Pasangan Muda

Pasangan Muda
strugle


__ADS_3

"Sorry ya, gue kakak lo yang paling gede tapi gue kurang care sama lo!" ucap Anggi saat Rya telah selesai bercerita mengapa alasan dirinya dan Boy harus pindah.


"It's oke, kak. Lo juga punya kehidupan. jadi gue ngerti." balas Rya dengan tersenyum simpul.


"Mulai sekarang gue di Indo lagi, jadi kalo ada apa-apa lo jangan sungkan minta tolong sama gue." ucap Anggi lagi.


Meskipun nada dan ekspresi nya datar tapi Rya merasa bahwa kakaknya tulus dan berubah dari Anggi yang dulu super cuek, dingin dan ketus banget.


"Siap, thx sebelumnya.." jawab Rya.


"Gue mau nyamperin Mama Papa nih, lo mau ikut?" tanya Anggi sambil meminum air putih yang Rya sediakan.


"Sekarang?" tanya Rya dan di jawab anggukan oleh Anggi. "Aku harus bilang dulu sama Boy, tapi aku gak ada kuota ataupun pulsa. jadi kayaknya tar ajadeh aku ikutnya."


"Astaga, kok lo jadi miskin banget sih!" ujar Anggi ketus dan menatap Rya. namun ternyata detik selanjutnya Anggi malah terkekeh. "Canda haha.."


Rya hanya tersenyum canggung, baginya meskipun bercanda tapi apa yang dikatakan Anggi adalah benar adanya.


"Lo yakin bisa tegar ngelewatin semuanya? mending lo balik ke rumah papa aja, Bumil masa kurus gini sih? perutnta aja yang buncit."


"Aku gak paApa kok kak, emang hormon nya lagi bawa males makan aja makanya agak kurusan."


"Yaudah kalo gitu, gue pamit yaa. Tar gue pasti kesini lagi." ujar Anggi sambil membereskan tas nya dan kemudian berdiri.


"Ini buat lo." tambahnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Gak usah kak, gue gak mau ngerepotin." ucap Rya sambil ikut berdiri.


"Udah terima aja, jangan nolak! gue cuma mau bantu lo meski gak sepenuhnya!" jawab Anggi sambil menaruh paksa uang itu ke tangan Rya.


Rya hanya diam dan menunduk memperhatikan uang yang Anggi berikan namun kemudian tiba-tiba Anggi langsung memeluk adiknya itu.

__ADS_1


"Lo yang kuat ya berjuang lewatin semuanya, gue bakal ada di belakang lo sekarang. Jadi lo gak perlu takut atau ngerasa sendirian."


Tanpa di duga air mata Rya menetes dan tangannya pun semakin erat memeluk Anggi. Meskipun terlahir dari rahim yang berbeda, namun darah sang Papa mengalir di keduanya. Rya merasa bersyukur dan tak berhenti mengucapkan terimakasih atas support kakaknya itu. Karena sampai saat ini bahkan Chandra tidak menengok atau menanyakan kabarnya, Rya hanya punya Boy dan calon bayinya.


Setelah kepergian Anggi dari rumahnya, Rya merebahkan diri di sofa sambil mengelus perutnya. Dia mencoba menguatkan diri dan berhenti bersedih.


***


Boy masih mencari pekerjaan kesana kemari, sudah lebih dari 10 tempat yang ia datangi namun tidak ada satupun yang menerimanya. Ditengah teriknya matahari Boy melipirkan motor dan duduk di trotoar jalan, Boy memesan kopi di warung pinggir jalan kemudian menyulut rokok dan melamun memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di depannya.


Gue harus kemana lagi? gak mungkin gue pulang gak bawa apa-apa. Rya pasti laper dan nungguin gue. ujarnga berbicara sendiri.


10 menit berlalu Boy masih terdiam ditempat itu, dia tidak tahu lagi harus kemana sekarang. Perutnya terasa lapar membuat fokusnya semakin buyar. Namun tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Bang ngojek gak? anterin aye ke pasar dong!" ucap ibu itu.


Boy langsung menoleh kemudian mengangguk. "A-ayo bu!" jawab Boy sedikit terbata karna merasa kaget juga. "Tapi helm nya cuma satu, gimana bu?"


Boy pun langsung membayar kopi dan mengantarkan ibu tadi ke tempat tujuannya. Lalu setelah sampai ibu itu memberikan uang 20rb dan 5rb.


"Makasih ya bu." ucap Boy saat menerima uang itu.


Boy pun tersenyum senang, setidaknya dia bisa membeli makan untuk Rya malam ini, begitu pikirnya. Boy pun kemudian menuju rumah makan pinggir jalan dan membeli sebungkus nasi, setelah itu Boy langsung melesatkan motornya menuju rumah.


***


Rya masih berada di sofa karena sejak tadi ia tidak sengaja ketiduran. Rya melihat jam dinding bentuk keroppi yang di gantung di dinding ruangan itu. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, namun ternyata Boy belum juga pulang, Rya merasa badannya pegal dan perutnya lapar. ia pun bangun dari sofa dan berniat menuju kamar mandi untuk cuci muka.


"Sayang, aku pulang.." ucap seseorang di ambang pintu, ternyata itu adalah Boy. Rya langsung tersenyum dan menyambut suaminya.


"Honey, kok lama banget.."

__ADS_1


"Aku beli ini dulu tadi." ucap Boy sambil memperlihatkan bungkusan plastik berwarna hitam. "Makan gih, kamu pasti belum makan."


Rya pun menerima bungkusan plastik itu di meja makan, lalu setelah selesai cuci muka ia mengambil 2 piring ke meja makan. "Ayo, dong makan bareng." ucap Rya saat melihat Boy malah masuk ke dalam kamar.


"Aku belum laper.." jawabnya.


"Yaudah aku juga gak mau makan!" ucap Rya sambil melipat tanganya diatas perut yang sudah balapan dengan payudaranya.


"Iya deh iya, aku temenin aja tapi ya.."


Mereka duduk saling berhadapan di meja makan, kemudian Rya membuka bungkusan plastik itu.


"Lho, kok cuma satu?" ucap Rya saat mendapati makanan yang di bawa Boy hanya satu bungkus.


"Kan aku bilang belum laper, tadi aku udah makan duluan." jawab Boy, padahal Boy merasa lapar juga, hari ini hanya nasi goreng tadi pagi yang masuk ke dalam perutnya. Namun perut Rya lebih penting baginya, makanan itu tidak akan cukup jika dimakan berdua. Boy takur Rya tidak kenyang, jadi terpaksa ia harus berbohong.


"Kok duluan sih, curang ah."


"Udah makan aja, mau aku suapin?"


Rya pun mulai memakan makanan yang di bawakan Boy, meski dengan lauk pauk sederhana tapi ini lebih baik dari nasi goreng tadi pagi. Dengan lahap Rya menyantap makanan itu.


Tanoa disadari Boy menitikan air matanya, Mata nya terasa perih saat melihat pemandangan di depannya itu.


Sabar ya sayang, maafin aku udah bikin hidup kamu jadi susah.. Gumam Boy dalam hati.


Detik selanjutnya Rya menatap Boy di sela kegiatan makannya, ia melihat ekspresi haru di wajah Boy. "Lho, kok kamu nangis? kamu mau? Aaaa.." ucap Rya sambil menyodorkan satu sendok nasi ke mulut Boy.


"Nggak sayang, kamu aja.." jawab Boy.


"Aaa gak?!" ucap Rya dengan memaksa.

__ADS_1


Boy akhirnya menerima suapan itu, dan sungguh hatinya terasa makin teriris.


__ADS_2