, ia berniat untuk menyusul Boy. Meminta maaf kepada lelaki itu dan meluruskan kekecewaannya.
Rya keluar dari mobil dan kemudian masuk kedalam gedung, menyusuri lift dan langsung menuju kamar Boy.
Tok..tok..tok.. "Boy buka.. pleaseee.." ucap Rya sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Pinty itu terbuka, dan Rya langsung masuk kesana. Memeluk Boy dan mengucap maaf kepada lelaki itu. Namun Boy hanya diam tidak membalas pelukan Rya.
Mata Rya menyapu ruangan itu, dan ia sangat dibuat tercengang saat melihat kamar Boy yang sangat berantakan, Rya juga melihat beberapa botol bekas minuman disana.
"Ngapain lu kesini? bukannya have fun sama pacar baru lu.." Boy melepaskan rengkuhan Rya, lelaki itu jadi dingin dan datar.
"Boy!" Rya memanggil lelaki yang berjalan menuju sofa, menjauhinya. Dan lagi-lagi Boy tidak bergeming, ia malah memalingkan wajah.
__ADS_1
"Gue gak ada perasaan apa-apa sama vano! gue cuma sayang sama elu Boy! please lah, lu tau itu kan?" ujar Rya sambil berjalan mendekati Boy.
"Trus kenapa lu belain dia hah? gue emg gak pernah nembak lu yaaa. gue emg gak pernah ngungkapin perasaan gue tapi ...
"Iya.. iyaa.. gue tau.." Rya menyela, karena tanpa dijelaskan juga Rya sudah paham. "Tanpa lu bilang, gue tau kok.. lu juga sayang sama gue." ucap Rya sambil mendudukan diri disamping Boy.
"Gue gak terima liat lu di deketin cowo lain." ujar Boy sambil menyesap rokok.
"hihihi.. lu serem ya kalo lagi cemburu, tapi kayaknya jadi makin ganteng kalo lagi cemburu gitu.." Rya berujar menggoda Boy, mencoba mencairkan suasana.
"Gak usah ketawa, gak ada yang lucu!" Boy masih saja datar.
"Yaaaah dia nya sensi.. lg dateng bulan yaaa? hmmm gagal deh.." ujar Rya terus menggoda Boy. Dan detik itujuga sebuah senyuman muncul dibibir Boy.
"Apa banget sih lu!" Boy mencoba mengatur ekspresinya agar tidak tersenyum apalagi tertawa.
"Lepas aja kali kalo mau senyum, gak usah mingkem-mingkem gitu!" ujar Rya sambil mencomot bibir Boy.
Dan hahaha.. akhirnya Boy mau tertawa juga.
"Inget ya.. mulai sekarang lu dilarang ganjen sama cowok lain, lu cuma punya gue!" ujar Boy.
"Iya iyaaaa.. mulai besok gue tempelin sticker nama lu deh, di jidat gue.." ujar Rya.
"Kita bukan anak alay yang harus nembak buat memulai suatu hubungan. yang penting kita uda saling nyaman, kita cuma perlu lanjutin semuanya dan bikin komitmen.." ujar Boy lagi.
"Aaaa aaaaa..." Rya tersenyum dan memeluk lengan Boy.
"Im yours, yours mine.." ucap Boy.
__ADS_1
Dan mereka berdua kembali saling menatap dan memberikan senyuman, satu sama lain.