
"Fvck! Kerjaan siapa sih? gue lagi pusing malah ditambah pusing agh!!" Boy mendengus kesal kemudian mengambil batu yang dibungkus kain merah itu. Boy membuka bingkisan itu kemudian membaca tulisan di kain itu.
"Let's Play!!" ujar tulisan di kain itu.
Boy makin merasa bingung, ia tidak mengerti maksud dari semua ini.
Dengan perut yang lumayan membuncit Rya mengikuti langkah Boy keluar kamar. Rya terkejut melihat serpihan kaca yang berserakan.
"Ada apa ini?" tanya Rya. dan Boy menoleh kemudian menatap tajam.
"Sana masuk!!"
"Biasa aja dong, aku nanya baik-baik!!"
"Gue lagi gak baik!!"
Rya membalikan badan kemudian menuju kamarnya lagi.
"Hiiihh Boy nyebelin!!!" rutuk Rya sambil mengepalkan kedua tangan.
Boy kemudian memanggil kedua pembantunya untuk membereskan serpihan kaca yang bertebaran itu, mengintip keluar jendela yang pecah namun tidak ada yang mencurigakan sama sekali disana.
Esok Hari..
Boy bangun lebih awal tanpa dibangunkan oleh Rya karna Boy tidur di sofa yang membuat tidurnya kurang nyaman. Boy bangun sambil sedikit memijat pundak yang terasa pegal.
"hoaaaamm..." Boy langsung menuju kamar mandi dan bersiap pergi ke kantor tanpa membangunkan Rya yang masih tidur untuk berpamitan.
#Di kantor
Marcel masuk ke dalam ruangan Boy dan memberikan beberapa dokumen penting untuk di periksa dan ditanda tangani oleh Boy. "Pak, ini dokumennya."
"Udah gue bilang jangan panggil bapak, gue masih muda!" ucap Boy dengan nada yang sedang bete.
"Inikan di kantor pak." Marcel kembali menggod Boy dengan sedikit tersenyum.
"Kalo banyak orang iya!" Boy membentak lagi.
"Lu kenapa sih sensi banget kayak lagi dateng bulan?" tanya Marcel yang melihat gelagat Boy yang sensi. "Hmm biar gue tebak... gara-gara gak dikasih jatah sama Rya yaaa?"
__ADS_1
"Berisik lu ah!" Boy mulai membuka file-file dihadapanya kemudian menandatangani yang harus ditanda tangan.
"Eh kemaren kan Rya sakit. Gimana keadaanya sekarang?" tanya Marcel lagi.
"Cel, kayaknya ada yang nerror gue deh.." jawab Boy mengalihkan pertanyaan Marcel.
"Maksudnya?" Marcel membereskan dokumen yang sudah selesai di periksa Boy.
"Jadi gini.. (Boy menceritakan kejadian detail dari kotak misterius sampai kaca rumahnya yang pecah semalam) parah kan?"
"Coba lu nyari security buat jaga-jaga dirumah, kan tar ketahuan tuh yang ngirim surat atau ngelempar apa gitu ke rumah lu.. Ngandelin satpam komplek mah gabakalan bener, kerjanya cuma kalo soal penagihan aja!" ujar Marcel.
"Bener juga yaaa, tumben lu pinter haha." Boy tertarik lagi dengan ide Marcel.
"Sialan!! Bukanya terima kasih. Gue lanjut dulu yaaa.."
Boy mengangguk kemudian Marcel pergi dari ruangan Boy.
#Di rumah
Rya terbangun dari tidurnya kemudian mencari Boy. Namun lelaki itu sudah tidak ada disampingnya.
"Ini kan masih pagi, gak mungkin dia udah berangkat.." gumam Rya sambil menguap.
"Oh gitu bi, hmm bi aku pengen sarapan tapi tolong bawain ke atas yaa. Bi sari mana? tolong beresin kamar juga."
Rya berjalan menuju dapur kemudian membuat susu hamil dan membawanya ke teras, Rya duduk sambil menghirup udara segar di halaman kecil rumahnya.
Setelah beberapa menit bi wati kembali menghampiri Rya.
"Sudah selesai non, kamar sudah rapih dan sarapan sudah ada di sana.."
"Okay, makasih ya bi.."
"Tadi hp non bunyi terus, mau saya angkat tapi gak berani hehe."
"Siapa bi?"
Rya langsung masuk dan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Rya langsung memeriksa hp nya dan ternyata benar, banyak panggilan masuk yang tidak terjawab.
"Sombong banget sih gak di angkat-angkat!! 😒"
*Dine
__ADS_1
"Ahaha lagian ngapain coba nelpon pagi-pagi."
Rya tertawa saat membaca pesan itu, kemudian Rya langsung menelpon balik sahabatnya itu.
(panggilan terhubung)
"Hallo.."
"Sombong banget sih calon mahmud... telpon gue gak di angkat dari tadi."
"Gue lagi di bawah tadi, ada apa gitu pagi-pagi uda nelponin?"
"Gak boleh emang? hmm gak ada apa-apa sih gue cuma mau bilang gue mau ke rumah lu hari ini. Boleh gak?"
"Ya boleh lhaaa, kapan? sekarang? yaudah cepetan.."
"Dih sabar kali, gue baru kelar mandi.. Mau gue bawain sesuatu gak?"
Rya tertawa senang saat mendapat kabar bahwa Dine akan berkunjung kerumahnya. Biasanya mereka selalu bertemu setiap saat, namun setelah menikah paling juga satu bulan sekali hehe.
Rya melahap sarapan nya kemudian meminum vitamin dari dokter. Setelah itu Rya merapihkan meja dan membawa nampan sarapanya ke dapur.
Satu jam kemudian
Dine sudah berada di rumah Rya, Ia membawa beberapa makanan pedas dan rujak-rujakan untuk Rya.
Dine dan Rya saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing kemudian bertukar cerita juga.
"Eh lu tau gak, Si Mytha minta dikawinin sama si Marcel tapi si Marcelnya kaya ngulur gitu.. katanya dia belom punya cukup duit, padahal sekarang Marcel jadi asisten nya Boy, pasti gajinya lumayan kan?"
Rya kaget mendengar Marcel sekarang jadi asisten Boy. Ternyata banyak yang tidak Rya ketahui tentang Boy sekarang.
"Ah iya lah gue tau hehe." Rya mencoba pura-pura karna Rya tidak mau Dine tahu kalau hubungan nya dengan Boy sedang sedikit renggang.
"Yaa gitu deh, setiap hubungan pasti ada mulu ceritanya haha.. Ah iyaaa sekarang gue deket sama Vano tauuu, hmm gak nyangka si Vano bisa suka sama gueeee.." Dine tersenyum lebay.
"Vano? lu jadian sama dia?" tanya Rya
"Ah hmm pokoknya gitu deh, Gue sering jalan sama dia gituuu. Sering telponan, sering ketemuuuu.. Lu juga pasti gitu kan sama Boy dulu?"
Mengingat Vano dan Boy, Rya jadi ikut tertawa bersama Dine.
__ADS_1
Mereka terus bercerita kesana kemari, Tapi Rya sedikitpun tidak menceritakan kehidupan pribadinya kepada Dine. Rya malah nunjukin kalo dia sangat bahagia tanpa celah.