
Rya sedang nongkrong bersama Barel di teras sambil berbincang dengan Bu Nani tetangga sebelahnya. Mereka mengobrol ngaler ngidul sambil mengajak Barel berceloteh sekali-kali.
"Bayimu kaya bayi umur berapa bulaaan, gituu.. montok banget.." ujar Bu Nani yang sedang duduk sambil memotong-motong sayuran.
"Iya bu, nete-nya kuat banget soalnya.." timpal Rya.
"Anak cowok emang gitu, neng.. nggantung ampe berjam-jam juga dia kuat.." ucap Bu Nani sambil melirik Rya.
"Bener banget bu, kalo malem juga kadang aku yang ketiduran duluan.." sahut Rya.
"Ngantuk ya, kalo nete-in bayi, gak kaya kalo nete-in ayahnya.. hehe.." ucap Bu Nani.
Ih Bu Nani kok jadi ketularan Boy sih? sama-sama omesh. Gumam Rya dalam hati.
"Ah ibu..." ucap Rya malu-malu.
Keduanya pun hanya tertawa kecil dengan candaan itu. Rya jadi semakin tersipu apalagi saat mengingat kejadian semalam. Saat dirinya kembali berhubungan badan bersama Boy setelah hampir 3 bulan vakum. Namun sesi bercinta itu tergolong slowly, berbeda dengan aktivitas bercinta biasanya yang selalu hard mode. ๐ Boy melakukannya dengan sangat lembut, mengingat Rya yang masih merasa takut-takut karna malam itu Rya juga kembali mengingat saat dulu Boy menyobek selaput darahnya.
Namun dibalik aksi mendebarkan namun geli-geli mengenakan itu, Rya dibuat tertawa geli karena malam itu Boy enggan bermain di gundukan sintal milik Rya yang dulu menjadi primadona dan tempat favoritnya main berlama-lama. Sebab payudara Rya kini terdapat Asi milik Barel๐
"Neng..neng.." ucap Bu Nani. "Hey, neng, neng.." ucap Bu Nani sambil menggerakan tubuh Rya dan melambai-lambaikan tanganya didepan wajah Rya.
Rya yang sedang senyum-senyum karna flashback kejadian semalam langsung mematung dan menatap Bu Nani saat menyadari Bu Nani memanggil-manggil dirinya.. "E-eh kenapa bu?" tanya Rya yang mengerjap.
"Lamunin apa dah mpe senyum-senyum merona gitu?" goda Bu Nani.
"Ih nggak kok bu, Rya gak ngelamun.. Rya kan emang murah senyum.." tepis Rya yang malu karena ketahuan.
__ADS_1
"Bohong.. tuh buktinya ada tamu di anggurin." ucap Bu Nani.
"Tamu? siapa Bu?" tanya Rya sambil mengedarkan pandangannya.
"Permisi, ini rumahnya pak Boy pemilik Barrack coffe kan?" tanya seorang pria yang memang memakai kemeja dan topi bertuliskan nama Barrack coffe.
"Saya istrinya, ada apa ya?" tanya Rya pada orang itu.
"Saya Agil, Bu.. Saya karyawan bapak dikafe.. Bapaknya ada bu? soalnya didepan kafe udah ada beberapa mobil box yang kirim barang, udah ada para pelanggan juga. Jalanan deket kafe jadi macet, saya juga gak bisa masuk karena kuncinya kan dibawa bapak kemarin.." jawab Agil panjang lebar.
"Ma-maksudnya Boy gak ada di kafe? Boy udah berangkat lho daritadi.. pagi banget malah.. masa belum nyampe sih.." tanya Rya lagi.
"Betul bu, saya juga usah nunggu dari pagi tapi bapak gak dateng-dateng. kalo ibu gak percaya ibu ke kafe aja.." ucap Agil.
"Udah kamu hubungin belom?" tanya Rya yang mulai panik.
"Udah bu, telponnya nyambung tapi gak diangkat." ujar Agil lagi.
"Bu, titip Barel dulu sebentar.." tambahnya pada Bu Nani sambil memberikan Barel ke pangkuan Bu Nani.
Detik selanjutnya Rya langsung masuk kedalam Rumah dan mencari ponselnya untuk menghubungi Boy, dan benar apa yang dikatakan Agil, panggilannya terhubung tapi tidak diangkat.
Rya terus menghubungi Boy sambil menyelipkan ponsel itu diantara kuping dan bahunya, sambil menunggu panggilan itu terhubung Rya mencari kunci-kunci cadangan kafe yang biasanya Boy taruh didalam laci.
Honey, kamu kemana sih? jangan bikin aku panik dong! ucap Rya sambil berdecak karna panggilannya tidak juga mendapat jawaban.
Rya yang sudah menemukan kunci langsung mengambil tas dikamar lalu memasukan ponsel kedalamnya. Rya langsung setengah berlari keluar menemui Agil dan Bu Nani di teras.
__ADS_1
"Bener.. Boy gak bisa dihubungin.." ucapnya sambil ngah ngeh ngoh. "Gil, saya ikut kamu ke kafe." tambahnya.
"Bu aku titip Barel bentar yaa, aku cemas sama Boy." ucapnya pada Bu Nani.
"Iya Neng, neng pergi aja sana, Barel biar ibu yang jaga.." ucap Bu Nani yang ikutan panik dan cemas.
"Yaudah aku berangkat yaa, kalo barel pengen mimi ada stock ASIP di lemari pendingin." ucap Rya.
Setelah berpamitan dan menitipkan Barel kepada Bu Nani, Rya langsung menaiki motor yang dibawa oleh Agil menuju kafe.
.
.
.
Ponsel Boy terus saja menyala didalam tas kecil yang Boy bawa, puluhan telpon dari karyawan dan juga para penyuplai bahan-bahan untuk di cafe terus saja masuk saat dirinya masih berada didalam rumah sakit, namun Boy tidak menyadarinya karna ponsel Boy masih dalam mode silent.
"Keluarga pasien.." ujar seorang dokter.
Boy yang sedang duduk diruang tunggu langsung berdiri saat melihat seorang dokter yang tadi menangani ibu-ibu yang ditolongnya itu. "Saya bukan keluarga pasien, tapi saya yang bawa ibu itu kemari.." ucap Boy sambil memghampiri dokter itu.
"Silahkan masuk, pak.." ajak dokter itu. "Pasien belum siuman, sepertinya dia sangat shock berat.. Pasien harus masih ditangani pihak medis, namun sebelum itu harus ada penanggung jawab serta ada administrasi yang harus dibayar terlebih dahulu." ucap dokter itu menjelaskan.
"Sepertinya ibu itu habis dijambret tadi, soalnya sebelum saya menolong ibu itu terlihat ada dua orang yang merampas tas si ibu, jadi sepertinya tidak ada identitas atau apapun yang si ibu bawa." jawab Boy sambil memperhatikan si ibu yang terbaring diatas brankar.
"Saya harus pergi sekarang, karna saya ada pekerjaan. Untuk nama boleh cantumkan nama saya, tapi untuk pembayaran saya akan kembali nanti karna saya gak bawa uang cash." tutur Boy panjang lebar.
__ADS_1
"Silahkan langsung kebagian pendaftaran, pak." ucap dokter itu.
Boy segera menuju pendaftaran untuk mengisi data yang diintruksikan dokter tadi, pasalnya hari ini ia benar-benar ada pekerjaan penting. Se-siang ini kafenya belum dibuka karena kunci kafe ada ditasnya, para suplayer juga akan mengirim bahan-bahannya hari ini dan semuanya tidak akan berjalan jika tidak ada dirinya.