
Mereka sudah sampai diacara party itu, Dine melihat Boy yang sedang duduk dikap mobil sambil menyesap rokok, sepertinya dia sedang menunggu Rya.
"Boy tuh.." ucap Dine menyenggol lengan Rya.
"Eh iya.." Rya menatap Boy dari kejauhan. "Hm kira-kira dia bakalan suka gak yaa liat gue kaya gini?" tanya Rya sambil menilik penampilannya.
"Dijamin.. dah sana samperin.. gue masuk duluan yaa.." ucap Dine.
"Yaudah, okay.."
Rya menarik nafas lalu berjalan mendekati Boy, Entah mengapa ia sangat percaya diri dengan penampilan yang tidak biasa ini.
Boy terlihat menatap dari kejauhan, ia melihat seorang wanita bergaun panjang sedang berjalan ke arahnya. Ia terpesona, mata nya tak bisa berkedip.
"Haaaaii.." Rya menyapa.
Boy hanya terdiam, ia benar-benar sangat merasa terpukau. Boy bagkan berjalan mengelilingi Rya untuk meyakinkan bahwa wanita itu adalah Rya. "Ini beneran elu?" tanya Boy, masih tidak percaya.
"lha terus siapa? gue jelek yaaa pakek ini." Rya yang semula percaya diri langsung merubah airmuka.
"Sumpah lu cantik banget! banget banget banget!" Boy memuji Rya berulang-ulang.
***
Hingga akhirnya pesta nya sudah berakhir, Mereka sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk pulang. Namun Boy masih terus saja memandangi Rya, dia begitu terpesona.
"Sumpah demi apa lu cantik banget!!" Boy memuji lagi, tangan Boy mengusap pipi Rya membuat wanita itu merona karena terus dipuji.
Jari Tangan boy menari di pipi Rya dan kini ia memainkan bibir Rya dengan telunjuknya. "Merah banget sayang, pasti manis,." ujarnay sambil langsung mengecup. Mwah.
"Udah malem Boy, anterin gue balik.." ujar Rya.
"Hm.. tapi gue pengen ini.." ujar Boy sambil memainkan bibir Rya lagi.
Cuupp!! bibir mereka menyatu lagi, saling mengecup dan melu-mat hangat. Saling membelit dan meng-hisap.
"Pindah kebelakang yuk?" ajak Boy.
"Perut gue keram, Boy." ucap Rya.
__ADS_1
"Ayolah.. bentaran doang.." ajak Boy lagi.
Ā
"Nggak ih, gue mau pulang. Gak enak badan sumpah.." ujar Rya. Ia juga heran kenapa tiba-tiba lemas dan perutnya keram, padahal daritadi ia baik-baik saja.
"Yaudah, kiss lagi ajadeh.."
Nyum..nyum..nyum.. mereka berpagutan lagi.
"Udah ih, gue mau pulang." ucap Rya.
"Iya.. iya ayo.." Boy segera menghidupkan mesin mobil, menyulut rokok kemudian mulai menancap gas.
"Diem ajasih.. Nggak ngerokok sayang?" ucap Boy sambil melirik Rya yang tiba-tiba hanya diam.
"Jangan dulu ngerokok bisa gak? gue lagi gak mood nyium asap rokok! enegh." ujar Rya.
"Kan aceeeeeeumm." ujar Boy sambil masih asik dengan rokok ditangannya, ia bahkan menggoda Rua dengan sengaja meniup asap itu ke arahnya.
Sepanjang jalan Rya hanya terdiam, sesekali ia mengusap perutnya. Ia merasa perut bawahnya agak berat.
Dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai, Rya meraih tasnya dan langsung turun di ikuti Boy.
"Kenapa? gue pengen nginep."
Entah kenapa rya merasa badmood, ia tidak suka melihat Boy apalagi dengan rokok ditangan lelaki itu.
"Ada dine di atas, dia lg nginep.." Rya berbohong, padahal Dine pulang ke apartemennya sendiri.
"Yaaaahh gatot, ngapain sih dia pake acara nginep-nginep segala." Boy menggerutu.
"Next aja yaaa, sekarang gue mau istirahat, capek." ucap Rya dengan nada dingin.
Setelah perdebatan itu, akhirnya Boy pulang dan Rya masuk sendirian kedalam apartemen itu. Rya mengganti gaun, menghapus make up kemudian merebahkan diri.
Dia mencoba memejam kan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemas. Namun ia tidak bisa tidur, ia malah merasa sangat gelisah. Perutnya terasa kram sejak tadi.
Mau datang bulan kayaknya.. Gumam Rya.
__ADS_1
Kemudian Rya berdiri didepan cermin, mengangkat kaus lalu menyampingkan diri dan memperhatikan perutnya di pantulan kaca. Ia merasa heran melihat perut rampingnya kini sedikit berisi.
kalender tracker, dimana ya kalender gue.. Gumam Rya.
Rya mengingat kalender yang selalu mencatat siksul datang bulannya, ia mulai mencari lalu menemukan benda itu di laci.
what? gue uda telat satu bulanš® Rya langsung terkejut, matanya melebar dan mulut nya menganga seakan tak percaya.
Rya kembali berdiri di depan cermin, pikirannya mulai kacau. ia memegangi perutnya.
Jangan jangaaaaaan.. gak..gak.. gak..nggaaakk mungkin! aaaaaah gak mungkin! Rya berteriak sendiri.
Seketika Rya menjadi panik, ia mengira diri nya hamil. Ia terus berjalan mondar-mandir tidak karuan karna merasa bingung.
"Gue harus pastiin.." ucapnya.
Rya berlari mengambil kunci mobil dan bergegas menuju apotik, ia ingin membeli test pack untuk membuktikan nya.
"Beli jangan ya? gue harus pastiin tapi gue takut kalo hasil nya bener-bener aaaaaaarrrggh ck!" Rya berjalan mondar mandir sambil memijit pangkal hidung nya, ia merasa sangat dilema.
"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang security yang sejak tadi melihat Rya kebingungan.
"Aaah hmm.. tidak terima kasih." Rya tersenyum simpul.
Rya langsung berjalan masuk menuju apoteker, ia menghela nafas nya panjang hingga akhirnya memberanikan diri untuk membeli test pack tersebut.
Rya kembali ke dalam mobilnya setelah mendapat kan 3 buah test pack, ia langsung melesat kan mobil untuk kembali ke apartemen.
Setelah sampai dikamar, pikiran dan bathin Rya semakin kacau.
"Astaga gue ngerasa ngambang bgt!" Rya berdecak lirih.
Lalu dengan tangan gemetar Rya memberanikan diri untuk melakukan test nya. Test sudah selesai, Rya memejamkan mata sambil menghela nafas saat akan melihat hasil nya.
"God help me please! " Rya mendongkak menatap langit-langit.
Perlahan Rya menatap testpack yang sudah memperlihatkan hasil itu. Jiwanya terbang, pikirannya melayang. Kakinya terasa sudah tidak berpijak dilantai.
"dua garis? artinya gueeee?"
__ADS_1
Seketika tubuh Rya luruh ke lantai, Rya mengusap lembut perutnya. Dia tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia, yang jelas dia tidak bisa menangis atau tersenyum.
"There is something on my tummy.." Rya menatap perutnya. "Gue harus kasih tau Boy..!