
Rya masih berdiam diri dikamar bersama Barel yang masih aktif dengan gerakan menendang dan meraih yang sudah dikuasainya itu. Biasanya Rya selalu ceria dan periang menemani lelaki kecilnya bermain, namun kali ini Rya hanya berdiam diri sambil menekuk wajahnya, bibirnya auto manyun, Pikiranya bercabang kesana kemari. Kedatangan mertuanya itu sukses membuat mood Rya berantakan seharian.
Hingga..
"Sayang-sayang nya ayah pada kemana sih? kok ayah pulang gak disambut.." sahut seseorang sambil diiringi suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Sayaaaang....?" sahut nya lagi, setengah berteriak.
Entah tidak mendengar atau memang sengaja pura-pura tidak mendengar, Rya masih tidak bergeming dari posisinya.
Klekk!!
"Owh ada disini, sayang-sayangnya ayah.." ucap Boy sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya semakin dekat ke arah Rya dan Barel.
"Tumben gak heboh akunya pulang?" tanya Boy sambil menyodorkan tangan kanan untuk disalim Rya dan Rya menerima uluran itu namun tanpa berkata apapun.
Cup..
"Kenapa kok diem aja? kamu sakit?" tanya Boy lagi.
Sakit banget! pakek kesel, pakek syebel! 😩
"Hey.." Boy duduk disamping Rya sambil meraup kedua pipi Rya. "Kok manyun gitu sih? aku pulang telat ya?" tanya Boy.
Rya hanya menghela nafas kemudian menggeleng pelan. Rya bingung harus cerita atau memendam perasaan yang berkecamuk dihatinya, tentang sikap dan perlakuan mama Rena terhadapnya. Rya benar-benar merasa mood nya sangat hancur, namun jika ia bercerita ia takut hubungan Boy dan mama Rena semakin renggang.
"Maaf yaa, tadituh asli kafe rame banget.. Akujuga sampe keteter.." ucap Boy lagi.
"Gakpapa.. mau mandi?" ucap Rya akhirnya bersuara meskipun dengan intonasi lirih dan pelan sekali.
Rya menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi dan setelah itu Rya juga menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka berdua.
***
Rya sudah menidurkan Barel, Sambil menunggu Boy selesai dengan ritual mandi, Rya duduk ditepi ranjang sambil menatap potret keluarga kecilnya yang terpampang didinding kamar. Rya menatap nanar kearah foto itu dan sesekali melirik ke arah Barel yang sudah tertidur, Rya mengingat kata-kata yang terlontar dari mulut mertuanya itu. Kata-kata yang seolah Rya adalah istri&ibu yang tidak berguna untuk kedua lelakinya, hati Rya sungguh teriris saat kata-kata mama Rena masih terngiang jelas dikuping nya. Dan tanpa sadar, sebulir embun bening dipelupuk matanya terjatuh.
Meskipun aku memang belum bisa dan gak bisa jadi istri dan ibu yang baik buat kalian, jadi super mom yang perfetful untuk kalian.. tapi egoku mengatakan tidak boleh ada yang memiliki kalian sebanyak aku! aku selalu doing my best! Aku gak boleh kemakan omongan itu, yang paling penting Boy sama Barel sayang dan mau menerima aku. Rya.
Rya mengusap airmatanya dan menepuk kedua pipinya. Ia latihan tersenyum dan membuang semua rasa dan pikiran yang mengganggu dirinya seharian itu. Rya kemudian berjalan menuju meja makan menunggu Boy selesai mandi.
"Kayaknya harus rekrut karyawan lagi deh, dua lagi gitu.. kafe makin hari makin rame banget.." ucap Boy sambil mengusak rambut basah dan duduk dimeja makan.
__ADS_1
Boy menatap heran ke arah Rya yang sejak tadi hanya diam, biasanya wanitanya itu selalu menebar senyuman dan bertingkah konyol disegala situasi. Tidak mungkin jika hanya karena dirinya pulang terlambat, Rya akan langsung luluh jika Boy meminta maaf dan menyadari kesalahan, aplagi jika dibumbui peluk cium dan gurauan. Biasanya Rya selalu hangat dan menceritakan kesehariannya dirumah bersama Barel, atau bersama bu Nani juga.
"Barel bobo yank?" tanya Boy saat Rya mulai mengisi piring Boy.
"He em.." jawab Rya.
"Yess masih jam 9, menang banyak nih.. hehe.." gurau Boy.
Rya sama sekali tidak tersenyum atau menimpali, mood nya belum membaik meskipun dirinya menyatakan damai dengan dirinya sendiri. Sementara Boy yang membaca airmuka Rya, hanya menerka-nerka apa yang dipikirkan Rya sebetulnya? Dan sampai makan malam itu berakhir, keduanya saling diam tanpa ada obrolan atau cerita hari-hari yang telah keduanya lalui.
"Sayang.." panggil Boy yang duduk disofa sambil menyalakan tv diruang tengah. Tanpa menjawab Rya datang menghampiri Boy sambil membawa secangkir teh untuk Boy. "Duduk sini.." tambah Boy sambil menepuk bagian kursi disampingnya. Dan meski tanpa menjawab, Rya menuruti perintah Boy itu.
"Apa kabar sayang?" tanya Boy saat Rya sudah menjatuhkan diri dan bersandar ditubuh Boy.
Rya menatap Boy sambil mengernyitkan dahi saat mendengar pertanyaan lelakinya itu.
"Ba-baik.." jawab Rya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kok kamu jelek sih malem ini?" tanya Boy lagi sambil mengusap wajah Rya.
"Apasih, Hon! nanya aneh-aneh gitu!" ucap Rya.
"Serius.. muka kusut, ditekuk, bibir manyun.. ngaca deh.." ujar Boy.
"Kenapaaaa? ada apa?" tanya Boy lagi.
"Apanya yang kenapa? apanya yang ada apa?" jawab Rya, namun itu terdengar malah nanya balik.
"Mau cerita gak?"
"Cerita apasih?"
"Badmood kenapa?"
"Gakpapa!"
"Cewek kan kalo bilang gakpapa berarti ada apa-apa."
"So tau!"
"Ayolah, kalo ada yang ganjel bilang.. Gak usah kode-kodean, aku bukan cenayang yang bisa baca pikiran.."
__ADS_1
"Aku gakpapa, Hon!" Rya tetap enggan menceritakan, namun Rya juga tidak bisa mengendalikan moodnya yang masih rubuh.
"Kalo emang gakpapa senyum dong.."
"Nih nih.. aku senyum.." ucap Rya sambil menarik kedua ujung bibirnya.
"Aku tau kok kamu lagi gak fine, kalo kamu belum mau cerita gakpapa.. Apa Kamu kecapean ngurus rumah, ngurus Barel, ngurus aku? maaf yaa aku belum bisa sewa baby sister sama Art lagi buat bantu kamu.."
Deg!!
Rya jadi kembali mengingat ucapan mama Rena, apa jadinya kalo dia tahu didalam keadaan seperti ini Boy malah menyewa jasa baby sister dan Art?
"Ih kamu apasih! Gak perlu, hon.. Aku seneng kok, jadi punya aktifitas, sekalian olahraga.." ujar Rya.
Rya harus mempertahankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang tangguh, tanpa embel-embel Art meskipun terkadang ia memang merasa lelah dengan rutinitasnya. Rya akan membuktikan bahwa dirinya pantas menyandang dua gelar yang sangat mulia itu.
Bukan gitu! Haduh gimana dong!
"Aku gak enak badan aja tadi, bukan bete atau pengen Art.."
"Cius? kok kaya ada yg lagi dipikirin gitu?" tanya Boy lagi.
"Ya tiap orang kan punya pikiran, kalo gakpunya pikiran berarti gila.. haha.." timpal Rya dengan tertawa yg maksa banget, mencoba mencairkan suasana dingin yang ia ciptakan sendiri.
Ada sesuatu yang Rya pikirin.. Mungkin belum mau cerita, tapi kok penasaran banget ya.. Gumam Boy.
"Nah gitu kek, ketawa. Kan cantiknya makin-makin.." ucap Boy yang ikut tertawa kecil dan menjawil pipi dan hidung Rya.
Aaaaaa Rayuan Boy mulai menyerang, pasti berakhir dengan...
"Bobo yuk.."
*
z
z
*
😋😋😋
__ADS_1
Sorry author beneran lagi sibuk banget, sorry kalo ceritanya rada gak nyambung..