Pasangan Muda

Pasangan Muda
Pendarahan


__ADS_3

Rya baru pulang mengantar Barel ke playgrup dan saat tiba dirumah tubuhnya yang memang sedang kurang fit itu tiba-tiba terasa sangat lemas sekali. Untuk itu Rya ingin segera menuju kamar untuk istirahat.


"Awh.." Rya meringis saat mulai menapaki anak tangga. Perut bagian bawahnya tiba-tiba terasa kencang dan seperti ditarik-tarik. Ughh,, Rya mendesah kesakitan sambil mengusap bagian yang terasa sakit.


Detik selanjutnya Rya melanjutkan perjalanan menuju kamar, Rya mencoba menguatkan diri ketika rasa sakit yang menyerang itu semakin lama semakin kuat. Hingga akhirnya Rya berteriak karena merasakan sakit yang teramat, ditambah lagi ia melihat aliran darah segar yang melewati paha yang putih mulus.


"Aaaawwhh... Tooo-looong!!"


**


Boy yang sedang sibuk bekerja langsung meninggalkan semua kesibukannya saat mendengar kabar bahwa Rya masuk rumah sakit.


Ada apa dengan istrinya itu? bukannya semalam dan tadi pagi dia baik-baik saja?


Boy segera berlari masuk saat mobilnya baru saja tiba disebuah rumah sakit, segera menuju tempat dimana Rya berada. Hatinya gundah, rasa khawatir dan juga cemas bercampur menjadi satu.


"Rya kenapa mah?" tanya Boy kepada Mama Rena yang sedang duduk diruang tunggu.


"Boy,,," Mama Rena menatap Boy dengan tatapan sendu, digenggamnya kedua tangan putranya itu dengan penuh rasa takut. "Rya tadi habis nganter Barel ke playgroup, terus dia langsung masuk kamar dan gak lama kemudian Rya teriak,, Mama gak tau kenapa yang jelas daritadi Rya bilang perutnya sakit." ujar Mama Rena menjelaskan dengan nada lirih. Sumpah, ia sudah tidak memusuhi menantunya seperti kemarin-kemarin.

__ADS_1


Boy hanya mendesah kecil sambil menatap pintu ruangan dengan penuh harap. Terus memandangi pintu dan berharap seorang dokter segera keluar dan mengatakan bahwa Rya baik-baik saja.


Tiga puluh menit kemudian..


Akhirnya pintu itu terbuka juga, terlihat seorang dokter dan dua perawat keluar darisana. Boy langsung berdiri dan menghampiri orang-orang itu, pandangannya melihat Rya yang sedang berbaring didalam sana.


"Suami pasien?" ucap seorang dokter wanita itu.


"Saya.." Boy selangkah maju mendekati dokter.


"Ny.Rya harus beristirahat total.. Kondisi beliau masih lemah karena pendarahan yang dialami cukup serius.... Ny.Rya harus dirawat intensive selama beberapa hari.." ujar sang dokter menjelaskan.


"Dengan berat hati saya harus mengatakan ini.. Saya tidak bisa menyelamatkan janin yang sedang dikandung Ny.Rya .." Dokter itu kembali berujar, dengan gurat sedih.


Janin? Tidak selamat?


Boy membulatkan matanya. Apa maksutnya ini?


"Janin?" Boy masih terperangah.

__ADS_1


"Ny.Rya..... keguguran.."


Deg!!!


Lutut Boy seketika bergetar, hatinya langsung hancur begitu saja, tenaganya seperti dikuras habis, lidahnya langsung kelu tidak bisa berkata apapun lagi. Lelaki itu mematung tidak percaya, jadi selama ini Rya hamil? tapi sejak kapan? Boy bahkan harus kehilangan hal yang paling ia inginkan tanpa mengetahui tentang itu sebelumnya.


Dengan langkah gontai Boy memasuki ruangan itu dengan jiwa yang melayang dan hati yang begitu hancur. Dilihatnya Rya yang sedang menangis diatas brankar sambil memegangi perutnya.


"Sayaaang.." Boy segera menghampiri wanita yang sangat dicintainya itu dan memeluknya dengan sangat erat.


"Maafin aku,, hiks..." Rya terisak dipelukan suaminya, betapa sangat menyakitkan kejadian ini. Saat Rya harus kehilangan janin yang bahkan tidak ia ketahui sejak kapan bersemayam didalam perutnya. "A-ku gak tau ka-lo selama i-ni aku hamil... maafin aku, aku gak bisa jaga diaa.." Tangisan Rya semakin pecah.


Boy hanya diam, ia juga sama merasakan sedih yang teramat seperti Rya. Boy hanya memeluk dan mengusap kepala Rya. Entah harus bersikap bagaimana, Boy tidak tahu. Gemuruh dalam dirinya tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Ia marah, kesal namun sedih juga.


"Maa aafin aku, Hon.." ujar Rya disela tangisannya.


"Sstt.. mungkin belum rejeki kita.. Jangan nangis,, aku gak nyalahin kamu kok." Boy berlagak sok tegar padahal ia sendiri menjatuhkan air mata.


Sementara Mama Rena hanya bisa menyaksikan betapa pilu-nya tangisan mereka berdua. Dan detik itujuga Mama Rena menyadari kesalahan tentang bagaimana dirinya memperlakukan Rya selama ini. Mama Rena baru menyadari ternyata anak tunggalnya itu sangat mencintai istrinya. Mungkin kemarin Mama Rena merasa kehilangan sosok anak yang memang satu-satunya, tapi anak tetaplah anak, jika dia sudah menikah ia akan memiliki kehidupan baru yang memang harus dipertanggung jawabkan.

__ADS_1


Mungkinkan ini semua karena Rya terlalu stress menghadapi hari-harinya?


__ADS_2