
Bulan berikutnya omset Boy kian melonjak, setelah memulai bisnisnya selama 2 bulan ini Boy bisa bernafas lega karna semuanya benar-benar diluar ekspetasi. Boy sudah memiliki 2 pekerja sekarang, satu untuk waiters, satu untuk petugas kebersihan. Dirinya hanya berkutik di kasir dan hanya sesekali membantu pekerjaan jika memang tempat itu sedang benar-benar ramai.
Makanan dan minuman yang disediakan ditempat itu terbilang mantap namun harga yang ramah dikantong kalangan bawah menjadi penyebab banyak orang berdatangan ke tempat itu, apalagi dikalangan pelajar dan mahasiswa. Apalagi Boy yang selalu menambahkan menu favorit yang kekinian, membuat tempat itu makin hitz.
Boy terlihat sibuk dengan kalkulator menghitung jumlah pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan yang didapatnya hari ini. Dan Boy berdecak senang saat melihat keuntungan itu lagi-lagi diluar dugaannya.
"Kayaknya udah cukup buat beli box bayi sama stroller deh.." gumamnya berbicara sendiri saat menghitung keuangan.
Boy dan Rya sebisa mungkin me-manage keuangan mereka agar tidak terlalu boros dan mengganggu modal yang menjadi tiang kafe itu. Mereka hanya menikmati seperlunya, dan mereka sudah sangat bersyukur karena kehidupannya mulai menemukan titik cahaya yang terang.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, stock hidangan di kafe Boy sudah hampir habis semua sementara para pengunjung masih banyak yang datang dan pergi. Boy memutuskan untuk menutup awal kafe itu karena dirinya berniat membeli hadiah kecil untuk dibawa pulang.
"Pak, pengunjung yang disana marah-marah.. saya udah jelasin kalo stok di pantry udah habis semua, tapi dia malah bentak-bentak.." ujar salah satu pegawai Boy yang bernama Agil sambil menunjuk ke arah meja pengunjung yang ada dipojok.
"Yang mana?" tanya Boy sambil mencari arah yang ditunjuk Agil.
"Itu tuh pak, cewek yang pake baju item.." ujar Agil sambil masih menunjuk.
"Yaudah kamu balikin gantungan di pintu dulu kalo kita udah tutup, biar cewek itu saya yang urus." ucap Boy sambil menatap wanita diujung sana yang membelakanginya.
"Baik pak." ucap Agil yang kemudian langsung melakukan perintah Boy.
Boy mulai melangkahkan kaki nya menuju meja yang dimaksud Agil tadi. Dan benar.. wanita itu tampak terus menggerutu dihadapan teman-teman yang duduk bersamanya.
"Permisi.. ada yang bisa saya bantu.." ujar Boy saat tiba dimeja itu.
"Ini, gue pengen kopi yang...." tiba-tiba wanita itu menghentikan ucapanya saat melihat ke arah sumber suara didekatnya. "Eh..Boy? ngapain lu disini? lu kerja disini?" tanya wanita itu.
"Stok kopi, makanan, minuman kami sudah habis, mbak. Dan 15 menit lagi kafe ini mau tutup. Jadi kalo mbak sudah selesai dan membayar tagihan, silahkan pulang. Jangan buat kebisingan disini.." Ucap Boy sedikit kesal karna wanita itu adalah Clara and the geng. Lo kayak jailangkung amat sih! kenapa harus ketemu makhluk ini coba? Gumam Boy dalam hati.
__ADS_1
"Maksudnya apa nih? lo ngusir gue?" jawab Clara sambil berdiri.
"Maaf, mbak. Prosedur kafe ini kalo makanan sudah habis, 20 menit kemudian kafe nya ditutup." jelas Boy lagi masih dengan nada santai.
"Oke gue pergi, tapi gue pengen ngobrol empat mata dulu sama lo.." pinta Clara.
"Maaf gak ada waktu, saya harus pulang." jawab Boy.
"Yaudah gue gak bakalan pulang, dan lo juga gak bakal pulang kan kalo masih ada pengunjung disini?" ujar Clara sambil duduk kembali di kursi.
Maunya apasih ini kuntil? Gumam Boy dalam hati.
"Kalo gitu saya panggil polisi aja." ujar Boy. Eh kalo panggil polisi kan harus ada duitnya? Gumam Boy dalam hati. Daripada ribet gue ladenin dulu deh, masih jam 7 inih..
"Silahkan aja." ujar Clara dengan santuy.
"Yaudah lo mau ngomong apa?" tanya Boy yang milih mengalah.
"Nah gitu dong!" jawab Clara. "Yaudah geng, lo semua tunggu di mobil aja, gue ada perlu dikit.." tambahnya kepada teman-temanya.
"Cepet, to the poin." ucap Boy yang risih dengan Clara.
"Awas ya kalo obrolan lo gak penting!" ucap Boy lagi.
"Boy.. Apa lo gak mikirin mama Rena?" tanya Clara kemudian.
"Maksud lo?" tanya Boy dengan alis terangkat satu.
"Soal lo lebih cocok sama gue." jawab Clara.
Hahaha Boy malah tertawa dibuatnya.
"Kok ketawa sih? gue serius. Gue mau kok sama lo.." ujar Clara.
"Gue yang gak mau! udahlah gak penting, gue mau balik!" ucap Boy sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Tunggu! lo mau kemana sih? bentar kek.." ucap Clara sambil menarik lengan Boy.
"Jangan nyentuh gue!" geram Boy yang sudah kesal pada Clara.
"Boy lo liat gue dong!" ucap Clara sambil ikut berdiri. "Gue lebih cantik dari Rya, badan gue lebih oke, otak gue lebih cerdas. Rya pasti jelek kan sekarang? apalagi body nya yang abis lahiran? mending sama gue. Gue gak bakal malu-maluin kalo lo bawa kemana-mana." beber Clara.
"Tutup mulut lo! gue udah sering bilang berhenti ngarepin gue! gue uda berkeluarga! kalo otak lo emang cerdas, pakek dong!" timpal Boy yang mulai ngegas.
"Lo pasti diguna-guna ya sama cewek kampungan itu sampe lo cinta banget sama dia? buka mata lo! gara-gara Rya lo harus jadi pelayan kayak gini. malu-maluin nama Atmadja tau gak!" ucap Clara.
"Jaga mulut lo sebelum gue bertindak kasar sama lo!" balas Boy.
"Lagian apa sih yang lo harepin dari Rya? badan pasti udah lemak semua, tiap lo pulang badan bau bawang, dasteran ewww.. mending lo tinggalin dia dan balik ke gue. Mama Rena juga pasti dukung." ledek Clara.
"Lo juga cewek, lo bakal ngalamin itu semua. dan semoga aja nanti lo gak ditinggalin seperti yang lo bayangin terjadi sama Rya. Pergi sebelum gue kehilangan kesabaran gue!"
"Rya ituu...."
Plakk!! Boy kelepasan menampar Clara hingga tubuhnya jatuh ke kursi dengan benturan lumayan keras.
"Sekali lagi lo hina Rya, habis lo! dan satu lagi, jangan pernah doktrin nyokap gue!!" ucap Boy yang sudah sangat geram.
"Aaaaww.." Clara meringis sambil mengusap pipinya yang terasa perih. "Lo kok jadi bar-bar gini sih?"
"Pergi sebelum gue ngelakuin yang lebih parah! PERGI!!" Teriak Boy.
"Lo bakal nyesel, Boy. Lo bakal nyesel!" ucap Clara sambil pergi karna ketakutan melihat sorot tajam dari mata Boy.
"Sekali lagi lo ganggu hidup gue, gue pastiin lo bakal nyesel pernah lahir didunia!" teriak Boy pada Clara yang mulai meninggalkan tempat itu.
Sialan!! Ucap Boy sambil memijit pelipisnya. Sementara kedua pegawai Boy hanya mematung melihat aksi Bos nya itu, mereka tidak menyangka Bos nya yang baik dan tenang itu ternyata bar-bar.
"Kalo udah selesai, kalian boleh pulang.." ucap Boy yang menyadari pegawainya sedang memperhatikan dirinya dengan melongo.
"Ba-baik, pak." ucap keduanya berbarengan.
__ADS_1
Mood Boy seketika berantakan karna Clara tadi, ia benar-benar sangat marah dan kesal. Jika saja Clara adalah pria, Boy pasti sudah membuatnya babak belur.
Setelah selesai menutup kafe, Boy meninggalkan tempat itu dan bergegas pulang. Niatnya untuk membeli hadiah diurungkanya jadi besok saja, atau lebih tepatnya di episode selanjutnya😁