
Rya benar-benar sedang mager hari ini, bahkan untuk mengantar Barel ke playgroup saja ia enggan. Rya menugaskan seorang supir untuk mengantar jemput anaknya. Hari ini Rya hanya ingin rebahan saja, tubuhnya benar-benar tidak berenergi. Tapi mana mungkin seorang ibu bisa seperti itu? Apalagi jika memiliki anak kecil. Seorang ibu pasti selalu dituntut untuk jangan bermalas-malasan apapun keadaannya.
"Bunda,,,, Barel pengen jus mango.." bocah itu berteriak sambil menghampiri Rya yang masih rebahan.
"Eh anak bunda udah pulang, salim dulu dong.." Rya mengulurkan tangan untuk di kecup Barel.
Cap..cip..cup Rya juga menghadiahi Barel kecupan di wajahnya.
"Ayo bun, Barel pengen jus mango." bocah itu menarik-narik tangan Rya.
"Dibuatin ama bu Nani aja ya.." bujuk Rya yang sedang benar-benar malas hari itu.
"Gak mau, aku pengen bunda yang buat." ucap Barel sambil menggeleng.
"Bundanya lagi lemes sayang.. Sama Bu Nani dulu ya, nanti lain kali bunda yang buatin.. oke?" Rya membujuk lagi.
Semakin Rya membujuk justru Barel malah semakin merajuk. Hingga akhirnya membuat Rya terpaksa bangun dari acara rebahan yang membuainya.
Wanita itu berjalan lemas sambil menuntun Barel menuju dapur, mengambil buah mangga kemudian mulai membuat jus yang Barel inginkan.
"Yummie,,, enak banget bun!!" seru Barel sesaat setelah dihidangkan jus yang ia inginkan itu.
Rya hanya tersenyum simpul, senang namun tidak bisa menyembunyikan rasa lemas yang bersarang di dirinya. Dan di detik selanjutnya orang yang paling Rya hindari datang, dengan seringai yang selalu saja menyebalkan. Siapa lagi?
__ADS_1
"Omah cobain deh jus mango buatan bunda,, enak banget!!" Barel berujar antusias sambil lagi lagi menyedot jus nya.
"Wah cucu Omah seneng banget keliatannya.." Rena menimpali sambil tersenyum kepada cucu nya. "Gak kayak yang bikinnya, kayak nggak ikhlas banget!!" mulai menyindir lagi.
Apalagi sih!!
Rya hanya memutar bola matanya, enggan untuk membalas sindiran itu. Tubuhnya benar-benar lemas karena kurang tidur.
"Bunda ke kamar lagi ya sayang?" Rya berujar kepada Barel.
"Eh iya bun, besok Olin ulang tahun.. Barel pengen beli kado buat Olin.."
Dasar bocah! gak ngerti emaknya lagi mager apa!
"Ayah kan pulangnya malem bun!" Barel merengek lagi.
Entah kenapa rasanya hari-hari Rya semakin berat. Barel yang selalu merajuk dan susah dibujuk juga mertuanya itu yang tiada henti mengibarkan bendera perang. Energi Rya rasanya selalu dikuras habis.
"Beli kado doang apa susahnya sih? Boy pulang kerja kan pengen istirahat, bukannya disibukin sama hal sepele gitu!" mak lampir nyamber!
"Aku lagi lemes mah." suara Rya bahkan terdengar sendu.
"Lemes abis ngapain sih? orang sehari-hari kamu cuma diem kok." Rena melipat tangan di dada, tanda ingin memperpanjang perdebatan itu.
__ADS_1
Astaga!! author tolong, gue gada tenaga buat ladenin ini orang!! 😩 *Rya
"Kamu yang dirumah aja lemes apalagi Boy yang kerja seharian?"
"Boy kan cari nafkah, itu kewajiban dia. Akujuga sebisa mungkin udah menuhin kewajiban aku kok sebagai istri walaupun disebutnya cuma dirumah aja." Rya akhirnya menjawab meski masih dengan nada lesu.
"Mustinya kamu...."
"Udah dong mah, gak usah kesana kemari terus! ini cuma masalah beli kado dan aku lemes sekarang!" Rya menyela mama Rena yang siap menyemprotnya lagi.
"Tapi....."
"Mah!!"
Eh.. dua wanita itu menoleh.
"Ayaaaaaahhhh..." Barel berteriak, turun dari kursi kemudian berlari menuju Boy.
"Sayang kok kamu?"
"Boy?"
Jeng jeng jeng!!!
__ADS_1