Pasangan Muda

Pasangan Muda
Hidup dan mati


__ADS_3

"Sayang.. gak usah di masukin ke hati yaa, ucapan mama tadi.." ucap Boy sambil menggenggam tangan Rya dan menuntunnya menuju istana kecil mereka.


"Mama kok jadi gitu sih, Hon. padahal kan dulu mama sayang banget sama aku, malah aku udah anggap dia ibu kandung aku.." ucap Rya menuturkan kekesalan.


"Iya, aku tau. Mama mungkin lagi ngambek aja gara-gara aku bikin masalah di perusahaan." ucap Boy masih menuntun Rya dan kemudian duduk bersama di sofa tua rumah mereka.


"Dan yang bikin aku kesel lagi, ngapain ada Clara coba! sampek segitunya. Tadi selama kamu di ruangan papa, aku gak disuruh duduk sampe kaki aku kebas banget.." tutur Rya sambil berkaca-kaca. "Ibu sakit di kampung, trs mama Monic juga gak mungkin care sama aku, sekarang mama Rena.." ucap Rya yang tidak melanjutkan kata-katanya dan kemudian malah menangis.


"Sssttt sayang, masih ada aku disini.. ada anak kita juga. Gak boleh sedih, kita harus kuat." ucap Boy sambil menghambur memeluk Rya.


"Terima, maafkan, lupakan." ucap Boy sambil mengelus punggung dan berusaha menenangkan sang istri.


"Nanti kita tunjukin ke dunia bahwa kita layak diberi tepuk tangan, yaaa.." ucap Boy lagi sambil meraup wajah Rya dan saling menatap. "Senyum dong.." ucap nya sambil mengelus pipi Rya. "Nah, gini kan cantik.." hibur Boy saat Rya menarik kedua ujung bibirnya.


"Focus ke baby aja yaa, gak boleh mikirin yang gak penting.." tambah Boy sambil mengecup kening Rya.


"Hon.." ucap Rya lirih.


"Iya sayang?"


"Dedek bayi minta di tengok." ucap Rya sambil tersenyum shy shy cat 🤭


"Ahsyaaap." ucap Boy sambil menaruh tangan di kening dengan pose hormat. "Dengan senang hati.." tambahnya, lalu dengan cekatan Boy menggendong tubuh Rya ala bridal style menuju kamar.


*** Skip 😁


Esok hari, Setelah Boy berhasil menjual arloji pemberian papa Wira, akhirnya Boy bisa bernafas lega. Ia mengantongi uang 55jt hasil penjualan barang tersebut. Kemudian Boy berniat untuk kembali pulang karna sejak tadi pagi, Rya selalu meringis kesakitan di bagian bawah perutnya.


"Sayang.." ucap Boy kaget dan berlari menuju Rya yang sedang berjongkok dilantai. "Kamu kenapa?"


"Sakit banget, kayaknya kontraksi deh." ucap Rya.


"kontraksi? maksudnya?" beuh calon bapak yang payah, masa gak tau kontraksi?!.

__ADS_1


"Aku mau lahiran, duuhhh buruan sakit banget." ucap Rya lirih sambil inhale exhale berulang.


"Lahiran?" ucap Boy yang malah celingukan.


"Boy yaampun! cepetan aku gak kuat!" tegas Rya yang melihat Boy malah seperti orang blo'on.


"Aku harus gimana ini?" tanya Boy.


"Bawa tas perlengkapan baby, trus kita ke bidan sekarang! cepet! mules banget!" ucap Rya semakin gemas ditengah rasa sakitnya.


"Mules?"


"Boy!!" Rya menatap tajam ke arah Boy.


Setelah drama panik usai, akhirnya Boy membawa Rya ke sebuah klinik bersalin menggunakan mobil tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah mereka. Beruntungnya Rya berteman baik dengan tetangganya, sampai-sampai tetangga itupun ingin ikut menemani pasangan muda itu.


"Mules nya uda sering belum neng?" ucap bu Nani yang menemani Rya di jok belakang.


"Iya, uda berapa menit sekali ini, Aduh sakit banget." ucap Rya sambil mengusap dan meniup-niup perutnya itu. "Honey, cepetan." ucap Rya pada Boy yang sedang menyetir pelan sekali.


"Yaaahh, aku pipis. Maaf ya bu, gak ketahan ini. jadi pipis di mobil ih malu-maluin." ucap Rya saat merasakan air mengalir di inti tubuhnya. "Boy, cepetaaaaaan!"


"Bukan pipis, neng. Itu air ketuban!" ucap bu Nani menepis perkataan Rya.


Dan akhirnya mereka sampai di sebuah klinik bersalin, Rya langsung digendong Boy menuju sebuah ruangan. "Tolong, istri saya mau lahiran." ucap Boy pada seorang petugas jaga sementara bu Nani mengikuti mereka sambil membawa tas perlengkapan bayi.


"Sebelah sini." ucap penjaga itu menuntun Boy.


Detik selanjutnya, para perawat dan bidan mulai hilir mudik mempersiapkan alat medis dan membantu Rya memposisikan tubuh.


"Ketubannya udah pecah, dok." ucap bu Nani yang ikut masuk ke ruangan itu.


"Kapan ketubannya pecah?" tanya bu bidan.

__ADS_1


"sekitar 10 atau 15 menit yang lalu." tutur bu Nani lagi. Sementara Boy hanya mematung sambil bergetar di samping kepala Rya, tangan mereka saling menggenggam.


"Permisi, yaa.." ucap bu bidan sambil menggunakan sarung tangan karet kemudian menyingkap bagian bawah Rya dan memasukan jarinya ke dalam inti kewanitaan Rya. "Sudah bukaan 8, sebentar lagi sempurna.. latihan tarik dan buang nafas dulu yaaa.. Bapaknya sudah siap? semangatin terus ya ibuknya." ucap Bidan itu.


"Sakit banget.." ucap Rya lirih sambil menatap Boy dan sekali kedip, ada bulir bening yang jatuh dari mata Rya.


"Kuat ya sayang, kita mau liat dedek bayi lho. Harus semangat.." ucap Boy sambil mengusap air mata dan juga keringat Rya. Ia mencoba menguatkan Rya meskipun sebenarnya dia juga merasa cemas dan takut.


"Boy, kalo aku gak selamat.. kamu..." ucap Rya tidak selesai karna Boy buru-buru mengehentikannya.


"Kamu sama dedek pasti baik-baik aja. Nanti kita pulang bareng, dan jadi keluarga kecil yang bahagia." ucap Boy sambil tersenyum.


"Aku ngabarin papa sama papa mertua dulu ya.." pamit Boy sambil mengecup kening Rya. "Bu Nani, titip Rya sebentar ya.. saya mau ngabarin keluarga dulu."


Detik selanjutnya, rasa sakit di perut Rya semakin hebat. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Rya sudah semakin dekat menuju kelahiranya. Boy sudah berada di belakang kepala Rya, dan bidan serta perawat sudah berada di depan Rya. mereka akan memulai proses bersalin seiring rasa mules yang memaksa Rya untuk mengejan.


"Dorong lagi bu.." pinta bu bidan.


Rya mencengkram kedua lengan Boy dan mendorong sekuat tenaga. "Aaaaaaaggghhh.." teriak Rya berusaha mendorong bayi itu dari perutnya.


"Tarik nafaaaaas, doroooong." pinta bidan itu lagi.


Berulang kali kegiatan itu berlalu, namun sang jabang bayi belum juga sampai di dunia. Rya sungguh bertaruh hidup dan mati sekarang.


Ayo sayang.. Bunda sama ayah udah gak sabar ketemu kamu.. jangan nyusahin bunda ya, ayo kita berjuang bareng-bareng. Gumam Rya dalam hati.


Satu kali lagi dorongan, akhirnya sebuah kepala berambut lebat nampak di bibir vag*na Rya. bu Bidan langsung meminta Rya mendorong lebih kuat lagi. "Ayo bu, sedikit lagi.. dorong yang kuat.."


"Aaaggghh.." jeritan dan dorongan yang panjang akhirnya si jabang bayi berhasil keluar dari persemaianya selama sembilan bulan 10 hari. bu Bidan kemudian meminta Rya mendorong sekali lagi untuk mengeluarkan plasenta yang masih tertinggal di dalam.


****


Tebak..

__ADS_1


bayi nya cewe atau cowok yaa..?


next part❤️❤️❤️


__ADS_2