
Boy dan Rya masih berpelukan dibawah selimut yang semalam membuai mereka setelah acara melow malam itu. Mata lelaki itu tampak sembab karena menumpahkan tangisan sebegitu pilunya. Bukannya cengeng, tapi lelaki juga manusia yang punya hati dan perasaan.
Sang fajar yang sudah menampakkan diri membuat Rya terbangun dari tidurnya, ditambah lagi gendang telingannya menangkap suara ketukan pintu. Rya perlahan membuka mata, mengusap lelaki itu kemudian beranjak dari sana menuju pintu yang sejak tadi diketuk.
"Bundaaaa... tok.. tok.. tok.."
Klekk!! pintu dibuka.
"Sayaaaang.." ucap Rya, menyambut bocah kecil itu dengan senyuman. "Good morning.." tambahnya sambil memangku tubuh mungil dan mengecupnya berulang.
"Ayo, bun.. Barel mau sekolah.." ujar anak itu.
"Mwehehe.. ini masih pagi sayang.." Rya kembali mengecup bocah dengan pipi gembil itu.
"Ayah mana bun?" tanya Barel.
"Ayah masih bobo.. mending kita kebawah yuk, kita bikin susu, terus sarapan, terus mandi, berangkat sekolah deh.." ujar Rya sambil menutup pintu dan membawa Barel menuju dapur.
Rya tidak habis pikir bahwa Barel akan menyukai kegiatan barunya itu, sampai-sampai meminta sekolah setiap hari. Padahal jadwalnya diplay group hanya 2 sampai 3 kali dalam seminggu, itupun dengan frekuensi 2 sampai 3 jam saja.
Mungkin benar kata Boy.. Bocah itu kesepian dan membutuhkan teman. Mungkin memang sudah saatnya ia memberi Barel adik. Aaaaaa.. Tapi tunggu dulu, Rya belum siap untuk itu.
"Ini susunya, ini oatmealnya.. habisin yaaa.." ujar Rya sambil memberikan segelas susu hangat dan semangkuk oatmeal yang sudah ditambahi susu rendah lemak dan kacang-kacangan, juga beberapa buah berry yang menjadi topingnya. Sebisa mungkin Rya selalu mengkreasikan makanan sehat untuk Barel.
Anak kecil itu sudah menunjukan bahwa dia sudah besar. Buktinya ia sudah melupakan botol susu dan tidak mau makan disuapi. Rya hanya tersenyum dan menatap putranya itu, masih belum menyangka malaikat kecil yang keluar dari rahimnya sudah sebesar ini.
"Morning.." Seru Boy yang menampakan diri disana. "Whaa udah pada sarapan aja nih.." Cupp!! Cupp!! Boy mengecup kening Rya dan Barel bergantian.
"Eh, ayah udah bangun.." ujar Rya.
__ADS_1
"Udah dong, ini ayah disini.." jawab Boy sambil tersenyum. "Widih, anak ayah punya apatuh? enak banget kayaknya.." tambahnya yang melihat Barel sedang sibuk melahap sarapannya.
"Mau kopi atau susu yah?" tanya Rya menawari suaminya.
"Pengen teteh manis ada gak?" jawab Boy sambil menjawil hidung Rya.
"Ih ayah apasih.." Rya tersenyum sambil menuju kitchen set.
"Iya dong.. lain kali kalo nawarin ayah tuh nanyanya, Yah.. mau kopi, teh atau aku.. gitu." hehe, Boy memang tidak berubah dari dulu, selalu saja menggoda istrinya itu.
"Serius ayaaah ih!!" ujar Rya yang sudah mengambil cangkir, tapi senyumnya jadi tidak bisa berhenti.
"Kopi aja bun.." ucap Boy.
"Yah, Barel mau sekolah lagi hari ini.." Bocah kecil itu menyahut.
"Anak ayah semangat banget sekolahnya.. seru ya main disana?" tanya Boy.
"Ooowwhh.. Barel seneng yaa temennya banyak?" tanya Boy lagi. "Tuh kan buuunn, udah cocok banget waktunya kita ngasih Barel adik.. biar dia ada temennya. Ya gak Rel?" Boy meminta dukungan putranya itu.
"Adik apa yah?" tanya Barel.
"Huss gak usah didengerin, ayah mah kalo baru bangun emang suka ngaco!" Rya menyela sambil menyodorkan secangkir kopi untuk Boy.
"Lha, kok ngaco sih?" Boy memutar bola matanya, mengikuti Rya yang mengambil roti dan juga selai.
"Adik tuh apa yah? mainan baru?" tanya Bocah kecil itu dengan polosnya.
"Sini deh ayah bisikin.." ujar Boy.
__ADS_1
"Yaaah... mulai deeh.." Rya mendelik menyaksikan Boy yang sedang membisikan sesuatu ditelinga Barel.
"Hah? emang bener bun.. ada temen Barel diperut bunda?" tanya bocah polos itu, Boy dan Rya hanya tertawa kecil menatap Barel.
Ting.. tong.. Ting.. tong.. suara Bell berbunyi.
"Siapa tuh pagi-pagi begini?" tanya Boy sambil mengedarkan pandangannya.
"Gak tau, coba bentar bunda liat duly.." ucap Rya sambil menaruh roti dipiring, memberikannya pada Boy kemudian menuju pintu.
Krekk!! pintu dibuka.
"Punten sluurr!!" hahaha gak gitu deng😂
"Eh Rya.. sorry nih gue ganggu pagi-pagi gini.. Boy ada gak?" tanya orang itu yang ternyata adalah Marcel.
"Ada tuh didalem, masuk aja.." ujar Rya.
Lalu mereka berdua masuk.
"Yaaah.. ada Marcel.." ujar Rya setengah berteriak. Lalu Boy beranjak dari meja makan, menuju ruang tamu.
"Apa kabar lo?" tanya Boy kepada kawan lamanya itu.
"Eh Boy.. Gue baik.. Sorry nih ganggu pagi-pagi gini, gue cuma mau ngabarin bokap lo masuk rumah sakit semalem." ujar Marcel, lelaki itu bahkan terlihat lelah dengan kantung mata yang menghitam.
"Masuk rumah sakit, maksud lo?" tanya Boy lagi.
"Bokap lo serangan jantung."
__ADS_1
Deg!! Seketika lutut Boy terasa lemas, baru saja semalam ia berniat menemui pria itu. Dan pagi ini tiba-tiba saja ia mendengar kabar seperti itu. Apa ini sebuah firasat?