
Rya sudah sampai dikafe dan benar saja Boy memang tidak ada disana. Rya memberikan kunci kepada Agil untuk membuka pintu utama dan juga pintu gudang untuk memasukan beberpa pasokan yang dikirim ulah para penyuplai.
"Untuk pembayaran seperti biasa aja yah, pak. Nanti suami saya yang urus, saya minta notanya aja." ucap Rya kepada suplaier.
"Oke, bu. Lain kali kalo mau kesiangan gak usah minta pagi-pagi banget, saya berapa jam lho disini." geram bapak itu dengan keringat yang mengembun didahi.
"Iya iya, saya minta maaf yaa.. Ini cuma miss komunikasi aja, lain kali gak bakal terulang." ucap Rya.
Detik selanjutnya Rya masuk kedalam kafe dan membantu para karyawan yang langsung sibuk berbenah mempersiapkan kafe itu sebelum banyak pengunjung datang.
"Kamu selesaiakan yang disana aja, biar ini saya yang kerjain.." ucap Rya kepada salah satu karyawan.
Mereka semua saling bahu membahu mengerjakan pekerjaan itu, dan setelah preparenya selesai Rya langsung duduk di kursi kasir sambil menge-cek ponselnya.
Boy kemana sih? belum ngabarin juga, ditelpon susah amat. Ya tuhan, lindungi dia dimanapun dia berada.. Ucap Rya berbicara sendiri.
Namun bukannya tenang, kata-kata itu malah membuat Rya semakin gusar dan kesal. Kemana suaminya itu? kalo memang ada perlu atau apapun, mengapa tidak memberitahukan dirinya? Rya jadi mondar mandir dibuatnya.
Papan yang digantung dipintu kini sudah dibalik menjadi We are open dari luar. Para pengunjung mulai berdatangan ke tempat itu, tapi Boy belum juga datang.
Rya mencoba tenang dan mengambil alih sementara pekerjaan Boy. Rya mencoba memfokuskan pikirannya walau sebenarnya pikirannya berlarian memikirkan dimana Boy dan bagaimana Barel dirumah.
@Satu jam kemudian
Kafe itu mulai ramai, terkihat para pelajar yang menguasai beberapa table sambil mengerjakan tugas dan sekedar ngopi. Banyak juga para ojek online yang melakukan take away.
Dan disela kesibukan itu, tiba-tiba Boy datang dan berlari menuju tempat dimana Rya berada.
"Sa-sayang.. kok.. kamuh.. disinih.." ujar Boy sambil ngos-ngosan.
"Kamu ngapain disini? Kemana aja pak Boss?" ujar Rya yang kesal.
__ADS_1
"Maaf sayang, tadituh aku nolongin ibu-ibu yang dijambret dulu, aku bawa dia kerumah sakit dan sampe sekarang ibu nya masih belum sadar.." jelas Boy sambil mengatur nafas.
"Bohong! kenapa kamu gak ngabarin aku? ditelpon juga gak diangkat-angkat, gak mau diganggu ya? aku sampe kesini lho, ninggalin Barel.. kamu bikin aku panik dan cemas gajelas!" ujar Rya menuturkan kekesalannya.
"Kamu nelponin aku?" ucap Boy sambil membuka resleting depan tasnya dan mengeluarkan ponsel itu. "Astaga!!" ucap Boy sambil melongo melihat notifikasi dismartphone miliknya. "Maaf sayang, hp nya masih mode silent. Daritadi aku belum buka hp." tambah Boy.
"Yaudahlah, kamu udah disini, aku mau pulang aja. Kasian Barel.." ujar Rya dengan nada ketus.
"Heeeeyy, jangan marah dong.. Ia aku salah, aku minta maaf. Aku lalai dan aku gak ngabarin kamu, aku panik tadi.. Akujuga buru-buru tapi kan akujuga harus nunggu ibu itu ditangani karena aku yang bawa dia kerumah sakit itu.." ujar Boy sambil meraih tangan Rya.
"Kalo kamu gak percaya, nanti sore atau maleman aku mau kesana lagi. Nanti kamu ikut aja, biar gak salah paham, yaa.." ujar Boy lagi dengan lembut.
"Iya tapi sekarang aku harus pulang, aku gak biasa ninggalin Barel, aku khawatir sama dia." ucap Rya dengan ekspresi yang masih sama.
"Iya boleh, tapi jangan manyun gitu dong,- Maaf yaaa.." ucap Boy sambil mengelus kepala Rya. "Yaudah aku anterin, yuk.." tambahnya.
"Gak usah, disini lagi rame, jangan ditinggal-tinggal. Aku pesen ojol aja.." ujar Rya.
Rya akhirnya pulang dengan kekesalannya terhadap Boy, tapi walaupun begitu ia merasa lega karena lelakinya itu ternyata baik-baik saja.
Pukul 7 malam..
Sesuai janji Boy kepada Rya tadi siang, setelah pulang kerja dan makan malam.. Boy mengajak Rya untuk pergi kerumah sakit menjenguk ibu yang tadi ditolong oleh Boy. Rya sebenarnya merasa malas karena lagi-lagi dirinya harus meninggalkan Barel dan menitipkannya kepada Bu Nani, tapi Boy terus memaksa Rya agar tidak teradi kesalah pahaman yang berkepanjangan.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai dirumah sakit tempat yang Boy maksud. Boy langsung mengajak Rya ke tempat dimana Bu Vina berada.
"Gimana keadaan pasien yang tadi pagi?" tanya Boy kepada salah seorang yang berpapasan dengannya.
"Pasien yang bapak bawa tadi pagi, ya?" tanya balik suster itu. "Pasien bernama Bu Vina, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap karena saat sudah siuman tadi Bu Vina berhasil menghubungi putranya, dan putranya sudah datang dan mengurus Bu Vina.." tutur suster itu menjelaskan.
"Oh gitu, sus.. Di ruangan yang mana ya? saya mau jenguk dan memastikan ibu itu baik-baik aja.." ujar Boy.
__ADS_1
"VIP mawar, no 103.. lewat sini.." ucap suster itu sambil menunjukan jalan.
Boy dan Rya mengikuti langkah suster itu hingga akhirnya mereka sampai dipintu sebuah ruangan yang katanya ditempati Bu Vina itu.
"Sebentar saya cek dulu sebentar, takutnya Bu Vina sedang beristirahat.." ucap suster itu yang kemudian masuk kedalam ruangan itu.
Boy dan Rya hanya duduk menunggu suster itu kembali, namun setelah beberpa menit pintu itu tidak juga dibuka lagi.
"Kok lama sih, Hon.. ngecek doang kan?" tanya Rya sambil melihat jam dipergelangan tangannya berkali-kali.
"Sabar, mungkin lagi diperiksa.." ucap Boy sambil menatap pintu itu.
"Kalo lama mending kita pul..."
Ceklek!!
Belum selesai berbicara pintu itu sudah dibuka kembali oleh suster yang tadi membawa Boy dan Rya ketempat itu.
"Silahkan masuk, Bu Vina menunggu didalam.." ucap suster itu sambil tersenyum.
"Baik, makasih sus.." ucap keduanya berbarengan.
Boy dan Rya memasuki ruangan itu sambil membawa keranjang buah yang tadi dibelinya.. dan terlihat Bu Vina sedang setengah duduk di atas brankar sambil tersenyum menyambut kedatangan Boy dan Rya.
"Sudah baikan, bu?" tanya Boy kepada Bu Vina dan Bu Vina hanya mengedipkan matanya sambil tersenyum.
"Makasih, nak.. kamu udah nolong ibu, padahal kamu gak kenal sama ibu.." ujar Bu Vina sambil menatap Boy dengan nanar.
"Jangan sungkan bu, kenalin nama saya Boy dan ini istri saya.. namanya Rya.." ujar Boy sambil tersenyum juga.
Mereka bertiga berbincang-bincang santai seolah mereka adalah sanak saudara yang sangat akrab, dan tanpa disadari Boy dan Rya, ada seseorang yang sedang menguping dan memperhatikan mereka dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1