Pasangan Muda

Pasangan Muda
Tangis


__ADS_3

Boy dan Rya sedang berada didalam kamar, seperti biasanya, pasangan itu selalu menghabiskan waktu bersama-sama dengan berbincang santai sebelum pergi tidur dibuai oleh hangatnya malam.


Rya terlihat membawa dua cangkir teh untuk menemani obrolan itu, duduk santai berdua dibalkon. Merasai angin malam yang menerpa tubuh mereka.


"Kenapa sih hon? kok kayaknya kamu ngelamun terus?" tanya Rya yang melihat suaminya menyesap rokok dengan tatapan lurus tanpa berkedip. Pria itu nampak menyimpan beban dalam pandangannya. "Heeeeyy.." Rya menepuk pundak Boy yang tidak menjawab pertanyaanya.


"Eh.. bunda." Boy menoleh dan tersenyum kaku menyadari sang istri berada disampingnya.


"Kenapa?" tanya Rya lagi.


"Apanya yang kenapa?" Boy balik bertanya.


"Ngelamun aja sih.. nih.. teh nyaaa.." ucap Rya sambil menyodorkan secangkir teh yang dibawanya.

__ADS_1


"Iya bun, makasih yaa.." ucap Boy sambil menerima teh itu.


Rya kemudian duduk, meminum teh itu dan menaruhnya lagi dimeja. Menatap Boy yang kembali menyesap rokoknya. "Ada apa yah? cerita dong sama bunda kalo ada apa-apa.." ucap Rya.


"Ih.. emangnya ada apa gitu?" lagi-lagi Boy balik bertanya.


"Lagi mikirin apasih sampe bengong-bengong mulu?" Rya bertanya lagi, memang beberpa hari terakhir suaminya itu selalu ke-gep sedang menatap kosong. "Kamu kangen papa sama mama ya?" Rya menebak, pastilah.. seorang anak pasti merindukan orangtuanya meskipun mereka sudah memiliki kehidupan sendiri. Apalagi keadaan Boy saat ini masih perang dingin dengan Rena dan Wira.


Dalam beberapa tahun, bisa dihitung dengan jari mereka bertemu untuk sekedar menanyakan kabar dan mengajak Barel bermain. Tapi masih ada kecanggungan antara mereka. Tidak seluwes seperti dulu.


Rya membuang nafas panjangnya, mencerna kata-kata Boy kemudian mengingat masa-masa dimana mereka masih tertatih.


"Mungkin waktu itu aku salah dimata mereka karena bikin perusahaan colaps, walaupun sebenernya aku gak ngelakuin apapun. Seharusnya kasih sayang orang tua tuh, lebih luas seluas apapun kesalahan anaknya. Ini malaaah..." Plukk!! Sebulir air mata mencelos dari ujung mata Boy. Pria itu terkekeh menggelengkan kepala, namun matanya tidak bisa berbohong dan lagi-lagi meloloskan air mata.

__ADS_1


"Hon.. mending kita udahin semua ini.. Ancurin tembok ego itu, perang dingin ini mau sampai kapan coba? toh kamu udah nunjukin kan, kalo kamu udah sukses sekarang?" ucap Rya sambil mengelus lengan Boy. "Mereka juga pasti sama sedihnya sama kamu, mereka juga pasti kangen banget sama kamu.. Mereka gak punya anak lagi selain kamu, hon.." Rya masih mengelus lembut lengan Boy.


"Entahlah bun, luka bathin ini kayak susah banget disembuhin." ujar Boy sambil mengusap airmatanya.


"Seperti yang selalu kamu bilang sama aku dulu, terimaaa.. maafkan.. lupakan.." Rya jadi ikut-ikutan menceloskan bulir air mata, terahru dengan keadaan ini. Rya duduk semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka. "Inget gak sih semua motivasi kamu buat aku, waktu aku down banget dulu..?"


Detik selanjutnya Boy malah merengkuh Rya, wanita yang selama bertahun-tahun selalu berada disampingnya. Menemani dalam suka dan duka, menjadi alasan Boy selalu kuat dan bersemangat.


Kadang.. Kecewa memang sulit dipahami oleh hati, rasa itu datang begitu saja. Menikam hati dan menghancurkannya tanpa rasa iba. Namun, kitalah yang mengontrol diri dan emosi itu. Kita yang berhak menentukan. Jangan kalah dan membuat emosimu yang meledak itu menguasai diri, membuatmu dendam dan membebani diri sendiri.


"Nangis aja, hon.. tumpahin semuanya.. Lepasin beban yang ada dihati kamu, biar kamu lega." Rya mengelus bahu Boy dengan sangat lembut, memberikan pelukannya untuk lelaki yang sangat ia cintai itu. Membiarkan lelaki itu menangis dalam pelukannya.


Menangislah jika memang ingin menangis, menangislah seapaadanya. Luangkan waktu sejenak untuk memberi ruang kepada diri merasakan segala rasa. Luka bathin yang tidak kunjung pulih salah satunya karena sering tertawa berpura-pura, menahan tangis sampai se-begitunya. Belajarlah dari anak kecil yang tertawa dan menangis penuh kemerdekaan. :')

__ADS_1


"Besok kita temuin mama sama papa yaa.." ujar Rya lagi, sambil masih menenangkan lelaki itu dengan pelukannya.


__ADS_2