Pasangan Muda

Pasangan Muda
Tidur


__ADS_3

Boy duduk diam sendirian di kap mobil yang diparkir tidak jauh dari rumah sakit, meninggalkan Rya yang sudah tertidur di ruangannya. Boy berlagak tegar dan menguatkan istrinya itu, berbeda dengan kini ketika dirinya sendirian. Lelaki itu sedang menyesap rokok sambil menitikan air matanya, berharap luka yang ada di hatinya itu terhempas bersama kepulan asap rokok yang berhembus dari mulutnya.


Kehilangan calon buah hati adalah salah satu hal yang paling menyakitkan, bahkan luka kehilangan saat ditinggal pergi oleh papa Wira belum juga sembuh. Memang benar yaa, luka ditinggal kematian itu tidak akan pernah ada obatnya.


"Cobaan macam apalagi ini, ya tuhaan.. Kenapa hidupku selalu dirundung masalah yang datang bertubi-tubi.. Kenapa hidup kami tidak juga menemukan titik paling bahagia?"


Fyuuuhh.. Boy kembali mengepulkan asap bersama dengan nafas frustasinya, jengah dengan masalah-masalah yang selalu saja datang. Boy merasa suntuk, kapan hidup itu akan tenang?


Apa mungkin Rya keguguran gara-gara stress sama sikap mama ya? Atau karena emang dia belum pengen hamil lagi? Nggak mungkin! Rya nggak mungkin kayak gitu.. Dia sendiri bilang, dia nggak tahu kalau dia lagi hamil. Lagian aku juga nggak ngeliat tanda-tanda kalo Rya lagi hamil kemarin.


Boy jadi terlena dengan lamunannya sendiri, sudah sekian bulan sejak Rya melepas alat kontrasepsi untuk program anak kedua sesuai yang Boy inginkan. Namun saat Boy berhasil membuat wanita itu hamil, Tuhan malah kembali mengambil janin yang baru saja dititipkan dirahim Rya.


Boy sungguh sangat mendambakan adik-adik untuk Barel, ingin hidup dengan banyak orang disekelilingnya. Karena sejak awal mereka menikah mereka merasa hidup hanya berdua, bertiga dengan Barel saja. Boy merasa dirinya dan Rya adalah sama-sama anak tunggal, sama-sama sebatang kara tanpa saudara ataupun keluarga. Untuk itu Boy menginginkan untuk memiliki banyak anak dari Rya.


**

__ADS_1


Rya terbangun dari tidurnya..


Namun saat mata itu terbuka, pandangannya tidak mendapati Boy yang padahal sejak tadi menemaninya.


Kemana dia?


Rya kemudian beringsut dengan hati-hati. Perutnya masih terasa sakit, sesakit hatinya yang begitu hancur. Ditatapnya perut itu dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafin bunda, nak.. Bunda bahkan gak tau kehadiran kamu diperut bunda.. Bunda gak bisa jagain kamu bahkan sebelum kamu tiba didunia,, maafin bunda yaa.." Bulir bening itu lagi-lagi terjatuh. Saat Rya kembali mengingat kebodohannya yang tidak mengetahui kehadiran calon buah hati ke-dua.


Rya jadi kembali mengingat bagaimana ekspresi suaminya yang jelas-jelas ada raut kecewa meskipun lelaki itu memeluk dan tersenyum kepadanya.


Kreekk!! pintu ruangan terbuka.


Boy sudah kembali dari acara menghirup udara segar, dan saat memasuki ruangan itu Boy melihat Rya lagi-lagi sedang menangis.


Uuwwwhh.. Hatinya terasa semakin teriris.

__ADS_1


"Kenapa? kok bangun lagi?" Boy menghampiri Rya sambil duduk diatas brankar, meraih sebelah tangan Rya untuk digenggamnya. "Jangan nangis terus,,, aku gak tahan liatnya.." ucap Boy sambil menyingkirkan bongkahan air mata yang terus saja mengalir.


"Maa aaaf.." hanya itu kata yang selalu Rya ucapkan.


"Gak perlu minta maaf, Yang.. kamu gak salah.." kini Boy mengusap wajah Rya dan memberikan sebuah senyuman.


"Kamu gak marah kan?" tanya Rya lagi sambil menyelidik ekspresi Boy.


Boy menyimpulkan senyuman. "Aku yakin kok, nanti kita bakalan dikasih kesempatan lagi.. Sabar yaaa.." Boy kemudian merangkum tubuh Rya kedalam pelukannya. Menenangkan Rya dan menenangkan hatinya juga.


Lumayan lama saling memeluk, Boy kemudian melepas pelukan itu dan menatap dalam pada istrinya. "Bobo lagi yaaa.. harus banyak istirahat biar cepet sembuh.." ujar Boy sambil tersenyum lagi.


"Barel gimana, hon?" tanya Rya dengan suara yang hampir habis.


"Barel dirumah sama mama, sama bu Nani juga.." jawab Boy sambil turun dan memutari brankar, kemudian naik lagi dan berbaring disana. "Sini.." pinta Boy agar Rya menjatuhkan diri kedalam pelukannya, dan Rya langsung ikut berbaring dengan lengan Boy yang menjadi alas tidurnya. "Cepet sembuh yaaaa.." Cuuuppp!!! Boy memberikan kecupan yang tulus sambil memberikan usapan lembut agar wanitanya kembali tertidur.

__ADS_1


Seiring waktu bergulir, mata yang lelah itu akhirnya beristirahat. Melupakan sejenak kesedihan yang menyerang mereka. Tertidur diatas brankar rumah sakit yang terasa nyaman karena saling berpelukan.


__ADS_2