
Dengan berboncengan di atas kuda besi, Rya memeluk Boy dengan erat. Namun Pikirannya sedang berlarian tentang siklus datang bulan dan juga kehamilan. Rya sudah membayangkan betapa repotnya jika Barel benar-benar akan memiliki adik. Saat Barel di usia sangat aktif, Rya harus membagi perhatiannya untuk si adik dan juga bayi besarnya. Belum lagi urusan pekerjaan rumah tangga. Rya tidak yakin jika dia bisa menjadi super mom yang selalu ia katakan, lagipula Rya benar-benar belum siap jika memang dirinya harus hamil dan melahirkan lagi, yang kemarin saja rasa luar biasanya masih terasa.
Sementara Boy yang sedang mengemudi juga tidak jauh berbeda, Boy hanya manyun dengan pemikirannya sendiri, Ia membayangkan jika selama satu bulan dirinya harus bercinta menggunakan jas hujan, apalagi setelah libur pasca melahirkan kemarin, rasanya fantasi bercinta Boy semakin susah digapai.
What the hell suami istri gemay ini😁
***
Sekitar empat puluh lima menit membelah jalanan, akhirnya Boy dan Rya sampai dirumah. Sambil turun dan membuka helm dikepalanya, Rya memperhatikan sebuah mobil yang tidak asing dan sedang terparkir didepan rumahnya. Bukan halaman rumah, tapi lebih tepatnya adalah pinggir jalan didepan rumah.
"Sayaaaang.. ayoo.." ajak Boy saat Rya masih terpaku ditempat tadi turun dari motor. "Heeeeeii.." panggil Boy lagi.
"Haiya iya.." sahut Rya sambil melangkah, namun matanya masih tertuju pada mobil tadi.
"Kenapa?" tanya Boy.
"Nggak.. liat deh.. kok itu kaya mobil papa sih?" ujar Rya sambil menunjukan mobil yang sejak tadi ia perhatikan.
"Papa? maksudnya?" tanya Boy.
"Papa-ku.. Papa Chandra." jawab Rya.
__ADS_1
"Ah salah liat kali, mobil gitu kan banyak. Lagian ngapain juga papa kesini?" ucap Boy.
"Hmm.. yaudah aku ngambil Barel dulu yaa, di bu Nani.." ujar Rya.
Dan langkah kaki Rya pun membawanya berjalan menuju rumah bu Nani, sementara langkah kaki Boy membawanya masuk kedalam rumah.
"Bareeeeel.." panggil Rya dari balik pintu rumah bu Nani sambil mengetuknya juga.
Sementara Boy..
"Lho.. Mama?" ucap Boy saat memasuki rumah dan mendapati mama Monic yang sedang duduk sambil memangku Barel disana.
"Mana Rya?" sahut mama Monic.
"Kalian ini ya, bener-bener!" timpal mama Monic.
"Pantes aja mama kamu sampe bilang kaya gitu, padahal kelakuan kalian memang kaya gini! mana Rya?" imbuh mama Monic dengan nada yang mulai aneh.
"Mama-ku? maksudnya?" tanya Boy.
"Hon.. Barel diambil.....
__ADS_1
Seru Rya sambil rada ngos-ngosan. Namun kata-katanya terhenti saat matanya menemukan Barel dan juga mama Monic disana.
"Barel? mama?" tambah Rya sambil masih mengatur nafas.
"Mama gak ngerti jalan pikiran kalian kaya gimana!" sahut mama Monic.
"Maksudnya apa sih? setiap salah satu dari kalian kesini selalu bertele-tele dan bilang jalan pikiran kami gak jelas?!" Jawab Boy dengan nada yang mulai naik intonasinya.
"Rumah tangga kalian itu aneh! Menikah itu bukan cuman menyatukan dua orang, tapi dua keluarga juga. Ini habis nikah kok malah pada jauh dari keluarga, bukannya membangun hubungan yang hangat." beber mama Monic.
Heh.. Boy tertawa smirk dengan menarik ujung bibir kanannya.
"Hubungan hangat.." ejek Boy.
"Jangan sombong kalian!" ucap mama Monic. "Kalian memang sudah dewasa dan memulai hidup baru, tapi bukan berarti kalian melupakan jasa orang tua kalian.. Kemarin mama Rena dateng kerumah, Dia ngomel sampe nangis juga." imbuhnya.
"Rya tidurin dulu Barel nya, mama mau bicara serius sama kalian berdua..
*Few moment later..
"Kemarin mama Rena sharing sama mama, dia sampe nangis pula. Kami tuh kehilangan kalian, memang gak salah kalo kalian mau berjuang sendiri dengan cara kalian, tapi jangan membuat jarak dengan kami para orang tua kalian.. Dan kamu Ryaa, semenjak kamu tahu tentang siapa ibumu, kita juga semakin dingin dan jauh. Walaupun mama sakit hati oleh hubungan papamu dan ibumu, dilubuk hati mama, mama sayang sama kamu.. karna mama yang urus kamu dari kecil.. Ayo kita perbaiki hubungan ini, jangan sampe hancur.. kita berjalan selayaknya keluarga, Mama yakin kok, mama Rena, papa Wira, papa Chandra pasti dukung apapun yang ingin kalian jalani, asal jangan membuat dinding pembatas antara kehidupan kalian dengan kami." ungkap mama Monic panjang lebar sambil menatap Rya dan Boy bergantian.
__ADS_1
Sementara Boy dan Rya hanya terdiam dan merenung mendengarkan kata-kata mama Monic dan apa yang mama Monic bilang itu benar, Mau bagaimanapun Orang tua itu selalu benar dan ingin yang terbaik untuk anaknya, meskipun terkadang cara pendapat dan penyampaian nya yang salah dan tidak sesuai dengan kondisi dan keinginan si anak.
"Kitamah gak bikin jarak, kitamah welcome welcome aja kok. Cuma yang bikin heran.. waktu kita jatuh dan terpuruk kalian semua dimana? Rya sampe ngerasain makan nasi kemarin sama kecap, Rya sampe sering nahan laper padahal dia lagi hamil besar dan butuh banget nutrisi yg cukup, kalian kemana? kalian dimana? Aku ngabarin kalian kalo Rya udah lahiran aja pada cuek, dan sekarang malah kita lagi yang salah? heh.." jawab Boy tidak kalah panjang lebar seperti mama Monic.