
Hari semakin malam dan Rya mulai merasa kedinginan. Namun mata itu masih betah memperhatikan ombak yg terus datang dan pergi saling mengejar itu.
Tapi semakin lama angin pun semakin kencang, membuat Rya semakin merasa kedinginan. Meskipun mencoba kukuh pada pendirianya ingin tetap diam di tempat itu, namun Ia sadar itu tidak mungkin.
Setelah bergulat dengan bathinnya kemudian Rya memutuskan untuk pulang. Bukan pulang, tapi pergi. Rya beranjak mengambil flat shoes nya, ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dulu..
"Gue harus kemana yaa malem-malem gini?" Rya bertanya-tanya sendiri.
"Kerumah Dine? gak mungkin.. ini udah malem banget gue pasti ganggu.. Mending malam ini gue tidur di hotel dulu ajadeh..." Rya akhirnya mementukan tujuanya, Mobilnya melesat menuju sebuah hotel di jalan X dengan kecepatan sedang sambil menikmati alunan musik di audio mobil.
Tin..Tin..Tin..
Terdengar mobil belakang terus menerus menekan klakson nya, Rya yang merasa risih memilih untuk menepi dan mempersilahkan mobil itu mendahului nya. Namun bukanya menyalip mobil itu justru ikut menepi.
Rya yang merasa aneh langsung melihat kebelakang lewat kaca dan setelah menyelidik sepertinya Rya mengenal mobil yg ada di belakang nya itu.
Gulp!! Rya menelan ludah sambil memperhatikan sesuatu dari balik spion.
"Mobil siapa ya? kayak nya gue kenal.. ih tapi takut salah." Gumam Rya.
Rya kemudian mempercepat laju kendaraan dan saat itujuga mobil itu langsung mendahului mobil Rya. Lalu tiba-tiba saja berhenti tanpa aba-aba hingga membuat Rya langsung menginjak rem nya dengan susah payah.
"Astaga!!! ini orang gila kali yak! Rya berdecak sambil menatap tajam mobil itu. Untung bisa ke tahan, kalo nggak? ih sumpah ****** siapa sih?!!"
Rya diam dan memperhatikan mobil yang ada di depan nya itu, dan tidak lama kemudian pemilik mobil pun keluar dan menghampiri Rya.
"Vano!!" Ya, lelaki dimobil itu adalah Vano, salah satu teman dekat Rya di sekolah. "Ngapain sih lu?" Rya membuka kaca mobil saat langkah pria itu semakin dekat.
"Mau kemana?" tanya Vano sambil terus mendekat ke arah Rya.
__ADS_1
"Bukan urusan lu, ya!" Ujar Rya sambil menatap malas.
"Tadi gue liat lo nangis di pinggir pantai, kenapa?" Vano membungkukan tubuhnya dan kini wajahnya sedikit masuk ke dalam mobil membuat pandangan mereka bertemu.
"Gue bilang bukan urusan lu! minggir gue mau jalan!" Rya mendorong bahu Vano agar dia menarik wajahnya yang mendekat ke wajah Rya
"Nongki yuk di caffe X.."
"Males, dingin!"
Mendengar ucapan itu malah membuat Vano membuka sweater nya dan memberikan itu kepada Rya. "Pakek ini.." Sambil menyodorkan sweater. "Hayoo.. sekarang lo gak bisa alesan lagi."
"Gue lagu pengen sendiri, please gak usah maksa." ucap Rya, Masih dengan seringai malas dan dingin.
Vano malah menekan tombol kunci dan membuka pintu mobil Rya "Geser sana, gue yang nyetir.."
"Mau duduk di lahunan gue?"
"Ck!!" Rya sudah malas berdebat dan akhirnya menuruti vano, dia duduk di samping Vano. "Tar mobil lu gimana?"
Vano menatap Rya sambil mulai melajukan mobil. "Santai aja, pake dulu tuh sweater nya.." Vano mengemudi mobil dan membawa Rya ke sebuah cafe yang ia maksut tadi.
*
Boy sudah mencari Rya kesana kemari tapi hasil nya masih saja nihil, berulang kali Boy memcoba menghubungi Rya tapi hasil nya tetap sama, nihil. Boy mulai frustasi.
Boy menepikan mobil nya di pinggir jalan kemudian menyulut rokok dan keluar dari mobil. Ia bersandar sambil terus menghembus kan asap di mulut nya..
"Lu dimana Rya? perasaan gue gak enak. lu pasti lagi gak baik-baik aja kan? please sayang, gue pengen selalu ada buat lu di segala situasi. apalagi situasi kaya gini.. Lu pasti lagi sedih banget kan sekarang kalo lu sendirian?"
__ADS_1
Boy terus menyulut rokok nya sampai habis. kemudian dia masuk lagi ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan membelah keramaian kota di malam hari.
Boy menyala kan audio dan memutar lagu kesukaan Rya. Kepala nya kini dipenuhi oleh Rya, Rya, Rya.
Karna jalanan sedikit macet, laju mobil Boy jadi melambat, membuat Boy mengemudi sambil sesekali melamun.
Kemudian di sela lamunanya Boy melihat mobil Rya terparkir di sebuah caffe..
"Rya! itu kan mobil Rya! akhirnya.." Boy tersenyum dan langsung terlihat antusias, kemudian tanpa menunggu lama lagi lelaki itu menepikan mobil.
Boy langsung turun dari mobil dan setengah berlari dengan penuh semangat untuk menemui Rya. Dengan senyuman yang merekah Boy masuk dan menapaki cafe itu, mata nya mulai menyapu sekeliling, dan yaaaa.. Mata itu langsung menemukan Rya.
Tapi Rya gak sendiri disana, dia sedang duduk bersama pria lain.
"Rya sama siapa? kayak nya gue kenal tuh cowok! sial !! Rya ngehindarin gue dan ternyata dia lg asik sama cowok!! padahal dari tadi gue mondar mandir nyari dia, gue khawatir sama dia." Boy mengumpat dan mengepalkan tanganya karna emosi. Langsung berjalan menghampiri Rya, ia ingin melihat siapa sebenarnya pria yang sedang bersama nya itu.
"Lu kenapa sii keliatan nya berantakan banget? Nangis sampe segitunya, parah banget. mata lu bengkak tau.." ucap Vano sambil mengusap mata Rya.
"Eh, gue gak papa.." Rya menepis tangan Vano yang menyentuh wajahnya.
"Cerita aja sama gue. Gak papa kok, gue bakal dengerin dan mungkin juga gue bisa bantu.." Ucap Vano sambil mengusap punggung tangan Rya.
Namun tanpa ada angin atau hujan tiba-tiba ada seseorang yang datang dan langsung menepis tangan Vano.
Rya dan Vano langsung kaget dan menatap orang itu, dan ternyata itu adalah Boy. Rya dan Vano menyebut nama Boy bersamaan.
"Iya gue, kenapa? ganggu ya?" Ucap Boy sambil menatap Vano dan Rya bergantian.
Jeng jeng jeng...
__ADS_1