Pasangan Muda

Pasangan Muda
Maafin


__ADS_3

Seketika Boy baru menyadari bahwa dirinya sekarang tidak mengetahui banyak hal yang terjadi di rumahnya sendiri, Boy terlalu sibuk sendiri hingga melupakan bagaimana istrinya berjuang melewati hari-hari. Boy juga baru menyadari bahwa perang dingin antara mama dan istrinya itu belum berakhir. Boy kira selama ini mereka baik-baik saja.


Rya yang tidak pernah cerita dan mama yang selalu bersikap baik di hadapannya berhasil mengecoh seorang Boy.


"Honey bukannya kamu udah berangkat?" Rya kaget suaminya itu masih ada di sana, padahal sudah berpamitan berjam-jam yang lalu.


"Boy kok kamu ada di sini?" Rena ikut-ikutan terkejut.


"Barel sama bunda ke kamar dulu ya,, nanti ayah anter beli kado buat Olin. oke?" Boy berujar sambil memangku putra semata wayang nya itu.


"Yeaaayyy,,, Barel juga pen beli mainan baru ya?" pinta bocah kecil itu kepada ayahnya.


"Oke nanti kita beli ya.." balas Boy sambil tersenyum.


Rya masih tertegun menatap suaminya itu, masih tidak mengerti mengapa lelaki ini masih ada di sana. Apa dia mendengar semua perbincangan nya bersama mama Rena?


"Bun ajak Barel ke atas dulu ya, Ayah mau ngobrol sama mama." ujar Boy sambil memberikan Barel kepada Rya.


Detik selanjutnya Rya menuntun Barel menuju lantai atas, di mana kamar bocah itu berada. Tapi matanya masih saja memperhatikan Boy, tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi.


Lalu setelah kepergian Rya, Boy langsung membuang nafas jengah sambil menatap ibunya. "Sampe kapan mama mau ngemusuhin Rya terus?" ujarnya lirih.


"Siapa yang memusuhi Rya, Boy?" Rena mengelak.


"Aku kira setelah bertahun-tahun yang lalu aku menjauh bisa menyadarkan mama, dan apalagi setelah kepergian papa.. Boy gak nyangka sama sekali!" Boy membeo sambil menarik ujung bibir kirinya, tidak habis pikir dengan apa yang ibunya lakukan.

__ADS_1


"Apa maksudnya Boy? mama nggak pernah,,,,"


"Apa mama nggak ngelihat betapa aku sangat menyayangi Rya? kalau mama ngemusuhin Rya, artinya mama juga ngemusuhin aku!" Boy tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap, gemuruh emosinya membuat dia marah. Tapi melihat wanita di hadapannya itu, ia kembali mengingat bahwa dia adalah ibunya. Wanita yang melahirkannya, wanita yang harus juga dia sayangi.


Tapi bagaimana lagi, keadaannya sekarang Boy bukan hanya seorang anak. Dia juga seorang suami yang harus melindungi istrinya.


"Mama lihat deh gimana Boy sekarang? Boy bisa dewasa, bisa sukses, bisa melewati semuanya itu karena Rya mah!! Dia yang selalu ada di samping Boy, selalu nguatin Boy, selalu dukung apapun yang akan Boy lakukan. Kita ada di titik terendah dan sampai ke titik ini, melalui perjuangan yang gak mudah mah!!" Boy lagi-lagi menguapkan kekesalan yang ada di hatinya.


Deg!! Mama Rena terdiam, tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun.


"Inget gak waktu Boy susah dan mama papa malah ninggalin Boy sendirian? Apa jadinya kalau nggak ada Rya? Apa jadinya kalau dia juga ikutan ninggalin Boy? jadi apa Boy sekarang? Mungkin Boy bakalan jadi gembel yang gak pernah dihargai orang sama sekali!" Boy berujar dengan nada dingin, kembali teringat dan mengungkit luka masa lalu, dan tanpa sadar ada satu bulir air mata yang mencelos dari ujung matanya.


Sementara Rena semakin terdiam membisu tidak mampu menjawab apapun. Sebenarnya apa yang ia lakukan itu bukan semata-mata karena dirinya membenci Rya. Rena hanya merasa kehilangan seorang anak, yang memang adalah anak satu-satunya. Belum bisa menerima bahwa putranya itu mencintai wanita selain dirinya. Namun apapun itu, cara Rena bersikap tetaplah salah.


"Maafin mama,," sebuah kalimat yang akhirnya bisa Rena ucapkan.


Semakin terdiam Rena semakin menyadari kesalah yang telah dirinya lakukan. Tiba-tiba dunia langsung menghantam hati yang dibalut rasa egois itu, membuka mata hatinya yang keras. Membuat matanya langsung terasa panas dan akhirnya menangis jua.


Melihat Rena menangis Boy terdiam sementara, membiarkan sang ibu menangis meskipun hatinya terasa sakit. Yang Boy inginkan hanyalah keluarganya selaku damai dan bahagia, saling merangkul dan menyayangi satu sama lain.


"Maafin Boy,,, tapi Boy minta hentikan ini semua." Boy kemudian merengkuh wanita paruh baya itu, sadar telah melukai meskipun yang ia katakan adalah kebenaran. "Sayangi Rya seperti mama sayang sama Boy,, Sayangi Rya seperti Rya sangat menyayangi Boy." pintanya disela rengkuhan itu.


"Kamu benar, maafin mama Boy.. mama salah.." hiks.. Rena semakin menangis dipelukan Boy.


*

__ADS_1


z


z


*


"Sayaaaang.." Boy merengkuh tubuh mungil istrinya yang sedang bermain bersama Barel. "Maafin aku yang kurang peka sama kamu, aku gak nyangka ternyata keseharian kamu kaya gitu setelah ada mama!" bisiknya pelan sambil masih memeluk.


"Maksut kamu apa honey?" Rya melepas pelukan itu.


"Aku udah tau semuanya, maafin aku.." Boy menatap sendu pada mata yang hilang binarnya itu. "Kenapa kamu gak pernah cerita?"


Hussshhh... Hati Rya mencelos, sadar bahwa suaminya sudah mengetahui semuanya.


"Maafin aku, Hon!! aku cuma gak mau...."


"Sssttt... aku yang minta maaf."


"Aku cuma gak mau buat masalah dan bikin hubungan kamu dan mama jadi renggang lagi. Maaf kalo aku gak mau terbuka, aku cumaaaa.."


"Iya sayang, aku ngerti apa maksud kamu. Tapi lain kali kalo ada hal apapun kamu harus cerita ya,,,, aku gak mau liat kamu sedih!!"


Ray hanya tersenyum simpul, entah bagaimana harus bersikap. Entah senang atau sedih yang jelas hatinya tidak bisa dibohongi, belum ada rasa lega yang dirasakannya.


"Barel juga pen ikutan dipeluuk!!" Bocah itu merajuk sambil memisahkan jarak antara Boy dan Rya.

__ADS_1


"Ganggu aja deh!!" ujar Boy, namun sambil membawa bocah itu kedalam pangkuannya.


"Maafin mama ya, sayang.." ujar Boy sambil mengelus wajah istrinya yang berhari-hari tidak terlihat ceria.


__ADS_2