Pasangan Muda

Pasangan Muda
Tanggung jawab


__ADS_3

"There is something on my tummy.." Rya menatap perutnya. "Gue harus kasih tau Boy..!


Kemudian Rya bangkit dan mencari ponsel untuk menghubungi Boy, namun jarum jam menunjukan 03:45 pagi. Boy pasti sedang tidur, Rya mengurung kan niatnya. ia memilih untuk menunggu hingga pagi.


 


**Pagi hari**


 


Rya masih bersandar di dinding, dia belum tidur sama sekali. Ia ingin melakukan test sekali lagi sebelum menemui Boy. Takut-takut hasilnya salah. Tapi setelah melakukan tes kedua, benda pipih itu tetap memberikan hasil yang sama. Dua garis yang terpampang nyata.


Rya mencuci muka lalu mengganti pakaian. Dia akan pergi ke apartemen Boy saat inijuga. Ia berjalan menuju pintu namun langkah nya tiba-tiba berhenti, ia memegangi perutnya lagi.


"Gue harus sarapan dulu.."


Rya mengambil oats dan menghangatkan susu lalu mulai menyuapi diri nya sambil sesekali mengusap perutnya.


"Yatuhan.. Ada nyawa di perut gue.." ucap Rya.


Setelah beberapa saat Rya sudah selesai sarapan, kemudian ia langsung bergegas menuju apartemen Boy membawa ketiga test pack yang semalam ia beli.


 


**Apartemen Boy**


 


Rya sudah sampai, ia langsung masuk dan menaiki lift menuju kamar Noy. Rya menarik nafas nya sebelum memijit tombol password.


Pintu sudah terbuka, perlahan Rya masuk dan memanggil nama Boy, namun tidak ada sahutan dan Boy tidak ada di ruangan itu.


"Booyy.." Rya terus memanggil nama Boy dan tak lama kemudian Boy keluar dari kamar mandi, hanya dengan lilitan handuk di pinggang nya.


Boy tersenyum sambil merapihkan rambutnya yang basah dengan tangan. "Hey.. ngapain lu kesini? baru juga semalem.. kangen ya?"


"Ada yang mau gue omongin.." ucap Rya sambil menatap lelaki itu.


"Apa? pasti lu nagih yaa, gara-gara semalem gue gak jadi nginep?" Tanya Boy sambil memeluk Rya dari belakang. "Gue juga kangen mulu kok." tambahnya.

__ADS_1


"Stop!!" Rya membalikan badan, melepas pelukan itu. "Gue mau ngomong serius!"


"Okay, ada apa sayangkuuu?" tanya Boy sambil mengecup kilas bibir Rya.


Rya langsung mebuka tas nya dan mencari testpack itu lalu memberikan benda itu kepada Boy.


Boy terkejut bukan main, ia tak terlalu awam. Ia tahu benda apa yang Rya berikan padanya. "Lu serius?" tanya Boy sambil menilik benda itu.


"Emang kapan gue pernah bohong?" tanya Rya. "Ini gue bawa satu lagi, mau gue test di depan lu biar lu percaya?" nada bicara Rya mulai bergetar.


"Aaarrrgggh!! gue blum siap Rya! gue belum siap jadi bapak!" Boy berteriak dan menjauh dari Rya.


"Gak siap? lu bilang gak siap? kita bercinta bukan sekali dua kali!!" Rya ikut-ikutan berteriak sambil menatap lelaki yang membelakanginya.


"Iya, gue tau tapi aaaarrgggh!" Boy berteriak lahi, bahkan menjambak rambutnya sendiri.


Rya hanya menatap Boy, pikiranya semakin kacau. Bukannya membuat tenang ternyata Boy malah membuatnya semakin bingung. Air mata Rya mulai menetes. Rya duduk diujung ranjang dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Boy menyadari wanita itu sedang menangis, Boy berjalan mendekati Rya. "Sssttt sayang.." Boy memeluk dan mengusap punggung Rya.


"Kita harus gimana sekarang?" ucap Rya sesenggukan.


"Entah, gue juga bingung.."


Rya semakin menangis histeris ketika harus menerima kenyataan bahwa Boy hanya terdiam tanpa memberi solusi apapun.


"Oke, dengan diem gini gue uda bisa nebak jawaban lu apa!" Rya mengusap kasar air matanya. Rya beranjak menuju pintu meninggalkan Boy yang diam mematung sejak tadi.


"Tunggu!"


Boy berlari dan meraih tangan Rya, menahan wanita itu agar tidak pergi. Boy langsung memeluknya dan Rya lagi-lagi semakin menangis sejadi-jadinya.


"Lu jahaat, jahaaaatt banget!!" ucap Rya sambil memukul dada Boy tanpa tenaga.


"Tenang dulu sayang, tenang jangan nangis terus." Boy mengusap-usap punggung Rya.


"Tenang? lu bilang tenang? " Rya melepaskan pelukan itu, menghardik Boy dengan tatapannya.


"Gue sayang sama lu tapi...." Boy menggantung kata-katanya.

__ADS_1


"Tapi apa?" Rya semakin merasa sakit hati.


"Please, ini yang pertama buat gue.."


"Lu pikir ini yang ke berapa buat gue hah?"


"Gue gak tau giman cara ngadepin nyokap gue, dia pasti kaget banget denger ini dia pasti sedih, gue gak tega liat dia sedih apalagi nangis." ujar Boy sambil menatap nanar.


"Terus lu tega liat gue sedih dan nangis lagi hah?"


"Jangan bikin gue makin bingung Rya! berenti nangis! gue bakal tanggung jawab tapi kasih waktu gue buat mikirin jalannya!" nada bicara Boy sedikit membentak.


Dan Rya hanya menangis, dan kali ini tanpa suara.


"Sayaaaang.. maafin aku.. aku janji bakalan tanggung jawab, jangan nangis lagi yaaa.. aku cuma butuh waktu buat mikir jernih, supaya semuanya lancar.. meskipun jalannya udah pasti gak bakal semulus yang kita harapkan.."


Boy memeluk erat tubuh Rya dan mengusap lembut menenangkan Rya. Perlahan tangisan Rya mulai reda, ia merasa sedikit lega.


Boy melepas pelukan, ia menatap perut Rya lalu mengusapnya dan berlutut di depan Rya.


"Aku mau jadi papa:') tunggu ya sayang, papa bakal berusaha buat kalian bahagia apapun yang terjadi papa bakal hadepin.." Boy mengecup perut Rya.


Boy dan rya saling menatap, Boy merasa terharu dan meneteskan air mata. terjadi perang bathin dalam dirinya tapi rasa sayangnya pada Rya membuat dia akan teguh memperjuang kan.


"Bangun boy.." Rya meraih dagu Boy meminta lelaki itu untuk berdiri.


Boy menuruti nya, ia berdiri lalu mengecup kening Rya. "Boy kamu yakin?"


"Sssssttt udah jangan ngomongin itu terus, aku bakal cari waktu yang pas buat bicara ke orang tua kamu dan ke orang tua aku.. sabar yaaa.. kasi aku waktu beberapa hari.."


Rya langsung memeluk Boy, ia merasa sangaaaaatt lega sekarang. Setidaknya ada titik yang menunjukan jalan untuk kebingungan ini. Boy akan bertanggung jawab dan mereka akan menikah.


Entah japan tapi Rya yakin hal itu pasti terjadi, Boy akan selalu menepati kata-katanya.


"Aku takuuut.." ucap Rya dengan nada sendu.


"Ada aku.. kamu gak perlu takut." ujar Boy sambil tersenyum. Padahal pikirannya juga sama kacau dengan Rya. "Mending kamu bobo gih, pasti cape kan."


Rya akhirnya merebahkan diri diranjang dan kemudian tertidur karena kelelahan dan memang kurang tidur.

__ADS_1


Sementara Boy terlihat termenung diujung sana, otaknya tidak bisa berhenti berpikir. Ia harus segera menemukan cara untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia perbuat.


Namun sekali lagi, Boy sangat mencintai Rya. Ia akan memperjuangkan wanita itu bagaimanapun caranya.


__ADS_2