Pasangan Muda

Pasangan Muda
Keadaan


__ADS_3

Untuk ke sekian kalinya Rya mendengar kata-kata mama Monic yang selalu menggaris bawahi bahwa dirinya dan sang ibu hanyalah sebuah kesalahan dimasa lalu membuat Rya sedikit geram kali ini. Padahal segalanya bukan murni kesalahan papa Chandra ataupun ibu Lita, apalagi Rya.


Papa Chandra menikahi ibu Lita saat mama Monic meninggalkan papa Chandra, yang pada saat itu tidak punya apa-apa. Dan tiba-tiba mama Monic kembali saat papa Chandra sudah menikah siri dengan ibu lita dan mendapat warisan bukan?


*Silahkan netizen yang menilai 😁🤣


Rya bukan kesalahan, dirinya lahir bukan dari hasil hubungan gelap atau sebuah perselingkuhan atau semacamnya.


"Berhenti nyebut aku sama ibu adalah sebuah kesalahan!" ucap Rya sambil menatap tajam ke arah mama Monic.


"Aku gak suka ya, kalo mama terus-terusan sebut-sebut ibu aku seolah dia salah dan aku adalah sebuah kesalahan yang hadir dan jadi benalu diantara kalian!" imbuhnya dengan nada yang lumayan bergemuruh karena emosi.


"Jangan kurang ajar kamu, Rya! kamu bisa hidup sampai sekarang itu karena saya yang membesarkan kamu!" timpal mama Monic.


"Hidup sekedar hidup, hewan dihutan juga hidup mah! Mama memang membesarkan aku, merawat aku, tapi bukan aku yang minta mama lakuin itu! Lagipula mama menatapku cuma sebagai kesalahan bukan? gak ada kasih atau sayang didalamnya." ucap Rya sambil bergetar.


Astaga, apa yang baru saja Rya ucapkan?


Rya tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya ucapkan kepada wanita yang merawatnya sejak kecil namun juga memisahkan dirinya dengan ibu kandungnya itu.


Wajah Rya terasa panas, emosi yang sudah bertahun-tahun ia tahan rasanya ingin meledak saat ini juga. Jika harus diulik, Rya yang seharusnya menyalahkan mama Monic karena keegoisannya itu.


Dirinya harus berpisah dengan sang ibu saat pertama kali tiba didunia, dengan keserakahan yang ingin 100% menguasai papa Chandra.

__ADS_1


Namun disatu sisi Rya juga memendam rasa yang bisa dibilang benci untuk ibunya, mengapa dia membiarkan papa dan mama membawanya? mengapa selama belasan tahun ia tidak mencarinya? belum reda rasa rindu dan benci itu, ibu kembali menghilang. Rya merasa dirinya yatim piatu sekarang.


"Bukan nya mama selalu bilang kalo mama natap aku, itu bikin mama kembali mengingat luka yang papa buat bersama ibuku?" masih Rya yang menguasai percakapan itu.


Sungguh, kata-kata itu tidak dirancang, kata-kata itu murni mengalir begitu saja.


"Sudah hukum alam bahwa seorang ibu tiri itu tidak akan bisa menyayangi seorang anak Tiri sama seperti dia menyayangi darah dagingnya sendiri, Rya. Tapi bagaimanapun itu mama...


"Cukup! Aku mohon hentikan drama ini dan biarin kami bahagia dengan cara kami!" ucap Rya memungkas kata-kata mama Monic yang belum selesai dengan nada lumayan ngegass.


"Aku udah bahagia sama Boy dan Barel, aku udah ngubur masa lalu itu dan aku mohon jangan mengorek luka lama lagi."


Plukk!


Sungguh, Bayangan kehidupan selama belasan tahun lalu itu tiba-tiba tergambar jelas. Saat Rya hidup dalam pengasuhan ibu tiri dan ayah yang kurang peduli, jauh dari ibu kandung dan siapapun kecuali mereka. Meskipun Rya selalu mencoba ikhlas dengan takdir kehidupannya, tetap saja.. Luka bathin itu ada.


***


Percakapan antara Rya dan mama Monic tadi masih saja membuat Rya mematung, meski mama Monic sudah pamit sejak tadi dengan keangkuhan dan egois yang menganggap diri masing-masing manusia versi paling benar. Rya meratap, menilai dan menerka-nerka, apa yang sudah ia lakukan? salahkah?


"Sayaaaaaang.." panggil Boy sambil duduk diranjang, disamping Rya dan mengelus rambut Rya. "Udah dong, jangan bengong terus.. Bobo yu... udah malem lho ini.." tambah Boy sambil merapihkan anak rambut Rya yang berantakan.


"Salah gak sih tadi aku kayak gitu ke mama?" tanya Rya dengan pandangan lurus kedepan.

__ADS_1


"Udahlah, gak usah dijadiin beban pikiran.. apapun kata orang, gimanapun penilaian orang tentang kamu, yang penting bagi aku, kamu dimata aku udah sempurna banget. Serius deh.." Hibur Boy.


Mungkin perbuatan Rya salah, meskipun mama Monic hanyalah ibu tiri, namun sudah sepantasnya Rya menghormati dan bersikap sopan. Tapi Boy juga tidak bisa menampik bahwa terlalu banyak luka yang Rya lalui sejak dulu.


Sudahlah, mungkin lagi pada emosi, pada melow, wajar.


"Liat aku deh.." pinta Boy sambil menggenggam tangan Rya.


Dengan menghela nafas, Rya mengikuti permintaan Boy. Rya duduk dan menatap Boy.


"Kamu gak boleh murung, Aku kan udah janji bakal bikin hidup kamu bahagia, aku bakal berusaha sekuat tenaga, aku akan berjuang semampu ku, aku gak mau liat kamu manyun-manyun gitu. Apapun kata orang, yang paling kan kata akuuu." ujar Boy sambil menowel bibir Rya yang mengerucut.


"Maafin aku.." ucap Rya sambil menghambur ke pelukan Boy. "Aku gak ngerti situasi ini, aku gak tau harus gimana.." imbuhnya sambil masuk ke pelukan Boy semakin dalam lagi.


Kehidupan rumit dan keadaan sulit yang sebetulnya memang belum harus mereka lalui, pengalaman hidup yang rasanya pahit melulu, namun mereka sudah memilihnya. Semoga keadaan mampu mendewasakan..


"Kamu gak boleh sedih, gak boleh banyak pikiran.. Liat deh.. kita bertiga, dan mungkin berempat sama yang ini.." ucap Boy sambil mengelus perut rata Rya.


"Ish..." ucap Rya sambil mencubit pelan perut Boy dan membuat ekspresi nya yang manyun, kesal juga menahan tawa. Pokonya gemay gitu, kata si Boy ntu ugha. 😅


Beruntungnya, Rya memiliki Boy. Pria yang sangat mencintai dan dicintainya itu, pria yang kini menjadi suami dan menjadi segala yang Rya tidak dapatkan dari siapapun. Salah atau benar, benar atau salah yang penting saat ini mereka memilih untuk egois demi bahagia yang mereka impikan, entah bahagia macam apa yang jelas tunggu episode selanjutnya ajalah 😁


#Maaf kalo gak nyambung😅

__ADS_1


__ADS_2