Pasangan Muda

Pasangan Muda
Minta restu


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


 


Sesuai janjinya beberapa waktu lalu, hari ini Boy akan menepati ucapannya. Malam ini ia akan membawa Rya ke rumah untuk makan malam bersama orangtua Boy, ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi nantinya.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, dan di sambut hangat oleh mama Rena.


"Hallo cantik, apa kabar?" sapa mama Rena sambil cipika cipiki.


"Baik tante." ucap Rya tersenyum canggung. Dadanya terasa berdebar kencang.


"Papa dimana?" tanya Boy


"Sebentar lagi papa turun, ayo duduk.." ajak mama Rena.


Boy menarik kursi dan mempersilahkan Rya untuk duduk, mereka berbincang santai sambil menunggu papa keluar dari kamar.


"Kelamaan yaaa.." ucap papa Wira sambil menuruni anak tangga.


Rya berdiri dan berjabat tangan sambil saling menanyakan kabar lalu mereka kembali duduk dan memulai acara makan malam.


Separuh piring sudah ludes, Boy mulai mengumpulkan keberanian untuk mulai membicarakan maksud dan tujuan makan malam ini.


"Ekhem.. maa paa, ada yang ingin Boy omongin.." Boy mengunyah makanannya lebih cepat, lalu menatap Wira dan Rena bergantian.


Rya menatap Boy dan berhenti makan, rasa tegangnya kini bertambah berkali-kali lipat.


"Ada apa Boy? kok tegang banget.." sahut mama Rena.


"Hmm, Boy dan Rya.. Kami akan menikah.." ujar Boy.


Uhuk..uhuk..uhuk.. Wira sangat kaget hingga tersedak makanan.


"Pelan-pelan pah.." Rena memberikan segelas air untuk Wira. "Kamu gak salah Boy? kalian kan masi muda."


"Iya, kamu juga baru lulus. belum bekerja, belum ada pengalaman apapun." ucap Wira.


Mereka mulai berdebat kecil, dan Rya hanya mendengarkan tanpa berkomentar.

__ADS_1


"Boy akan menikahi Rya paa, karena sekarang dia sedang mengandung anak Boy.."


Wira dan Rena menghentikan acara makan itu, ia menatap Boy dan Rya dengan penuh rasa tidak percaya.


"Jangan bercanda!" nada bicara Wira mulai membentak.


"Boy serius, sangat serius paa." ujar Boy lagi.


"Apa benar Rya?" tanya Rena sambil menatap Rya dan Rya hanya mengangguk.


Wira langsung berdiri dan mengepal kan tangannya. ia terlihat begitu emosi, seketika suasana menjadi hening.


"Anak tak tahu di untung! malah bikin malu keluarga! mau taro dimana muka papa? kamu mencoreng nama kelurga atmadja!" teriak papa Wira sambil mendengus kesal.


"Maafin Boy paa, tapi mau bagaimana pun sekarang Rya lagi ngandung anak Boy dan Boy harus tanggung jawab." ucap Boy sambil menatap Wira.


"Memangnya kalian sudah siap berumah tangga? bisa apa kalian hah? rumah tangga tak semudah yang kalian bayangkan!! apalagi harus langsung mengurus anak!" ucap Wira lagi.


"Boy laki laki dan Boy akan berusaha sekuat tenaga buat ngidupin anak istri boy nanti nya, Boy mohon restuin kami paa, maa.." Boy memohon.


Suasana menjadi mencekam seiring perdebatan Boy dan Wira dan tak lama kemudian suara isakan Rena memekik diruangan itu.


"Sudah cukup paa, percuma kita marah dan kecewa itu semua gak bakal ngerubah kenyataan. Boy memang harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya."


"Bawa Rya keatas!" Wira berteriak dengan wajah merah padam dan urat yang menggaris tegang, lelaki itu terlihat sangat emosi.


"Paaa.." Rena menyela.


"Cepat!!!"


Mereka semua tertegun, karna tak pernah melihat Wira sampai semarah ini, Lalu Rena hanya menuruti membawa Rya keatas. "Jangan pukul Boy paa.." Rena mewanti-wanti sebelum akhirnya menaiki anak tangga sambil sesekali melihat ke arah Boy, dan Boy hanya mengedipkan dua mata mengisyaratkan agar kedua wanita itu mengikuti alurnya.


**Rya


 


Rya sudah sampai di kamar atas, mama Rena mempersilahkan Rya untuk duduk. "Sudah berapa bulan usia kandungan nya?" tanya Rena.


"Rya belum cek ke dokter tan, Rya baru test pack aja." jawab Rya sambil masih menunduk malu.

__ADS_1


"Ryaaaa.. memangnya kamu sudah siap berumah tangga? menjadi istri dan ibu secara bersamaan?" tanya Rena lagi.


"Hm.. siap gak siap, aku harus siap tante.. daripada aku harus gugurin kandungan ini kan." ucap Rya sambil mengusap perut yang berisi nyawa itu.


"Kehidupan suami istri berbeda dengan pacaran Rya, butuh mental kuat dan kesabaran penuh." ujar Rena.


"Iyaa tan, bagaimana pun itu Rya akan menerima dan menanggungnya. karna ini semua buah dari kelakuan Rya.." Rya berujar tegar sambil memejamkan mata dan membuang nafas berat. "Tapi tante mau kan terima Rya jadi menantu tante? jadi ibu sari cucu tante?" tanya Rya.


"Sebenarnya tante sangat menyukai kamu, Boy banyak berubah setelah kenal kamu. Dia juga selalu ceria dan sikap keras kepalanya perlahan hilang.. Tante hanya berharap semoga kalian bahagia selalu, mungkin dengan ini kehidupan tante juga berubah. Anggota keluarga akan bertambah, ada kamu dan anak kalian nanti.." Rena berujar dengan sangat bijak, membuat senyuman tersungging diwajah keduanya.


"Makasih tante.." Rya menggenggam tangan Rena dan menitikan air mata karena terharu, lalu dengan spontan Rena memeluk Rya.


 


**Boy


 


Bugh!!! sudah pukulan kesekian yang Wira berikan untuk Boy, menbuat wajah anak itu berdarah-darah dan membiru ke-unguan, ia sangat emosi dan tak bisa mengendalikan amarahnya.


Sementara Boy hanya diam, menerima kemarahan sang ayah, karna ia tahu disini ia yang salah.


"Papa akan merestui tapi dengan satu syarat! papa akan mencabut semua fasilitas yang papa berikan termasuk ATM!" ujar Wira dengan nafas yang naik turun seiring gejolak amarahnya.


"Silahkan! Boy siap kehilangan segalanya asal bukan calon anak dan istri Boy." Boy berujar tegar meski raganya sudah lelah dihantam terus menerus.


"Baik, kita lihat seberapa kuat kaki mu menopang hidup mu!" tantang Wira.


Wira kembali mendaratkan pukulan hingga membuat Boy tersungkur. Namun beberapa saat kemudian Wira tersadar dengan apa yang ia lakukan pada anak semata wayangnya itu. Wira kemudian menjatuhkan diri kelantai, menarik bahu Boy kemudian menatap wajah anak itu. "Booooy, maafin papa.." Wira merangkul Boy yang ambruk di lantai. "Maafin papa."


"its okay paa, Boy terima ini sebagai hukuman dari papa tapi dengan atau tanpa restu mama papa, Boy akan tetap menikahi Rya.." ujar Boy.


"Kamu memang harus bertanggung jawab nak, lakilaki sejati berani mengakui kesalahan dan mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya." Wira membantu Boy untuk berdiri. "Ajak Rya dan mama kemari, kita bicarakan semua nya dengan kepala dingin."


"Baik paa.."


Boy langsung berlari menuju kamar atas, dia merasa senang karna secara tidak langsung Wira sudah memberinya lampu hijau.


Thx god! tinggal step selanjut nya.. Gumam Boy.

__ADS_1


__ADS_2