
Rya terdiam dalam lamunanya di pagi buta. Baru saja hubunganya membaik sekarang sudah muncul masalah lain.
"Boy akutuh gak mau berantem sama kamu, aku gak mau debat sama kamu. Aku pengen kita baik baik aja, tapi aku juga gak bisa diem aja kalo ada sesuatu yang gak beres."
Rya terus menatap suaminya yang masih pulas tertidur. Pikiranya sudah berakar kesana kemari hingga dia merasa perutnya sedikit kram.
"Awwwhh..." Rya membungkuk dan menahan perut bagian bawahnya.
"Kenapa dedeee? kamu baik baik aja kan di sana?" Rya mengelus perutnya hingga rasa itu perlahan pudar namun bukannya menghilang, rasa itu semakin kuat dan membuatnya semakin meringis kesakitan.
Suara racauan Rya yang mengaduh akhirnya membuat Boy terbangun. Dengan mata yang masih mengantuk Boy menghampiri Rya yang berada di sofa.
"Kenapa sayang? kamu kok gak tidur?" tanya Boy sambil mengelus punggung dan duduk di samping Rya. Mata Boy melihat tangan Rya yang berada di perutnya dan tangan satu lagi menggenggam ponsel miliknya.
"Gak tau.. sakiiiittt.. sakit bangeeeett.." Rya memekik kesakitan.
"Sakit gimana? apanya yang sakit?" tanya Boy mulai panik.
"Perut aku.. Sakit banget.. kayak kenceng gitu." jawab Rya sambil meringis.
"Kenceng? kenceng gimana maksudnya?"
"Pokoknya sakiiiiiit.."
"Ya-yaudah Tunggu bentar."
__ADS_1
Boy berlari keluar kamar dan mencari Lita. Beruntung Lita sudah bangun dan sedang membuat teh di dapur. Boy langsung menemui sang mertua dengan tergesa-gesa. wajah khawatir.
"Bu.. ibu..." Huh..huh..huh Boy mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal.
"Kenapa Boy? kamu kayak abis liat hantu aja deh. Nih minum dulu.." Lita memberikan segelas air untuk menantunya.
"Rya bu, bantu aku bawa dia ke rumah sakit.." ujar Boy dengan wajah kuatir.
"Hahh? rumah sakit? memang nya Rya kenapa?" tanya Lita.
Lita menaruh gelas berisi air untuk Boy yang sama sekali tidak di minum itu. Berlari beranjak menuju kamar Rya dengan wajah cemas.
Lita menemukan Rya yang sudah pucat dengan tangan yang masih memegang perut.
"Kita langsung bawa ke Rumah sakit aja bu!" seru Boy.
Boy langsung membopong Rya dengan sangat hati-hati menuju mobilnya. Lita mebantu membuka pintu belakang dan juga membantu Rya untuk duduk.
Di saat keadaan panik Boy masih mengingat ia tak membawa dompet dan ponsel. Akhirnya ia kembali berlari menuju kamar.
Setelah mendapat kan dompet dan ponsel, Boy segera menuju mobil dan melajukannya menuju rumah sakit.
Karna ini masih sangat pagi dokter kandungan pasti belum memulai praktik nya. Boy memilih membawa Rya ke rumah sakit besar agar langsung di tangani di UGD.
"Pelan pelan Hon.." Rya masih meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ia sayang tahan dulu yaaa.. bentar lagi kita nyampe." ucap Boy yang sudah panik dan berkeringat dingin.
Setelah sampai di rumah sakit Boy langsung memanggil beberapa perawat untuk membantunya. Dua orang perawat langsung berlari sambil membawa sebuah brankar.
Boy membantu Rya untuk naik dan berbaring. Perawat mulai mendorong brankar menuju ruang Instalasi, Boy menggenggam tangan Rya dan menatap wajah istrinya yang semakin pucat.
"Kuat ya sayang.." Boy mengecup punggung tangan Rya.
Langkah Boy terhenti di sebuah pintu karna para perawat memintanya untuk menunggu diluar. Dengan sangat frustasi boy mendenguskan nafas kasar dan mengacak rambut nya.
"Sabar nak, kita berdoa biar Rya dan bayi nya baik baik saja.." Lita menepuk bahu Boy mencoba menenangkan.
Mereka berdua duduk di ruang tunggu dengan penuh harap. Mata Boy mulai berkaca-kaca mengkhawatirkan sang istri dan si jabang bayi yang sedang mendapatkan tindakan.
"Pokok nya mereka harus baik baik aja!" Boy berteriak.
"Sstt.. istighfar Boy, kamu harus kuat biar mereka juga kuat!"
"Gimana kalo Aaaaarrghhh!!"
Boy menumpahkan air mata yang sudah tidak bisa lagi di bendung, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rya.
Hingga..
Beberpaa menit kemudian seorang perawat membuka pintu. Dengan spontan Boy langsung berlari dan menghampiri perawat tersebut.
__ADS_1