Pasangan Muda

Pasangan Muda
Kembali utuh


__ADS_3

Rya masih mendapatkan perawatan intensive meskipun tubuhnya sudah lumayan enak dari sebelumnya. Hanya luka bagian dalam yang belum sembuh dan sepertinya luka itu akan memakan waktu cukup lama untuk pulih kembali.


Monic dan Chandra terlihat datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rya. Meskipun sudah jarang sekali mereka bertemu, namun rasanya pertemuan itu terasa biasa saja.


"Kok bisa sih kamu gak tau kalo perutnya lagi isi?" tanya Mama Monic saat sudah mengetahui alasan putri sambungnya itu dirawat dirumah sakit. "Padahal inikan kehamilan kedua." tambahnya.


Ultimatum mama Monic berhasil membuat semua mata orang-orang diruangan itu seketika tertuju kepadanya. Kata-kata mama Monic itu seakan ia tidak mengingat bagaimana kehamilan Rya yang pertama.


Namun meskipun orangtua mereka selalu beropini dan berkomentar yang kadang menyesakkan dada, beruntungnya pasangan muda itu selalu menghadapinya dengan kedewasaan dan ketenangan. Mereka tidak pernah mengekspresikan kemarahan langsung di depan mereka. Mau bagaimanapun mereka tetaplah orang tua.


"Mah?" Chandra menatap istrinya dengan tatapan tajam, kemudian kembali menatap putrinya yang masih terbaring. "Terus sekarang Barel sama siapa?" tanya Chandra, mengalihkan kecanggungan yang diciptakan Monic.


"Barel sama mama, Om.. Eh, maksutnya Barel sama mama Rena, pah.." Cih, bahkan Boy sampai salah saat menyebut panggilan mertuanya.


"Banyak-banyak istirahat yaa, biar cepet sembuh.. Nanti papa nemuin Barel biar dia gak kesepian." ucap papa Chandra sambil mengulas sebuah senyuman. "Boy.. papa mau bicara berdua, bisa?" tambahnya sambil menatap menantu satu-satunya itu.

__ADS_1


"Bo-leeeh.." jawab Boy sambil mengangguk pelan.


Dan lalu detik selanjutnya dua pria itu pamit untuk pergi dari ruangan itu, menyisakan Rya dan mama Monic disana yang masih sama-sama canggung. Kecanggungan itu membuat mereka hanya diam dalam kata, tidak se-luwes selayaknya ibu dan anak.


"U-dah makan?" tanya mama Monic sambil menatap Rya dan Rya hanya mengangguk dan berkata 'Udah' dengan nada lirih. "Boy udah ngebet nambah anak, emang kamu udah siap?" tanya Monic lagi.


"Aku selalu siap.. aku gak pernah takut melewati apapun, karena aku punya Boy yang sangat mencintai aku dan selalu ada disamping aku.." ujar Rya dengan nada cukup sarkas, mungkin kata-kata itu sekaligus menyindir ibu tiri-nya.


Anak.. mungkin seorang anak sering menjadi penyebab pertengkaran dalam rumah tangga. Terlebih jika pasangan rumah tangga sebenarnya masih belum siap dan cukup komitmen dalam mempunyai anak. Anak merupakan tanggung jawab yang luar biasa dalam pernikahan. Namun beruntungnya Rya bisa memikul tanggung jawab itu meskipun tanpa pemahaman sebelumnya, meskipun ia masih sangat muda untuk memiliki seorang anak.


"Kamu hebat, Rya.. Mama gak nyangka kamu bisa lewatin ini semua.. Mama gak nyangka banget kamu bisa berumah tangga,, mengurus suami dan anak sekaligus di usia yang masih sangat muda.. Kamu bisa jadi ibu yang tangguh meskipun kamu gak merasai kasih seorang ibu yang sesungguhnya.. Mama ikut bahagia dengan hidup kamu yang sekarang,, mama sadar mama gak pernah bisa kasih apa yang kamu mau dan butuhkan.. Tapi do'a mama selalu minta kamu bisa bahagia selalu.."


Monic menceloskan satu bulir air matanya. Mengingat kembali kisah masa lalu saat ia mengurusi bayi hasil dari pernikahan siri suaminya itu. Meskipun tidak bisa sepenuhnya menyayangi Rya, tapi dihatinya ada secercah kasih karena sudah bersama dengan Rya selama belasan tahun.


"Makasih mama udah rawat dan besarin aku,, yang lalu biarlah berlalu.. Mungkin Rya bisa seperti ini karena pengalaman hidup yang menjadi guru terbaik.. Rya gak pernah menyesali atau menyalahi siapapun.. Rya selalu mencoba bersyukur dengan apa yang sudah semesta gariskan buat Rya.." balas Rya sambil tersenyum. Ia juga kembali mengingat masa lalu saat mama Monic merawatnya, dan Rya berterima kasih untuk itu.

__ADS_1


Dan detik selanjutnya mereka saling tersenyum dan kemudian saling memeluk satu sama lain. 🤗


*


Boy dan Chandra tiba disebuah Cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Para lelaki itu akan ngopi ganteng sambil ngobrol-ngobrol, kegiatan yang belum pernah mereka lakukan meskipun sudah mnejadi keluarga bertahun-tahun.


"Ada apa, pah? tumben banget ngajak Boy ngopi,, hehe." Boy menjadi yang pertama membuka suara saat mereka sudah berada di Cafe yang sebenarnya anak cabang milik Boy.


"Papa hanya ingin mengobrol dengan suami anak papa yang udah berhasil bikin anak papa bahagia." jawab Chandra sambil mengulas senyuman. "Makasih ya, Boy.. kamu udah kasih semua yang papa gak bisa kasih buat Rya.. Kasih sayang dan segalanya.. Papa gak salah menyerahkan tanggung jawab atas Rya pada kamu." tambahnya dengan seringai penuh bangga, mirip senyuman papa Wira di detik-detik terakhirnya.


"Gak usah berlebihan, pah.. Apa yang Boy lakuin emang udah sepatutnya Boy lakuin.. Dan apa yang diterima Rya memang sudah sepatutnya Rya terima.." ujar Boy sambil tersenyum simpul.


"Kalian sangat hebat menjalani rumah tangga sebagai pasangan muda, papa salut." ucap Chandra dengan gurat kebanggaan. Sebagai lelaki dan sebagai seorang ayah, Chandra merasa Boy lebih hebat mengemban tugas dan tanggung jawabnya. "Bravo Boy,, rawat Rya dengan baik biar dia cepet sembuh.. Papa setuju kalian nambah anak biar keluarga kalian makin berwarna." tambahnya.


"Kita juga keluarga, Pah.. kita bisa buat keluarga kita berwarna tanpa harus nunggu Rya nambah anak lagi." ujar Boy.

__ADS_1


Dan kini para lelaki itu tampak tidak canggung lagi, sudah saling mengobrol dan mengutarakan pendapat. Sepertinya perang dingin itu kini sudah usai.


__ADS_2